2010 PT Bio Farma Rilis Vaksin H1N1
Alokasi Anggaran Mencapai Rp. 1,25 Triliun
BANDUNG (81), Koran Sindo : 09/10/09 - Vaksin virus flu babi (H1N1) yang kini sedang dikembangkan PT Bio Farma, siap diproduksi Agustus 2010 mendatang, dengan alokasi anggaran mencapai Rp 1,25 triliun.
Deputi Menteri Negara BUMN RI Bidang Usaha Jasa Lain Muchayat mengatakan, saat ini pemerintah sudah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 700 miliar untuk mendukung pengembangan virus HlN1. Jumlah anggaran tersebut masih bisa bertambah hingga vaksin itu diluncurkan.
"Pandemik flu babi yang terjadi baru-baru ini membuat Bio Farma lebih memfokuskan diri untuk pengembangan vaksin virus tersebut. Saat ini, pengembangan terus dilakukan dan diharapkan Agustus 2010 sudah dapat dirilis," kata Muchayat di sela acar Rakor BUMN Farmasi di Ruang Serbaguna PTBio Farma Bandung kemarin. Untuk tahap pengembangan ini, lanjut dia, pemerintah sudah mulai mengalokasikan dana dengan total mencapai Rp700 miliar. Namun, angka tersebut masih mungkin meningkat hingga Rp l,25 triliun sampai pada tahapan produksi.
Dia menjelaskan, saat ini pengembangan vaksin tersebut sudah memasuki tahapan clinical trial yang dilakukan pada 1.000 sampel manusia. Uji coba ini memerlukan 1.000 sampel yang tiap sampelnya memakan biaya hingga Rp3 juta perorang. Selain itu, Bio Farma juga akan melakukan skala laboratorium yang men elan biaya sebesar Rp20-25 miliar.
Direktur Utama PT Bio Farma Isa Mansyur berharap pemerintah bisa tanggap dengan rencana pengembangan dan produksi yang segera dilakukan. Menurut dia, pemerintah diharapkan dapat membeli vaksin flu bilbi produksi Bio Farma ini sebagai stock file.
"Jadi nanti ketika ada kejadian pandemik lagi, masyarakat tidak perlu ketakutan karena vaksinnya sudah ada dan jumlahnya juga mencukupi karena ditangani lang sung pemerintah," tambahnya.
Sementara itu, untuk menghindari kenaikan harga obat generik terkait fluktuasi USD, BUMN Farmasi mengusulkan kepada pemerintah untuk memberikan subsidi Rp3.000 per USDl untuk pembelian bahan baku obat murah tersebut.
Direktur Utama PT Kimia Fara Syamsul Arifin mengungkapkan, bila terjadi kenaikan harga. Obat murah, hal itu dipastikan akan memberatkan masyarakat. Namun begitu, produsen berpelat merah harus menanggung kerugian karena bahan baku pembuat obat dibeli dari luar negeri dengan menggunakan USD.
"Saya kira, pilihannya hanya ada dua, yakni menaikkan harga obat murah atau memberikan subsidi ke BUMN farmasi. Pemerintah harus memberikan solusi untuk BUMN farmasi agar perusahaan terhindar dari kerugian atau ke· bangkrutan yan'g akan berakibat pada terganggunya ketersediaan obat murah," kata Syamsul
Direktur Utama PT Kimia Farma Syamsul Arifin mengungkapkan, bila terjadi kenaikan harga. Obat murah, hal itu dipastikan akan memberatkan masyarakat. Namun begitu, produsen berpelat merah harus menanggung kerugian karena bahan baku pembuat obat dibeli dari luar negeri dengan menggunakan USD.
"Saya kira, pilihannya hanya ada dua, yakni menaikkan harga obat murah atau memberikan subsidi ke BUMN farmasi. Pemerintah harus memberikan solusi untuk BUMN farmasi agar perusahaan terhindar dari kerugian atau ke· bangkrutan yan'g akan berakibat pada terganggunya ketersediaan obat murah," kata Syamsul
Dia menerangkan, akibat melemahnya rupiah, kerugian yang diderita Kimia Farma saat ini mencapai Rp3 miliar. Semen tara kerugian yang harus ditanggung PT Indo Farma sebesar Rp 17 miliar.
BUMN farmasi berharap bisa secepatnya mengaplikasikan bioteknologi di industri obat-obatan. Direktur Utama PTIndoFarma P Sudibyo menuturkan, dalam kurun waktu paling lambat lima tahun, peralihan industri ke bioteknologi dalam industri farmasi sudah menjadi keharusan. Dengan demikian, BUMN farmasi mampu bersaing dengan industri global. "Bioteknologi saat ini menjadi trendunia.Kami harapkan dalam lima tahun mendatang sudah bisa memproduksi obat melalui bioteknologi ini," tutur dia.
(irvan christianto)