Bio Farma Dukung Pencegahan Penyakit Tifoid di Indonesia

By biofarma

“Setiap anak berhak untuk mendapatkan kesempatan hidup yang sehat dan produktif, dibanyak negara Asia dan Afrika, Invasive Salmonelles masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, kita perlu bekerja sama untuk mengembangkan alat diagnostik, serta Vaksin yang efektif dan membuat pengobatan lebih mudah dijangkau bagi masyarakat yang membutuhkan di dunia” menurut Dr. Mohamad Subuh, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan Indonesia, melalui rilis resmi konferensi Internasional Tifoid ke 9 di Nusa Dua-Bali, yang berlangsung 30 April-3 Mei 2015. Brian Davis, perwakilan dari Coalition against Typhoid (CaT) pada pembukaan International konferensi menyebutkan bahwa “Saat ini, terdapat  2 (dua) produk Vaksin Konjugat yang telah memiliki ijin edar di India, dan transfer teknologi telah dilakukan kepada 3 (tiga) produsen yang akan mulai melakukan uji klinik dalam 12 bulan ke depan, satu diantaranya PT Bio Farma – Indonesia”. Sementara itu, Jum’at, 1 Mei 2015 dr.Bonita Effendi dari Universitas Indonesia menyampaikan topik mengenai karakteristik demografi profil pasien Demam Tifoid di Indonesia, disebutkan bahwa risiko kematian akibat Tifoid adalah 1,25%  dan masih ada beberapa provinsi di Indonesia yang angka penderita tifoid nya diatas 1,6%  antara lain   Aceh, Bengkulu, NTT, NTB, Banten, Jabar,  papua barat, papua, Gorontalo, Kaltim. Hal ini diakibatkan karena  rendahnya kesadaran masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan sebelum melakukan persiapan makanan, juga akses air bersih khususnya penggunaan air bekas pada berbagai kebutuhan rumah tangga di Indonesia. Mahendra Suhardono, Direktur Marketing Bio Farma, menambahkan  disela-sela pembukaan Konferensi International ke 9 Vaksin Tifoid di Nusa Dua Bali, “sebagai BUMN yang sampai sekarang fokus pada penyediaan vaksin untuk memenuhi  kebutuhan vaksin  di Indonesia, saat ini kami sedang mengembangkan Vaksin Tifoid, kami menerima teknologi transfer dari Sabin Vaccine Institute, serta  kerjasama dengan IVI Korea,  kami berharap dalam waktu dekat Vaksin tersebut dapat  di nikmati oleh masyarakat Indonesia” . Bio Farma, turut bertanggung jawab dalam mencapai kemandirian Vaksin dalam negeri dengan memenuhi kebutuhan vaksin dalam negeri. Vaksin Tifoid Konjugat yang dikembangkan oleh Bio Farma saat ini sedang dalam tahap pra uji kilinik dan diharapkan dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat pada tahun 2018.

————-oo0oo————-

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi: N Nurlaela Head of Corporate Communications Department. PT Bio Farma (Persero) Jl. Pasteur No. 28 Bandung – 40161 Indonesia Phone : +62 22 2033755 ext. 37431 Fax : +62 22 2041306 Email : lala@biofarma.co.id Web : www.biofarma.co.id Twitter | Instagram | Youtube : @biofarmaID

“Every child deserves the chance to live a healthy and productive life,” said Dr. Mohamad Subuh, Director General of Disease Control and Enviromental Health of the Indonesian Ministry of Health. “In many countries in Asia and Africa, invasive salmonelloses remain a public health concern. We need to work together to improve diagnostic tools, develop efficacious vaccines and make treatment more accessible for vulnerable communities around the world.” Brian Davis, a representative of the Coalition against Typhoid (CaT) at the opening of the International Conference mentioned that “currently, there are 2 (two) Conjugate Vaccine products that already have a circulation permit in India, and the transfer of technology has been  conducted to 3 (three) manufacturers that will begin conducting clinical trials within the next 12 months, one of which is PT Bio Farma – Indonesia”. Meanwhile, Friday, May 1, 2015, dr. Bonita Effendi of the University of Indonesia presented a topic on patient profile demographic characteristics of the Typhoid Fever in Indonesia, said that the risk of deaths from Typhoid is 1.25% and there are still some provinces in Indonesia in which the  number of typhoid patients is above 1.6%, among others, Aceh, Bengkulu, West Nusa Tenggara, East Nusa Tenggara, Banten, West Java, west papua, papua, Gorontalo, East Kalimantan. This is caused due to the low level of public awareness to implement clean and healthy life behavior, such as washing hands before preparing food, as well as access to clean water and especially the usage of waste water on a variety of household needs in Indonesia. Mahendra Suhardono, Director of Marketing of Bio Farma, added during the opening of the 9th International Conference of Typhoid Vaccines in Nusa Dua Bali, “as a State-Owned Company that until now focuses on providing vaccines to meet the needs of vaccines in Indonesia, currently we are developing the Typhoid Vaccine, we received technology transfers from the Sabin Vaccine Institute, as well as the  cooperation with IVI Korea, we hope in the near future the Vaccine can be enjoyed by the people of Indonesia”. Bio Farma, is also responsible for achieving the self reliance of Vaccines in the country by fulfilling the vaccine needs in the country. Conjugate Typhoid vaccine that is being developed by Bio Farma at present is in pre-clinical trial stage and it is hoped that the benefit can be expected by public  in the year 2018.

————-oo0oo————-

For more information, you may contact: N Nurlaela Head of Corporate Communications Department. PT Bio Farma (Persero) JL. Pasteur No. 40161 Bandung – 28 Indonesia Phone: + 62 22 2033755 Ext. 37431 Fax: + 62 22 2041306 Email: lala@biofarma.co.id Web: www.biofarma.co.id Twitter | Instagram | YouTube: @biofarmaID