Forum Riset Life Science Nasional

FRLN 1

Tentang  Forum Riset  Life Science Nasional (FRLN)

Forum yang dibentuk pada tahun 2011 semula bernama Forum Riset Vaksin Nasional (FRVN) dibentuk atas inisiatif PT Bio Farma sinergi dengan Kemenristek Dikti dan Kemenristek RI. Forum yang selalu dihadiri oleh para periset/peneliti  Indonesia dari Universitas, Pemerintah dan Industri, khususnya periset dalam bidang Vaksin dan Life-Science, bertujuan untuk melakukan pengembangan vaksin dan produk Life Science  baru dalam negeri  untuk kemandirian riset Nasional. Sejak 2011, tema tahunan FRVN sebagai berikut : 2012 : Akselerasi riset vaksin Nasional melalui Forum Riset Vaksin Nasional dalam rangka dekade Vaksin 2011-2020 ; 2013 :Pemantapan Riset Nasional melalui Forum Riset Vaksin Nasional dalam rangka kemandirian vaksin melalui decade vaksin 2011-2020.; 2014 : Implementasi hasil riset vaksin dalam rangka Kemandirian Vaksin Nasional, 2015 ; Hilirisasi hasil riset Nasional bidang Life Science untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa. Dan tahun 2016 ini Menjadi FRLN dengan tema tantangan Menuju Kemandirian Riset Nasional Bidang Life Science.

 

Bio Farma Himpun Sinergi Antar Elemen se-Indonesia Guna Ciptakan Kemandirian Nasional Bidang Life Science

Jakarta, 25 Agustus 2016: akan berlangsung Forum Riset Life Science Nasional (FRLN) yang akan menyinergikan lintas stake holder antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas. Sesuai dengan namanya, forum yang sudah terbentuk sejak tahun 2011 silam ini, sebelumnya bernama Forum Riset Vaksin Nasional (FRVN) dan tahun ini ada penyesuaian menjadi Forum Riset Life Science Nasional (FRLN), akan dihadiri 400 periset/peneliti se Indonesia dari Universitas, Pemerintah dan Industri, khususnya periset dalam bidang Vaksin dan Life-Science.

 

Bertujuan  untuk pengembangan produk biofarmasetikal, farmasi, dan alat kesehatan di dalam negeri untuk mewujudkan kemandirian produk nasional, guna memenuhi kebutuhan dalam negeri. Rencananya FRLN 2016 ini akan dibuka oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nila Moeloek, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir dan Direktur Utama  Bio Farma, Iskandar.

 

Menurut DR. Maharani, Peneliti Senior Bio Farma dan Ketua Panitia FRLN 2016,  “Konsep FRLN tahun 2016 ini difokuskan diskusi capaian hasil konsorsium dan working group di hari pertama guna menghasilkan rekomendasi percepatan ke arah komersialisasi. Di hari kedua, hasil dan rekomendasi disampaikan kepada para stake holder agar percepatan komersialisasi produk life science dapat terkawal dengan baik” jelasnya di Bandung, Selasa (23/8/2016).
Pada FRLN tahun ini, juga akan dilakukan serah terima antigen klon TB  dari Konsorsium Tuberculosis kepada Kementerian Kesehatan Republik Indonesia yang selanjutnya diserahkan kepada Bio Farma  untuk pengembangan ke skala industri.

 

Konsorsium riset Tuberculosis terdiri dari beberapa institusi, yaitu Bio Farma, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Universitas Airlangga, Universitas Hassanudin, Universitas Brawijaya, Universitas Mataram, Universitas Jember, Unika Atma Jaya dan RS Rotinsulu. Pusat Biomedik dan Teknologi Dasar Kesehatan Litbangkes RI sebagai Koordinator.
Sebagai bentuk dukungan Bio Farma terhadap riset Life Science di Indonesia bagian timur,  pada FRLN tahun ini juga akan dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Dirut  Bio Farma Iskandar dengan Prof. Ir. Fredrik L. Benu, M.Si.,Ph.D (Rektor Universitas Nusa Cendana Kupang, NTT) dalam kaitan kerjasama riset produksi anti serum. Dalam upaya untuk melindungi pengelolaan terhadap kekayaan intelektual, juga akan ditandatangani nota kesepahaman antara Bio Farma dengan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Republik Indonesia.
Menurut Maharani, percepatan hilirisasi produk Life Science memerlukan dukungan pihak-pihak terkait, seperti kebijakan, regulasi, dan pendanaan. Karena itu, dalam simposium akan diselenggarakan talk show mengupas permasalahan yang dihadapi peneliti dengan mengundang para pakar. Seperti pada bidang translasi riset produk Life Science, Kementerian Kesehatan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, serta Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan.

 

“Dengan seluruh rangkaian acara ini, kami harapkan riset life sciences dapat segera menjadi produk nasional yang mandiri guna memenuhi kebutuhan biofarmasetikal, farmasi, dan alat kesehatan di dalam negeri,” pungkasnya. (*)

 

 

Melalui Forum Riset Life Science, Hadirkan Biofarmasetikal Mandiri yang Terjangkau

oleh Rakyat Indonesia

 

Jakarta, 25 Agustus 2016: Sebagai tindak lanjut Forum Riset Vaksin Nasional (FRVN) Tahun 2015 bertemakan “Hilirisasi Hasil Riset Nasional Bidang Life Science untuk Meningkatkan Kualitas Hidup Bangsa”.  Tahun ini kembali diselenggarakan Forum Riset Life Science (FRLN) bertemakan, “Tantangan Menuju Kemandirian Riset Nasional Bidang Life Science”.
Perubahan dari FRVN menjadi FRLN bertujuan memperluas cakupan pengembangan produk sesuai misi Bio Farma yaitu, “Menyediakan dan Mengembangkan Produk Life Science Berstandar Internasional untuk Meningkatkan Kualitas Hidup”. Produk Life Science dimaksud adalah produk yang dihasilkan dari organisma hidup melalui proses bioteknologi.
Menurut Iskandar, Direktur Utama Bio Farma, FRLN bertujuan meningkatkan sinergi riset bidang life science antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, serta komunitas pendukung. Tujuannya untuk mempercepat hilirisasi serta tujuan akhir komersialisasi produk Life Science yang akan diakui sebagai produk nasional hasil kerja nyata putra-putri terbaik Bangsa Indonesia.

 

“Ini merupakan bagian dukungan terhadap Inpres No.6 tahun 2016, yang mana pemerintah menyatakan mendorong pengembangan biofarmasetikal. Termasuk di dalamnya penguasaan teknologi dan inovasi bidang farmasi dan alat kesehatan, sehingga kemandirian bangsa bidang farmasi dan alat kesehatan dapat tercapai”.
Menurut Iskandar, produk Life Science nasional akan mendorong tersedianya Biofarmasetikal berharga terjangkau bagi seluruh rakyat Indonesia. Juga, akan mendukung tujuan ke-3 SDG’s (Sustainable Development Goals) yaitu menjamin kehidupan yang sehat serta mendorong kesejahteraan hidup untuk seluruh masyarakat di segala umur.
Iskandar menambahkan, konsorsium penelitian yang sudah terbentuk dalam enam tahun terakhir ini telah mendapat dukungan pendanaan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi seperti 5 (lima) konsorsium penyakit Tuberkulosis, Hepatitis B, Dengue, HPV dan HIV. Disamping itu, juga telah terbentuk 7 (tujuh) working group : Eritropoietin (EPO), Rotavirus, Malaria, Influenza, Stem cell, Delivery Systems & Adjuvant dan Pneumokokus.

 

Namun demikian, konsorsium dan working group riset di bidang life science  masih memerlukan dukungan pengembangan. Yakni di bidang sumber daya manusia, platform teknologi terbaru, laboratorium inti yang dapat digunakan bersama, serta pendanaan yang berkesinambungan agar riset dapat dikomersialkan.
Riset Life Science yang bersifat inovatif dan implementatif di Indonesia masih memiliki banyak tantangan. Untuk itu, diperlukan program yang dibuat para pemangku kepentingan supaya peneliti dapat meningkatkan kemandirian penelitiannya, sehingga tujuan hilirisasi dan komersialisasi produk Life Science dapat diperoleh sesuai waktu yang ditetapkan.
“Selain itu, juga diperlukan langkah-langkah untuk mengidentifikasi hambatan yang dihadapi para peneliti secara komprehensif guna mendapatkan solusi yang tepat,” sambung Iskandar.
Upaya percepatan hilirisasi produk Nasional oleh Kementerian Riset, Teknologi,  Pendidikan Tinggi Republik Indonesia dengan pengembangan program Hillirisasi dan Komersialisasi hasil penelitian di perguruan ini patut disambut hangat.

 

Melalui program ini, penelitian yang telah memiliki hak paten dan siap dikomersialisasi akan diupayakan kerjasama dengan pihak industri yang akan memanfaatkan hasil penelitian dengan tujuan komersialisasi.

 

Dalam bidang pendanaan, Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP) yang berada di Kementerian Keuangan diharapkan dapat mendorong riset strategis dan inovatif yang implementatif dan menciptakan nilai tambah melalui pendanaan riset.

 

“Pendanaan diharapkan dapat mempercepat berhasilnya suatu riset yang berkualitas dan meningkatkan daya saing bangsa dengan mengembangkan atau menghasilkan produk,” pungkas Iskandar. (*)