Kunjungan Komisi VI DPR : Apresiasi Kesiapan Bio Farma Hadapi Pandemik Covid-19

By Bio Farma

 

Bandung, 9 Juli 2020, Bio Farma menerima Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI yang dipimpin Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Gde Sumarjaya Linggih beserta rombongan, turut mendampingi Asisten Deputi Industri Telekomunikasi dan Farmasi Kementerian BUMN, Aditya Dhanwantara. Kunjungan ini dilakukan  dalam rangka melihat langsung kesiapan dan peran holding BUMN Farmasi dalam mengatasi Pandemi Corona Virus (Covid-19) di Indonesia. Rombongan  diterima langsung  oleh Direktur Utama Bio Farma sekaligus Direktur Utama Induk Holding BUMN Farmasi, Honesti Basyir beserta  jajaran Board of  Executives Bio Farma.

Gde Sumarjaya Linggih menyampaikan  peran BUMN Farmasi menjadi sangat penting dalam upaya penanganan pandemic covid-19 terutama dalam menyediakan dan memastikan kebutuhan suplai produk farmasi di era new normal, “Dengan adanya covid-19 ini menjadi tantangan bagi stakeholder dalam hal ini  kefarmasian di Indonesia, oleh karena diharapkan tujuan dari kunjungan ini dapat memecahkan  permasalahan yang dialami oleh BUMN Farmasi akibat pandemic covid-19 juga sebagai fungsi pengawasan  agar bisa bersama-sama mengemban tugas negara dalam penanggulangan covid-19 ini”, ucap Gde Linggih.

Asisten Deputi Industri Telekomunikasi dan Farmasi Kementerian BUMN, Aditya Dhanwantara berharap Bio Farma dapat menjawab apa yang menjadi pertanyaan dari anggota Komisi VI DPR RI , “Kunjungan ini dapat memberikan pemahaman mengenai BUMN Farmasi  bagi  pemerintah untuk mendukung program-program  kerja kesehatan kedepannya”, ujarnya.

Honesti Basyir dalam sambutannya menyampaikan,”Manfaat dari pembentukan holding farmasi ini adalah untuk memperkuat kemandirian industri farmasi nasional, meningkatkan ketersediaan produk, juga menciptakan inovasi bersama dalam penyediaan produk farmasi”, ujarnya.

Upaya untuk pencegahan dan pengobatan Covid-19, dilakukan oleh Bio Farma sebagai induk Holding BUMN Farmasi yang baru saja terbentuk pada akhir Januari 2020 yang lalu bersama dengan anggota holding BUMN farmasi lainnya yaitu PT Kimia Farma, Tbk dan PT Indofarma, Tbk untuk menyediakan obat, yang sudah masuk ke protokol pemerintah yang sudah mampu diproduksi sendiri seperti Chloroquine, Hidrocholoroquine.

Holding BUMN Farmasi memiliki peran yang strategis antara lain berkolaborasi untuk pengembangan vaksin, obat dan test diagnostik yang bekerjasama dengan lembaga riset nasional Perguruan Tinggi dan lembaga lainnya, serta mencari potensi kerjasama dengan lembaga Riset di luar negeri.

Bio Farma sebagai induk holding BUMN Farmasi, telah berhasil memproduksi sendiri Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Dengan adanya RT-PCR ini, semakin mengukuhkan Bio Farma sebagai perusahaan lifescience yang tidak hanya menghasilkan vaksin dan sera, tetapi juga produk lifescience seperti biosimilar dan kit diagnostik.

Tes Kit berbasis RT-PCR ini telah memenuhi Golden Standard dalam pemeriksaan COVID-19 sekaligus penentuan penegakkan diagnosis status positif atau negatif dari sampel swab yang berasal dari pasien yang terduga terpapar oleh  COVID-19.

RT-PCR yang Bio Farma hasilkan, merupakan hasil kolaborasi dalam nuansa kegotong-royongan dalam dalam Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan COVID-19 (TFRIC19) sub Group task force Rapid Test Diagnosis berbasis quantitative polymerase chain reaction (qPCR) yang dimotori oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Sampai dengan bulan Juli 2020, Bio Farma sudah memproduksi sebanyak 140 ribu kit, dimana 100 ribu pertama sudah didonasikan ke 45 laboratorium yang tersebar di Indonesia, berdasarkan rekomendasi dari BNPB dan  akan meningkatkan kapasitas produksi RT-PCR pada Triwulan IV 2020, untuk memenuhi permintaan pemerintah sebanyak 2 juta per bulan dan Peran Bio Farma termasuk proses serta pengujian (quality control), packaging dan distribusi

Dalam kesempatan ini M Rahman Rustan, Direktur Operasi Bio Farma menyampaikan “Bio Farma sebagai Induk Holding BUMN Farmasi dalam penanganan wabah Covid-19 terlibat aktif dalam penanganan wabah Covid-19 di Indonesia, salah satunya kolaborasi dengan RSPAD dan Lembaga Eijkman dalam pemanfaatan plasma konvalesent untuk terapi kepada pasien Covid-19”, Ujarnya

Cara kerja dari plasma konvalesen ini adalah dengan memanfaatkan antibodi yang muncul secara alami dari tubuh pasien Covid-19 yang sudah sembuh, kemudian antibodi yang terkandung dalam plasma tersebut, diberikan kepada pasien Covid-19 lainnya yang termasuk kedalam kategori kritis atau pasien yang membutuhkan ventilantor.

Selain pembuatan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), Viral Transfer Medium (VTM), terapi plasma konvalesen serta pembuatan Mobile Laboratorium BSL 3 sebagai dukungan penanganan pandemik COVID-19 di Indonesia, Bio Farmapun sudah menyiapkan skenario lainnya yaitu pengembangan vaksin Covid-19.

 

—-0000—-

 

Untuk informasi Media, Hubungi :

Iwan Setiawan

Head of Corporate Communications.

Bio Farma

Email : iwan.setiawan@biofarma.co.id

 

62 22 2033755 ext 5093

www.biofarma.co.id

twitter : @biofarmaID

Instagram :@biofarmaID

Bio Care : 1500810

Penuhi kebutuhan RT PCR Nasional, Bio Farma akan Optimalkan Kapasitas Produksi

By Bio Farma

(Bandung 20/06)  Bio Farma berencana untuk memanfaatkan fasilitas produksi flu burung yang berada di kawasan Bio Farma, untuk membantu penanganan Covid-19. Fasilitas produksi untuk produk tersebut, akan memanfaatkan fasilitas produksi vaksin Flu Burung, yang terletak di kawasan Bio Farma, dan Kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, yang sampai dengan saat ini masih dalam proses penyerahan dari Kementerian Kesehatan RI kepada Bio Farma.

Bio Farma sebagai induk Holding BUMN Farmasi, menjadi yang terdepan untuk penanganan Covid-19, bersama dengan anggota holding BUMN farmasi lainnya yaitu PT Kimia Farma, Tbk dan PT Indofarma, Tbk untuk menyediakan obat, yang sudah masuk ke protokol pemerintah yang sudah mampu diproduksi sendiri seperti Chloroquine, Hidrocholoroquine.

Sedangkan Bio Farma sendiri, sudah menyiapkan lima skenario untuk menangani Covid- 19 antara lain pembuatan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri khususnya pada masa pandemik COVID-19, pengembangan  vaksin Covid-19, dukungan terapi plasma konvalesen, pembuatan Virus Transport Media (VTM), pembuatan Mobile Laboratorium BSL3.

Pada bulan Mei 2020 yang lalu, Bio Farma sudah mampu memproduksi sendiri RT- PCR test kit, yang peresmiannya dilakukan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo dalam kegiatan Hari Kebangkitan Nasional. Sampai dengan minggu ketiga bulan Juni 2020 total sudah sebanyak 140 ribu kit yang dihasikan, dan sudah dikirimkan ke seluruh pelosok Indonesia.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir dalam acara kunjungan kerja Menteri Kordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Muhadjir Efendy dan Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto pada hari Sabtu 20 Juni di Bio Farma

RT PCR sendiri merupakan bagian dari kolaborasi antara Bio Farma, dengan star-up Nusatics dibawah koordinasi BPPT/Ristek-BRIN dalam gerakan Indonesia Pasti Bisa. Bio Farma dengan kompetensi dalam bidang bioteknologi memiliki tugas tidak hanya untuk memproduksi saja namun juga untuk validasi, regristrasi dan distribusi RT PCR ke seluruh pelosok Indonesia.

“Saat ini, Bio Farma mampu memproduksi sebanyak 50 ribu kits per minggu dengan menggunakan fasilitas yang sekarang berlokasi di kawasan Bio Farma. Apabila fasilitas produksi eks produksi vaksin flu burung dapat difungsikan, Bio Farma diharapkan akan mampu secara rutin memproduksi RT PCR sesuai dengan kebutuhan nasional, yaitu sebayak 20 ribu kit per hari atau 700 ribu kit perbulan”, ujar Honesti,

Dalam sambutannya Terawan Agus Putranto menekankan diperlukan adanya percepatan untuk penanganan COVID-19 seperti fasilitas produksi RT – PCR, maupun vaksin COVID-19, pihaknya mendukung Bio Farma untuk mempercepat pemanfaatan fasilitas produksi vaksin flu burung.

“Kami dari Kemenkes berharap Bio Farma mampu untuk memproduksi RT – PCR hingga 700 ribu kit per bulannya dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di Bio Farma, yang saat ini masih berada di bawah Kementerian Kesehatan, kami siap membantu Bio Farma untuk melakukan upaya percepatan pengalihan fasilitas produksi vaksin flu burung dari Kementerian Kesehatan ke Bio Farma”, Ujar Terawan.

Sementara itu Muhadjir Efendy menyampaikan apresiasi kepada Bio Farma yang sudah bisa memproduksi sendiri RT PCR untuk memenuhi kebutuhan nasional, diharapkan Bio Farma bisa terus menambah kapasitas produksinya “Peningkatan kapasitas produksi untuk RT-PCR tersebut memang diperlukan mengingat kebutuhan dalam negeri yang besar juga. Kami mengapresiasi keampuan Bio Farma yang sudah mampu memproduksi sendiri, RT PCR. untuk penambahan fasilitas produksi, bisa memanfaatkan fasilitas – fasiliitas yang ada sekarang, maupun memanfaatkan di tempat lain seperti di  Balitbangkes”,  ujar Muhadjir Efendy.

 

 

—-0000—-

 

Untuk informasi Media, Hubungi :

Iwan Setiawan

Head of Corporate Communications.

Bio Farma

Email : iwan.setiawan@biofarma.co.id

62 22 2033755 ext 5093

www.biofarma.co.id

twitter : @biofarmaID

Instagram :@biofarmaID

Bio Care : 1500810