Erick Thohir Kunjungi Kesiapan Fasilitas Laboratorium Bio Farma Lawan Covid-19

By Bio Farma

(Bandung 21/5) Menteri BUMN RI, Erick Thohir beserta rombongan dari Kementerian BUMN, dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, mengunjungi kesiapan laboratorium Bio Farma dalam menghadapi Covid-19. Rombongan diterima langsung oleh jajaran Board of Executives Bio Farma pada hari Kamis (21/5) di Exhibition Hall Bio Farma.

Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir menjelaskan sesuai dengan slogan #BUMNuntukIndonesia, Bio Farma sebagai BUMN yang bergerak dalam bidang Farmasi, sudah menyiapkan beberapa skenario untuk membantu penanganan Covid-19 ini.

“Inisiatif pembuatan skenario ini, dilakukan sesuai komitmen Bio Farma sebagai Induk Holding BUMN Farmasi, untuk berperan aktif secara luas dalam mewujudkan health security di Indonesia, dan secara khusus sebagai upaya percepatan penanganan Pandemi COVID-19. Hal ini sejalan dengan tugas utama BUMN yang hadir untuk Indonesia agar mampu bertindak sebagai agen perubahan (agent of change) sekaligus agen pembangunan (agent of development)”, ujar Honesti.

Lebih lanjut, skenario yang dibuat oleh Bio Farma dijelaskan oleh Direktur Operasi Bio Farma, M. Rahman Roestan,  skenario tersebut antara lain ; memproduksi Kit diagnostik Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) yang merupakan hasil kerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Nusantics yang merupakan hasil kolaborasi dalam nuansa kegotong-royongan dalam Gerakan Indonesia Pasti Bisa.

Dalam memproduksi RT-PCR ini, Bio Farma memiliki tugas untuk memproduksi dan menguji kit RT-PCR, simultan uji komparasi dengan 10 laboratorium untuk pengujian akurasi dan spesifisitas. Saat ini, RT PCR yang baru saja diluncurkan oleh Presiden RI Joko Widodo pada 20 Mei 2020 kemarin, sudah mulai didistribusikan ke 31 laboratorium sesuai dengan rekomendasi dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Berikutnya adalah peran Bio Farma membantu penelitian plasma konvalesen, hasil kerjasama dengan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto. Plasma Konvalesen merupakan terapi yang diberikan kepada pasien Covid-19 yang memasuki masa kritis, dengan memberikan plasma dari pasien yang sudah dinyatakan sembuh dari Covid-19. Tugas Bio Farma adalah untuk menerima plasma dari RSPAD untuk diperiksa kadar antibodi atas virus SARS-Cov-2 penyebab Covid-19, sehingga layak untuk diberikan kepada pasien Covid-19

Ketiga adalah pembuatan mobile lab dengan standar Bio Safety Lavel 3 (BSL 3), Bio Farma memiliki kompetensi untuk membuat mobile lab ini yang hasilnya akan bermanfaat untuk FK UNPAD atau LABKESDA untuk meningkatkan kapasitas uji untuk masyarakat. Dalam masa pandemi seperti sekarang, Mobile Laboratorium BSL3 berfungsi sebagai fasilitas untuk Emergency Response sebagai bentuk responsibility Bio Farma dalam menangani Pandemi Covid-19, melalui uji swab tes PCR. Pemeriksaan Swab Tes PCR merupakan pemeriksaan laboratorium golden standar dalam penegakan Diagnosis  Covid-19.

Terkait hal Mobile Lab BSL3 ini, Ridwan Kamil berminat untuk memperbanyak mobil lab BSL 3 ini untuk di Jawa Barat, pasalnya, fasilitas yang berada didalamnya dapat melakukkan pemeriksaan swab test baik dalam keadaan pandemik, dan juga dalam keadaan new normal.

“Mobile lab ini, nantinya kalau sudah ada banyak, bisa berkeliling untuk bisa melakukan pengetesan kepada masyarakat”, ujar Ridwan Kamil.

Yang terakhir adalah penelitian untuk penemuan vaksin Covid-19, dengan dua skema yang utama adalah kolaborasi stakeholder tingkat nasional bersama Kemenristek  / BRIN, Eijkman dan Litbangkes, dan simultan berpartner dengan lembaga riset dengan skala global dan juga manufaktur yang memiliki potensi kerjasama dengan Indonesia dan dibantu dengan KBRI untuk pendampingi diplomasi .

Dalam kunjungan ini, Erick  Thohir meminta Bio Farma untuk meningkatkan koordinasi dengan Kementerian / Lembaga lain, untuk memudahkan koordinasi terkait skenario yang sudah Bio Farma jalankan dalam menghadapi pandemik Covid19.

“Saya meminta Bio Farma untuk terus meningkatkan koordinasi dan kolaborasi dengan Kementerian /Lembaga lain, untuk mempermudah koordinasi, dan mempercepat output dari rencana yang sudah disiapkan Bio Farma dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini”, ujar Erick.

 

—-0000—-

 

Untuk informasi Media, Hubungi :

Iwan Setiawan

Head of Corporate Communications.

Bio Farma

Email : iwan.setiawan@biofarma.co.id

62 22 2033755 ext 5093

www.biofarma.co.id

twitter : @biofarmaID

Instagram :@biofarmaID

Bio Care : 1500810

 

 

RT-PCR Bio Farma Hasil Kolaborasi Apik dari Konsorsium Riset dan Inovasi

By Bio Farma

(Bandung 20/5) Bio Farma sebagai induk holding BUMN Farmasi, meluncurkan produk lifescience, berupa Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Peluncuran ini diresmikan oleh Presiden RI Joko Widodo, dalam rangka memperingati Kebangkitan Nasional, dengan tema Inovasi Indonesia untuk melawan Covid-19, bersama dengan Menteri Riset dan Teknologi / Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional RI Bambang Brodjonegoro, disaksikan oleh Wakil Presiden RI, K.H Ma’aruf Amin, dan beberapa Menteri Kabinet Indonesia Maju.

Selain RT-PCR hasil produksi Bio Farma, dalam acara yang disekaligus memperingati Hari Kebangkitan Nasional 2020,  ada delapan produk lainnya yang turut diluncurkan untuk melawan Covid-19 yang sudah menjadi pandemi global sejak Maret 2019 yang lalu. Semua produk ini, merupakan hasil kolaborasi triplex helix antara Pemerintah, Industri dan dunia Pendidikan.

RT-PCR yang Bio Farma hasilkan, merupakan hasil kolaborasi dalam nuansa kegotong-royongan dalam Gerakan Indonesia Pasti Bisa dalam Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan COVID-19 (TFRIC19) sub Group task force Rapid Test Diagnosis berbasis quantitative polymerase chain reaction (qPCR) yang dimotori oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Dalam sambutannya, Joko Widodo menyampaikan  bahwa saat ini dunia sedang beradu cepat dalam menangani wabah Covid-19, dan hari ini karya nyata yang konkrit, “Hari ini merupakan momentum baru bagi kebangkitan bangsa kita, dan kebangkitan sains dan teknologi khususnya dalam bidang kesehatan”, ujar Joko Widodo.

Sementara itu, dalam pidato pembukaan yang disampaikan oleh Bambang Brodjonegoro, mengatakan dalam keadaan wabah pandemi COVID-19 Kemenristek  / BRIN ingin menjadi bagian dari solusi penanganan wabah ini, riset dan inovasi berperan penting dalam menanggulangi wabah ini oleh karena itu sejak awal Maret 2020 Kemenristek / BRIN menjadi solusi penanganan telah membentuk konsorsium yang beranggotakan Kementerian, Lembaga Pemerintah, Perguruan Tinggi  dan Industri.

“Saya berharap produk  -produk riset dan inovasi yang hari ini diluncurkan dapat menandai kebangkitan inovasi Indonesia. Sebagai kordinator Riset dan Inovasi Nasional, Kemeristek / BRIN selalu mendorong berbagai lahirnya inovasi bangsa Indonesia yang memberikan dampak yang luas bagi masyarakat”, ujar Bambang.

Bambang menambahkan, Kegiatan dalam konsorsium yang berkaitan Covid19 ini, akan berkaitan dengan empat aspek penelitian yaitu ; Pencegahan, Screening dan Diagnosis, pengembangan obat dan terapi serta pengembangan alat kesehatan dan alat pendukungnya.

Direktur Pemasaran, Penelitian dan Pengembangan I Bio Farma, Sri Harsi Teteki mengatakan Produk Bio Farma berupa RT-PCR kit masuk dalam kategori Screening dan diagnosis, yang memiliki fungsi  untuk mendeteksi virus Sars Cov2 penyebab Covid-19 yang merupakan gold standar dalam pemeriksaan Covid19.

“Bio Farma tergabung dalam Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan COVID-19 sub Group task force Rapid Test Diagnosis berbasis quantitative polymerase chain reaction (qPCR) (TFRIC19) bersama Nusantics dan BPPT dan mendapatkan dukungan dari Gerakan Indonesia Pasti Bisa. Tugas dari Bio Farma adalah untuk melakukan validasi, yang juga melibatkan lembaga riset lain seperti Litbangkes, Lembaga Eijkman, Balitbangkes dab Laboratorium / Rumah Sakit Rujukan, regristrasi, produksi dan juga distribusi. produk ini merupakan hilirisasi dari peneltian yang merupakan hasil kolaborasi dan inovasi, dan pada tanggal 5 Mei 2020, sudah mendapatkan Nomor Izin Edar dari Kementerian Kesehatan.”, ujar Sri Harsi.

Untuk tahap awal, RT-PCR ini, akan diproduksi sebanyak 100 ribu kit, sampai dengan akhir Mei 2020. Dan jumlah tersebut akan di donasikan untuk kemudian didistribusikan kepada laboratorium yang berada di 45 lokasi. Setelah pendonasian selesai, maka akan dilkukan tahap komersialisasi.

Sampai dengan saat ini, sudah 16 lab yang menerima donasi dari Bio Farma, berdasarkan rekomendasi dari BNPB dan Kementerian Kesehatan berdasarkan peta epidemiologi dengan prinsip 3T (Tepat Laboratorium, Tepat Jumlah dan Tepat Waktu).  Hal lain yang harus terpenuhi dari laboratorium  adalah sudah memenuhi standar teknis antara lain ; memiliki fasilitas Bio Safety Level (BSL) 2, PCR Open System, dan sudah pernah melakukan analisa sampel Covid-19.

Keunggulan yang dimiliki dari RT PCR ini adalah memiliki spesifiksitas yang tinggi hampir 100%  untuk mendeteksi Covid19 karena didesain oleh target gen sesuai sequence virus yang ada Indonesia.  Keunggulan kedua RT PCR ini didesain untuk open system PCR sehhingga bisa digunakan dimesin PCR manapun.

Keunggulan berikutnya adalah sudah menerapkan GDP (Good Distribution Process) sesuai dengan Rekomendasi dari WHO, dimana dalam pengantaran suhunya mengikuti prinsip sistem rantai dingin / cold chain system, seperti distribusi vaksin pada umumnya dan yang tidak kalah penting, adalah harga yang ditawarkan saat komsersialisasi,akan terjangkau.

 

—-0000—-

 

Untuk informasi Media, Hubungi :

Iwan Setiawan

Head of Corporate Communications.

Bio Farma

Email : iwan.setiawan@biofarma.co.id

62 22 2033755 ext 5093

www.biofarma.co.id

twitter : @biofarmaID

Instagram :@biofarmaID

Bio Care : 1500810

 

Lawan Pandemik Covid-19 : Melalui Diplomasi Kesehatan Global

By Bio Farma

(Bandung 15/5) Kesehatan menjadi hal yang fundamental bagi kehidupan suatu negara dan dalam berhubungan dengan negara lain. Bahkan saat ini, kesehatan menjadi salah satu primadona baru dalam berdiplomasi antar negara, terlebih lagi di saat pandemik Covid-19 seperti sekarang.

Dalam keadaan pandemi seperti ini, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memiliki tanggung jawab untuk menjamin ketersediaan vaksin agar vaksin dapat dimanfaatkan oleh siapapun. Indonesia sebagai anggota dari Executive Board WHO sejak tahun 2017 – 2021 tentu saja mendukung jaminan ketersediaan vaksin dan akses ke vaksin.

Hal ini disampaikan oleh Direktur Sosial-Budaya dan Organisasi Internasional Negara Berkembang Kementerian Luar Negeri RI Kamapradipta Isnomo, dalam kegiatan Saga Multilateral Webinar Series Episode 3: Diplomasi Kesehatan Global Pada Masa Pandemik, pada tanggal 15 Mei 2020.  

Dengan menjadi Member of Executive Board di WHO, Indonesia bisa memberikan arah kebijakan dan langkah–langkah untuk WHO maupun kepada Direktur Jendral WHO untuk menanggulangi wabah Covid-19. Dengan menjadi anggota Member of Executive Board, Indonesia mendukung tata kelola sharing of virus dan akses mendapatkan vaksin agar vaksin dapat dimanfaatkan oleh siapapun“ ujar Kamapradipta.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya dan Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Irmansyah mengatakan bahwa Solidarity Trial merupakan program dari WHO yang melibatkan lebih dari 100 negara, untuk melalukan clinical trail terutama pada empat kandidat utama obat untuk melawan Covid-19.

“Indonesia menjadi negara ke-enam, yang telah melakukan studi ini. Hasil yang diharapkan adalah adanya percepatan untuk menemukan antivirus yang cocok dan bukti yang kuat, untuk melawan Covid-19, yang berkualitas, efektif dan aman”, ujar Irmansyah.

Wabah Pandemik Covid-19 yang sudah menularkan kepada 4 juta jiwa di seluruh dunia dalam waktu enam bulan ini, dengan tingkat kematian 294 ribu, memerlukan suatu strategi khusus untuk mencegah penambahan penularan, salah satunya adalah melalui pemberian obat atau vaksinasi.

Di Indonesia sendiri, salah satu  upaya untuk pencegahan dan pengobatan Covid-19, dilakukan oleh Holding BUMN Farmasi yang baru saja terbentuk pada akhir Januari 2020 yang lalu. Holding BUMN Farmasi yang terdiri dari tiga perusahaan yaitu, Bio Farma sebagai induk holding dengan anggota Kimia Farma Tbk dan Indofarma Tbk, memiliki peran yang strategis antara lain berkolaborasi untuk pengembangan vaksin, obat dan test diagnostik yang bekerjasama dengan lembaga riset nasional Perguruan Tinggi dan lembaga lainnya, serta mencari potensi kerjasama dengan lembaga Riset di luar negeri.

Direktur Operasi Bio Farma M. Rahman Roestan menjalaskan bahwa Bio Farma memiliki peran strategis baik di dalam maupun di luar negeri. Peran didalam negeri yang utama adalah untuk peningkatan daya saing farmasi nasional, yang diwujdukan melalui pembentukan Holding BUMN Farmasi. Peran strategis kedua untuk dalam negeri adalah menciptakan kemandirian dalam hal produksi lifescience dalam negeri seperti vaksin dan antisera, plasma darah, biosimilar / stemcell dan diagnostik.

Sedangkan peran strategis luar negeri, Bio Farma memiliki peran untuk ikut serta dalam global health security dengan menyediakan vaksin yang berkualitas sesuai dengan standar WHO, dan meningkatkan peran Indonesia di negara berkembang yang tergabung dalam Developing Countries Vaccine Management Network (DCVMN) dan Organisation of Islamic Cooperation (OIC), untuk menghasilkan vaksin yang berkualitas dan harga terjangkau.

Dalam keadaan pandemi seperti saat ini, diperlukan adanya percepatan pengembangan produk farmasi melalui kolaborasi baik di dalam negeri maupun tingkat global, untuk bersama – sama saling bekerjasama menemukan obat atau vaksin yang tepat untuk mencegah, mengeliminasi dan memutus mata rantai penularan Covid-19 ini.

Beberapa produk yang akan dihasilkan antara lain Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) yang merupakan hasil kolaborasi dengan Task Force dan Inovasi Teknologi Penanganan Covid-19 (TFRIC19) yang dibentuk oleh BPPT, yang akan launching pada tanggal 20 Mei 2020 bersamaan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Produk lainnya adalah alternatif terapi untuk pasien Covid-19 berupa konvalesen plasma hasil kolaborasi dengan Rumah Sakit Angkatan Darat (RSPAD).

Sedangkan untuk vaksin, Bio Farma akan melakukan dua strategi yaitu melalui jangka pendek melalui kerjasama dengan lembaga penelitian international diantaranya adalah Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) dari Norwegia, maupun bersama industri lainnya.

“Dalam keadaan pandemik seperti ini, diperlukan adanya semacam joint collaboration dari semua pihak baik antar industri, maupun antar negara (Goverment to Goverment), untuk secara bersama – sama menemukan solusi terbaik pada pengobatan dan pencegahan penyakit Covid-19, terlebih ini merupakan jenis penyakit baru. Selain antar negara, diperlukan juga kerjasama dalam negeri seperti dengan Kemenlu RI melalui Kedubes RI untuk membantu negosiasi di forum – forum internasional, Kemenkes dan BPOM ”, ungkap Rahman.

Tantangan Kebijakan Global dalam Industri Vaksin Nasional

Namun demikian untuk melalukan percepatan penemuan vaksin, industri vaksin khususnya dinegara berkembang dihadapi pada tantangan – tantangan yang bersifat teknis antara lain akses atas penelitian pengembangan vaksin baru, hambatan pada teknologi dan pengaturan pada alokasi dana yang memadai untuk pengembangan vaksin baru. Dan hambatan lainnya adalah mengenai hak paten. Hak paten yang ditetapkan oleh produsen vaksin dari negara maju membuat industri vaksin dari negara berkembang (pharmerging) mengalami keterlambatan dalam pengembangan produk yang berpotensi terhadap hilangnya kesempatan berkontribusi Nasional dan Global.

Hak paten yang sudah didaftarkan oleh negara maju tersebut, dapat memberikan hambatan pada implementasi proses inovasi, sedangkan untuk mengembangkan sendiri memerlukan waktu yang cukup panjang, dan akses terhadap seed, virus dan bakteri atau substrat sel terhalang oleh eksklusif agreement / koalisi.

 

 

 

—-0000—-

 

Untuk informasi Media, Hubungi :

Iwan Setiawan

Head of Corporate Communications.

Bio Farma

Email : iwan.setiawan@biofarma.co.id

62 22 2033755 ext 5093

www.biofarma.co.id

twitter : @biofarmaID

Instagram :@biofarmaID

Bio Care : 1500810

 

 

Bio Farma Kolaborasi dengan RSPAD Gatot Subroto dalam Terapi Tambahan untuk Pasien Covid-19

By Bio Farma

(Bandung 23/4) Bio Farma terlibat aktif dalam penanganan wabah Covid-19 di Indonesia, salah satunya kolaborasi dengan RSPAD dan Lembaga Eijkman dalam pemanfaatan plasma konvalesent untuk terapi kepada pasien Covid-19. Kegiatan terapi ini, diprakasai oleh RSPAD Gatot Subroto. Metode pengobatan dengan nama konvalesent plasma Covid-19 ini, diharapkan, akan dapat segera diimplementasikan. Untuk mengambil plasma darah tersebut, diperlukan suatu protokol tertentu antara lain Ethical Clearence dan    pangambilan sampel di Unit Transfusi Darah (UTD) RSPAD Gatot Subroto.

Cara kerja dari konvalesent plasma ini adalah dengan memanfaatkan antibodi yang muncul secara alami dari tubuh pasien Covid-19 yang sudah sembuh , yang kemudian, antibodi yang terkandung dalam plasma tersebut, diberikan kepada pasien Covid-19 lainnya yang termasuk kedalam kategori kritis atau pasien yang membutuhkan ventilantor.

Menurut salah satu peneliti dari Bio Farma, Neni Nurainy, secara prinsip hal tersebut memang bisa dilakukan, karena secara alami tubuh kita akan menghasilkan antibodi setiap kali tubuh kita diserang oleh mikrooragnisme baik virus atau bakteri.

Antibodi yang terdapat dalam plasma darah, pasien Covid-19 yang sudah sembuh, bisa dimanfaatkan sebagai terapi tambahan untuk pasien Covid-19 lainnya yang sudah memasuki masa krtis. Antibodi ini akan menetaralisasi virus. Selain itu terdapat komponen lain pada plasma yang berkhasiat pada oasien dan perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui komponen yang berperan penting dalam kesembuhan pasien.

 

“Tubuh kita ini, sudah dirancang sedemikian rupa, bisa bertahan dari serangan virus atau bakteri tertentu. Dan secara alami juga, tubuh kita akan mengeluarkan antibodi yang spesifik untuk menyerang virus / bakteri tersebut, dan antibodi inilah yang kita manfaatkan untuk menjadi antivirus untuk menghambat perkembangan virus Covid-19 ini,”, Ujar Neni.

Neni menambahkan, sistem kerja konvalesent plasma ini, hampir sama dengan serum, dimana dalam tubuh pasien Covid-19 setelah pemberian konvalesent plasma dari donor akan dapat menetralisasi virus sehingga virus yang berada didalam tubuh pasien Covid-19 tidak bertambah banyak.

Lebih lanjut Neni menambahkan, proses pembuatan konvalesent plasma ini adalah dari hasil plasmapheresis yang dilakukan di UTD RSPAD Gatot Subroto, dan Bio Farma membantu dalam hal pengujian titer antibodinya.

Sementara itu, dilihat dari sisi medis, Kepala Divisi Surveilens dan Uji Klinis Bio Farma, Novilia S Bachtiar mengatakan, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh pasien donor yang akan memberikan plasma darahnya, diantaranya sudah tidak ada gejala klinis, dan hasil swab menunjukan hasil yang negatif sebanyak dua kali berturut – turut.

“Ada beberapa persyaratan untuk bisa menjadi pendonor, selain sudah tidak ada gejala klinis, dari hasil swabnya menunjukan hasil negatif sebanyak dua kali, tidak menggunakan ventilator, Plasma dari pendonor tidak mengandung penyakit lain seperti Hepatitis B, Hepatitis C, HIV, dll dan titer antibodinya menunjukan angka Titer untuk corona antara kisaran 1:160 lebih, ujar Novilia.

Novilia menambahkan, plasma yang diambil adalah, plasma yang sudah memasuki minimal hari ke 14 setelah dinyatakan sembuh.

Keterlibatan Induk Holding BUMN Farmasi, dalam “tambahan pengobatan” untuk pasien Covid-19 ini, merupakan salah satu semangat #BUMNuntukIndonesia, dimana sampai dengan saat ini Bio Farma sudah terlibat dalam beberapa kegiatan untuk memerangi Covid-19, antara lain pemberian APD untuk stakeholders, rencana pengembangan plasma konvalesent yang kolektif, rencana pembuatan 100.000 test kit Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) dan pengembangan vaksin Covid-19 yang bekerjasama dengan lembaga penelitian baik dari dalam maupun luar negeri. (ed)

 

—-0000—-

Untuk informasi Media, Hubungi :

Iwan Setiawan

Head of Corporate Communications.

Bio Farma

Email : iwan.setiawan@biofarma.co.id

62 22 2033755 ext 5093

www.biofarma.co.id

twitter : @biofarmaID

Instagram :@biofarmaID

Bio Care : 1500810

Bio Farma Siapkan 100.000 test RT-PCR kit untuk Deteksi COVID-19

By Bio Farma

(Bandung 20/4) Bio Farma, akan segera memproduksi alat pendeteksi Covid-19, berupa Rapid Test berbasis Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), yang dapat melakukan pemeriksaan SARS CoV2 (virus corona) atau COVID-19.

Bio Farma yang memiliki kapasitas produksi terpasang sebesar 15.000 test per hari, akan memproduksi perdana sebanyak untuk 50 ribu  test atau setara 2000 kit pada Bulan Mei 2020, dan tidak lama berselang dalam waktu dekat, akan memenuhi kapasitas produksinya sebanyak 4000  kit atau setara dengan 100 ribu test.

Tes Kit berbasis RT-PCR ini telah memenuhi Golden Standard dalam pemeriksaan COVID-19 sekaligus penentuan penegakkan diagnosis status positif atau negatif dari sampel swab yang berasal dari pasien yang terduga terpapar oleh  COVID-19.

Keterlibatan Induk Holding BUMN Farmasi, Bio Farma Dalam produksi RT-PCR kit ini, tertuang dalam Surat Keputusan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Nomor 72 Tahun 2020 Tentang Task Force dan Inovasi Teknologi Penanganan Covid-19 (TFRIC19) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, yang melibatkan beberapa kementerian, seperti Kementerian Riset dan Teknologi RI, Kementerian Kesehatan RI, Universitas dan Lembaga Penelitian di Indonesia dan perusahaan StartUp yang bergerak dalam bidang genetika dan Biomolekuler.

Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir, mengatakan keterlibatan Bio Farma dalam produksi alat PCR test ini, sesuai dengan SK Kepala BPPT Nomor 72 Tahun 2020, khususnya dalam sub Group task force Rapid Test Diagnosis berbasis quantitative polymerase chain reaction (qPCR) , untuk itu, Bio Farma, akan menjalankan perannya sesuai dengan kompetensinya, antara lain untuk membuat kit diagnostik berbasis PCR, (Produksi dan Packaging), Quality control sekaligus Validasinya serta Registrasi untuk mendapatkan ijin edarnya. Bio Farma juga berperan aktif dalam Distribusi kit ini ke seluruh Fasilitas kesehatan Rujukan pemerintah yang berada di seluruh pelosok Indonesia.

“Prototype akan kami terima dalam waktu dekat ini dari perusahaan startup asal Indonesia Nusantics, kemudian  Bio Farma akan memproduksi secara massal dalam jumlah besar yang akan memanfaatkan fasilitas produksi yang ada di Bio Farma termasuk proses serta pengujian (quality control), packaging dan distribusi“, ujar Honesti.

Honesti menambahkan sesuai dengan semangat #BUMNuntukIndonesia produksi RT-PCR kit ini, akan menggunakan fasilitas produksi dan SDM yang memiliki kompetensi di bidang Biomolekuler yang ada di Bio Farma, jadi bisa dikatakan Kit ini adalah 100% Produksi dalam negeri oleh putra-putri bangsa Indonesia, Setidaknya dalam dua minggu akan menghasilkan 4000 kit atau setara dengan  100.000 tes. Mudah – mudahan keberadaan tes kit berbasis qPCR ini, dapat membantu pemerintah dalam percepatan penanganan menghadapi pandemik Covid-19.

Sementara itu, Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, “BPPT melalui TFRIC19 terus memberikan dukungan penuh dalam percepatan produksi test kit PCR ini. Koordinasi dengan Badan Litbangkes dan Lembaga Biologi Molecular Eijkman telah dilakukan BPPT secara serius untuk mendapatkan akses sampel RNA Covid-19 Indonesia, untuk keperluan validasi produk, melengkapi desain dan prototipe test kit PCR yang telah dikembangkan oleh tim Nusantics. BPPT juga makin yakin produk tes kit PCR dalam negeri segera terwujud setelah PT Bio Farma telah menyatakan kesediaan dan kesiapannya. Donasi masyarakat melalui gerakan Indonesia PASTI BISA telah memberikan kekuatan yang luar biasa untuk mewujudkan test kit PCR dalam negeri, sebagai bagian penguatan kemampuan nasional dalam menangani pandemi COVID-19.” (ed)

 

—-0000—-

Untuk informasi Media, Hubungi :

Iwan Setiawan

Head of Corporate Communications.

Bio Farma

Email : iwan.setiawan@biofarma.co.id

62 22 2033755 ext 5093

www.biofarma.co.id

twitter : @biofarmaID

Instagram :@biofarmaID

Bio Care : 1500810