Bioteknologi Berkibar Pada 2020

By biofarma

JAKARTA — Industri farmasi nasional siap menghadirkan obat bioteknologi sebagai basis produk utama industri  yang dikembangkan pada lima tahun mendatang. Direktur Utama PT Phapros Tbk Iswanto Notohusodo mengemukakan kehadiran bioteknologi dari manufaktur nasional akan terasa eksistensinya pada lima tahun mendatang. “Saat ini belum semua industri memiliki posisi sama dalam mengembangkan produk berbasis protein tersebut. Industri saat ini sedang bergegas mempersiapkan produk bioteknologi. Ada beberapa perusahaan yang mulai mengembangkannya ” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (6/3). Menurutnya, industri farmasi nasional perlu mengarah ke sana. Selain produk ini lebih aman karena berbasis protein dengan pendekatan genom. Data IMS Health mengenai outlook pasar farmasi 2016, menunjukkan pertumbuhan pasar produk biologi tidak kurang 6% per tahunnya sejak 2011. Negara pemain besar di Asia seperti China, India, Jepang dan Korea sudah menyusul kesiapan negara barat dalam mengembangkan produk biologi. Semakin meningkatnya pusat riset dunia, diiringi dengan permintaan konsumen akan produk yang mempunyai daya reaksi yang cepat. Membuat pengembangan produk yang mengandalkan protein ini menjadi salah satu fokus dalam industri farmasi dunia saat ini. Jajaran perusahaan yang sedang giat mengembangkan produk bioteknologi a.l PT Kalbe Farma, PT Dexa Medica, PT Bio Farma dan jajaran perusahaan lain yang sudah mempersiapkan diri dalam mengembangkan produk bioteknologi. Bagi PT Phapros sendiri, menurutnya, saat ini sedang melakukan kajian mengenai produk yang akan diluncurkan dengan basis biologi. Iswanto mengatakan menghadirkan produk bioteknologi bukanlah perkara mudah, pusat riset berteknologi tinggi yang memakan biaya tinggi harus dihadirkan. Saat ini, diakui produk bioteknologi lebih mahal dengan produk farmasi lainnya. Layaknya seperti produk farmasi lain yang memiliki varian generik, bioteknologi juga demikian. Produk biosimilar adalali obat­obatan biologi yang dibuat mengikuti produk penemuan asli sudah habis masa patennya, sehingga memiliki harga yang lebih murah. “Insentif pemerintah diperlukan untuk mengundang pusat riset dunia mau datang di Indonesia. Kalau katanya kita punya bahan alami, serta biota .laut yang. berlimpah kenapa tidak dimanfaatkan,” ujarnya. Prospek bioteknologi tidak hanya pada bidang kesehatan, tetapi juga disiapkan untuk bidang pertanian, pangan, lingkungan dan industri lainnya. Pelaku, investor dan inovator produk bioteknologi diproyeksi mendominasi pasar farmasi atau kesehatan masa mendatang. Walaupun implementasi perusahaan menuju capaian tersebut memerlukan waktu yang panjang. Jelas bahwa industri tidak bisa mengembangkan bioteknologi tanpa kerja sama dengan perusahaan farmasi lain maupun uluran tangan dari pemerintah penting untuk dihadirkan. Regulasi, sebagai mandatori pemerintah wajib diterbitkan agar pengembangan produk ini tidak tersandera berbagai sangkaan, misalnya sebagai produk halal. Sebagai salah satu pemain industri farmasi kelas atas, PT Dexa Medica sudah bersiap mengambil porsi pengembangan tersebut. (David Eka Issetiabudi). Sumber : Bisnis Indonesia

JAKARTA — Industri farmasi nasional siap menghadirkan obat bioteknologi sebagai basis produk utama industri  yang dikembangkan pada lima tahun mendatang. Direktur Utama PT Phapros Tbk Iswanto Notohusodo mengemukakan kehadiran bioteknologi dari manufaktur nasional akan terasa eksistensinya pada lima tahun mendatang. “Saat ini belum semua industri memiliki posisi sama dalam mengembangkan produk berbasis protein tersebut. Industri saat ini sedang bergegas mempersiapkan produk bioteknologi. Ada beberapa perusahaan yang mulai mengembangkannya ” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (6/3). Menurutnya, industri farmasi nasional perlu mengarah ke sana. Selain produk ini lebih aman karena berbasis protein dengan pendekatan genom. Data IMS Health mengenai outlook pasar farmasi 2016, menunjukkan pertumbuhan pasar produk biologi tidak kurang 6% per tahunnya sejak 2011. Negara pemain besar di Asia seperti China, India, Jepang dan Korea sudah menyusul kesiapan negara barat dalam mengembangkan produk biologi. Semakin meningkatnya pusat riset dunia, diiringi dengan permintaan konsumen akan produk yang mempunyai daya reaksi yang cepat. Membuat pengembangan produk yang mengandalkan protein ini menjadi salah satu fokus dalam industri farmasi dunia saat ini. Jajaran perusahaan yang sedang giat mengembangkan produk bioteknologi a.l PT Kalbe Farma, PT Dexa Medica, PT Bio Farma dan jajaran perusahaan lain yang sudah mempersiapkan diri dalam mengembangkan produk bioteknologi. Bagi PT Phapros sendiri, menurutnya, saat ini sedang melakukan kajian mengenai produk yang akan diluncurkan dengan basis biologi. Iswanto mengatakan menghadirkan produk bioteknologi bukanlah perkara mudah, pusat riset berteknologi tinggi yang memakan biaya tinggi harus dihadirkan. Saat ini, diakui produk bioteknologi lebih mahal dengan produk farmasi lainnya. Layaknya seperti produk farmasi lain yang memiliki varian generik, bioteknologi juga demikian. Produk biosimilar adalali obat­obatan biologi yang dibuat mengikuti produk penemuan asli sudah habis masa patennya, sehingga memiliki harga yang lebih murah. “Insentif pemerintah diperlukan untuk mengundang pusat riset dunia mau datang di Indonesia. Kalau katanya kita punya bahan alami, serta biota .laut yang. berlimpah kenapa tidak dimanfaatkan,” ujarnya. Prospek bioteknologi tidak hanya pada bidang kesehatan, tetapi juga disiapkan untuk bidang pertanian, pangan, lingkungan dan industri lainnya. Pelaku, investor dan inovator produk bioteknologi diproyeksi mendominasi pasar farmasi atau kesehatan masa mendatang. Walaupun implementasi perusahaan menuju capaian tersebut memerlukan waktu yang panjang. Jelas bahwa industri tidak bisa mengembangkan bioteknologi tanpa kerja sama dengan perusahaan farmasi lain maupun uluran tangan dari pemerintah penting untuk dihadirkan. Regulasi, sebagai mandatori pemerintah wajib diterbitkan agar pengembangan produk ini tidak tersandera berbagai sangkaan, misalnya sebagai produk halal. Sebagai salah satu pemain industri farmasi kelas atas, PT Dexa Medica sudah bersiap mengambil porsi pengembangan tersebut. (David Eka Issetiabudi). Sumber : Bisnis Indonesia