Partnership

INDUSTRI VAKSIN NEGARA BERKEMBANG
28 Oktober 2014 telah berlangsung pertemuan tahunan ke-15, produsen Vaksin Negara Berkembang
atau 15th Annual General Meeting DCVMN (Developing Countries Vaccine Manufacturers Network) di New
Delhi, India. Kegiatan yang diadakan rutin setiap satu tahun sekali ini menambah kepercayaan dunia
terhadap Indonesia, dengan dipercaya kembali Mahendra Suhardono, Direktur Pemasaran Bio Farma
menjadi Presiden DCVMN periode 2014-2016. DCVMN ke-15 tersebut dihadiri oleh anggota, 42 produsen
vaksin negara berkembang yang tersebar di 16 negara, juga organisasi kesehatan global seperti UNICEF, GAVI
(Global Alliance for Vaccine Initiative), Bill & Melinda Gates Foundation.
Pada tahun 2014 DCVMN berkomitmen untuk mendukung program agar semakin banyak vaksin
yang diproduksi di negara berkembang, dengan kualitas yang baik (memenuhi standard WHO) dan
dengan harga yang terjangkau (affordable). DCVMN juga mendorong produsen vaksin untuk menjaga dan
mengamankan pasokan vaksin yang berkelanjutan khususnya untuk vaksin yang diprioriotaskan
memenuhi kebutuhan global.
Negara-negara berkembang yang memiliki populasi besar harus mempersiapkan diri dalam menghadapi
munculnya penyakit-penyakit baru, untuk itu DCVMN memiliki target prioritas yang ingin dicapai, mencakup
vaksin-vaksin baru antara lain Vaksin Pentavalent/Hexavalent, Pneumococcal Conjugate, Rotavirus,
Typhoid Conjugate, Human Papilloma, Campak/Rubella dan Inactivated Polio Vaksin.

 

KEMANDIRIAN INDUSTRI VAKSIN DI NEGARA-NEGARA ISLAM
Bio Farma bersama produsen vaksin dari negara Islam, melaksanakan pertemuan Produsen Vaksin di
Negara Islam “First Meeting of Vaccine Manufacturers Group From OIC Countries” di Jeddah, Saudia Arabia.
Pertemuan tersebut membahas tentang upaya kemandirian vaksin di negara Islam.

Saat ini beberapa negara Islam telah memiliki industri vaksin. Negara Islam yang memiliki industri vaksin,
diantaranya adalah Indonesia, Iran, Tunisia, Mesir dan Senegal. Namun tidak semua vaksin yang diproduksi
negara Islam bisa bersaing dalam memenuhi kebutuhan vaksin dunia. Hal ini dikarenakan sebagian
besar industri vaksin tersebut belum mempunyai prakualifikasi (PQ) WHO. Sejauh ini, Bio Farma Indonesia menjadi salah satu produsen vaksin negara Islam yang telah memperoleh PQ-WHO. Indonesia
patut berbangga karena menjadi negara Islam yang industri vaksinnya telah memperoleh PQ-WHO dengan
jumlah produk terbanyak sejak tahun 1997.

Indonesia sebagai salah satu negara anggota OIC turut mendorong anggota OIC agar mampu mewujudkan
kemandirian dalam memproduksi produk farmasi, khususnya vaksin yang berkualitas dan terjangkau.
Indonesia, yang telah ditunjuk sebagai hub of vaccine technology, telah menunjukkan bukti konkret dalam
upaya mencapai salah satu visi OIC yaitu kemandirian produksi vaksin bagi negara Islam (Self-Reliance For
Vaccine Production/SRVP) dengan produk terbarunya Vaksin Pentavalent yang diproduksi mandiri oleh
Bio Farma. Vaksin Pentavalent telah digunakan dalam Program Imunisasi nasional sejak tahun 2013. Bio Farma
Indonesia sebagai produsen vaksin yang telah memenuhi standar prakualifikasi Badan Kesehatan
Dunia (WHO) siap membantu negara anggota OIC untuk penyediaan bahan baku/intermediate product
(bulk) serta meningkatkan expertise untuk proses downstream/Fill and Finish Process.

Bio Farma telah menjalin kerja sama dengan berbagai  institusi, lembaga riset /biotech company, Universitas dalam negeri dan luar negeri.
Selain berperan aktif pada Lembaga kesehatan international (WHO), juga sebagai president DCVMN (Developing Countries Vaccine Manufacturers Network) 2012 – 2014, 2014 – 2016  dan sebagai chairman pada Self Reliance of Vaccine Production (SRVP) IDB tahun 2010. Bio Farma juga dipercaya sebagai Board of Trustees “ IVI “ (International Vaccine Institute) serta di dalam negeri sebagai anggota Dewan Riset Nasional.