Manajemen Risiko

RISIKO KORPORAT TAHUN 2017

 

 

Sebagai wujud komitmen PT Bio Farma (Persero) dalam menerapkan GCG yang efektif sesuai dengan  Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor: PER-01/MBU/2011 tanggal 1 Agustus 2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara dan PER-09/MBU/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor PER-01/MBU/2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara, perusahaan telah membentuk unit pengelola Manajemen Risiko Perusahaan (Korporat) yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama. Dalam melakukan manajemen risiko, perusahaan memiliki kebijakan yang dituangkan dalam Manual Bio Farma (MBF-01 dan MBF-02). Sedangkan konsep pengelolaan risiko Bio Farma berpedoman pada Surat Keputusan Bersama Dewan Komisaris Dan Direksi PT Bio Farma (Persero) No: KEP-06/DK/BF/II/2013, No: 01025/DIR/II/2013 tanggal 22 Februari 2013 tentang Pedoman Dewan Komisaris Dan Direksi (Board Manual) PT Bio Farma (Persero).

Pada tahun 2017, terdapat 8 (delapan) risiko korporat, yang terbagi atas 7 (tujuh) risiko dari aktivitas rutin dan 1 (satu) risiko proyek. Setelah menentukan risiko-risiko korporat, Divisi Compliance & Risk Management (CRM) selaku penanggung jawab risiko korporat akan melakukan pengelolaan risiko (mitigasi), monitoring dan evaluasi kegiatan penanganannya yang secara keseluruhan menjadi ukuran efektivitas pelaksanaan Manajemen Risiko di Bio Farma.

Risiko-risiko yang menjadi prioritas perusahaan dalam  melakukan monitoring dan evaluasi :

  1. Perubahan Kebijakan / Regulasi Nasional dan Internasional

Pengakuan kualitas produk oleh Badan WHO (World Healt Organization) memegang peran penting dalam kelancaran penjualan produk ekspor Bio Farma. Berdasarkan hal  itu,  Perusahaan harus selalu mengikuti perkembangan perubahan kebijakan dan persyaratan nasional maupun internasional, terutama regulasi dari Badan WHO agar dapat terhidar dari delisting WHO, serta perubahan-perubahan regulasi yang mungkin terjadi di Pemerintah.

 

Perusahaan mengimplementasikan sistem manajemen kualitas (Quality Management System/ QMS) secara konsisten dan berkesinambungan dengan mengikuti regulasi yang berlaku. Menjaga komunikasi internal dan eksternal perusahaan dengan Badan WHO maupun BPOM dan instansi lainnya serta berperan aktif dalam kegiatan nasional dan internasional merupakan strategi-strategi untuk mengurangi risiko tersebut.

 

  1. Keterlambatan Pelaksanaan Proyek Pembangunan Gedung

Peningkatan kapasitas produksi dan kapabilitas, Perusahaan telah mengganggarkan beberapa proyek pembangunan gedung. Dengan adanya proyek pembangunan ini, perlu dilakukan antisipasi atas risiko keterlambatan pelaksanaan proyek tersebut. Keterlambatan akan menyebabkan jadwal pengoperasian atau penggunaan fasilitas dapat tertunda dan pada akhirnya revenue perusahaan juga tertunda.

 

Konsultan perencana/ pengawas GMP terkait investasi Bangunan berperan dalam merencanakan dan mengawasi pelaksanaan proyek pembangunan gedung agar dapat terlaksana sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan. Kegiatan monitoring dan pelaporan hasil progres pelaksanaan proyek oleh unit terkait, penyempurnaan proses bisnis dan peningkatan jumlah serta kompetensi SDM yang mumpuni merupakan strategi-strategi yang dilakukan dalam melakukan mitigasi risiko perusahaan.

 

  1. Keluar/ Pindahnya Karyawan Yang Memilki Talenta dan Potensi Tinggi

Karyawan merupakan aset yang paling berharga dalam menjalankan bisnis Perusahaan. Setiap perusahaan senantiasa membutuhkan dan mempekerjakan karyawan  yang berkualitas, terutama Karyawan yang memiliki talenta dan potensi tinggi. Banyak faktor dan penyebab karyawan yang berkualitas meninggalkan perusahaan. Namun apabila Karyawan tersebut meninggalkan perusahaan dengan segala kompetensi dan pengetahuan yang dimilikinya, maka akan menimbulkan dampak yang tidak baik terhadap kinerja bisnis perusahaan.

 

Implementasi sistem manajemen human capital (HCMS) yang berbasiskan kompetensi dan kinerja termasuk didalamnya adalah pengelolaan manajemen talenta, manajemen pengembangan dan manajemen reward bagi Karyawan yang memiliki talenta dan potensi tinggi serta pengelolaan Karyawan melalui sistem karir yang berbasis kompetensi dan kinerja serta berbasiskan pengetahuan diharapkan dapat  menurunkan dan mengantisipasi risiko-risiko tersebut.

 

  1. Tidak Terserapnya Persediaan Produk

Perusahaan secara rutin telah memasok vaksin untuk kebutuhan program imunisasi baik dalam negeri maupun luar negeri melalui institusi internasional dan secara bilateral. Ketersediaan vaksin disesuaikan dengan forecast atau rencana pengiriman produk dari konsumen. Terdapat risiko apabila produk telah diproduksi dan siap dipasarkan, namun produk tidak terserap oleh pasar.

 

Perusahaan melakukan komunikasi dengan konsumen untuk memperoleh informasi terkini atas kebijakan registrasi produk dan kebijakan program imunisasi di negara tujuan ekspor. Dalam mengurangi ketergantungan penjualan bulk (produk ruahan) ke beberapa konsumen, perusahaan diharapkan dapat berperan aktif dalam kegiatan internasional baik Badan WHO maupun organisasi lain terutama yang berkaitan dengan vaksin agar dapat memperoleh informasi terkini atas perkembangan pasar vaksin dan informasi kebijakan global merupakan strategi-strategi yang dapat diterapkan untuk mengantisipasi risiko tidak terserapnya persediaan produk.

 

  1. Kinerja Manajemen dan Karyawan Tidak Mencapai Target KPI

Target Key Performance Indicators (KPI) yang sesuai dengan bisnis perusahaan dan telah disepakati dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) antara Pemegang Saham dan Manajemen kemudian akan dijabarkan ke dalam KPI Direktorat, Divisi dan Bagian.  Jika realisasinya tidak sesuai atau dibawah standar dari target  KPI dalam RKAP, akan  menyebabkan risiko menurunnya pendapatan perusahaan.

 

Dengan mengimplementasikan sistem manajemen human capital (HCMS) yang berbasiskan kompetensi dan kinerja termasuk didalamnya adalah pengelolaan manajemen penilaian kinerja dan manajemen reward bagi Karyawan diharapkan dapat menurunkan risiko atas kinerja manajemen dan karyawan tidak mencapai target KPI.

 

  1. Pemalsuan Produk Bio Farma

Pada tahun 2016, terdapat temuan peredaran vaksin palsu di Indonesia. Walaupun hasil investigasi lebih lanjut menunjukkan bahwa tidak ada vaksin Bio Farma yang dipalsukan, dan hanya serum yang dipalsukan, namun demikian perusahaan melihat masih terdapat potensi risiko pemalsuan terhadap vaksin. Kasus pemalsuan ini kemungkinan dapat terjadi lagi di masa mendatang dan hal ini dapat menyebabkan penurunan tingkat kepercayaan konsumen akan produk Bio Farma baik vaksin maupun serum yang pada akhirnya akan mempengaruhi terhadap kinerja perusahaan.

 

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Perusahaan menyiapkan strategi-strategi seperti menjaga ketersediaan produk di pasar, sehingga permintaan konsumen dapat  terpenuhi. Disamping itu, Perusahaan melakukan inovasi pada kemasan atau penandaan produk yang menunjukkan spesifisitas produk Bio Farma agar mudah dikenali jika terjadi pemalsuan, serta mempelajari regulasi baik di dalam maupun di luar negeri, yang berhubungan dengan penandaan produk, seperti UNICEF, WHO, FDA USA dan EMEA. Dalam menangani potensi dan tindak lanjut vaksin palsu, Perusahaan juga melakukan koordinasi internal maupun eksternal dengan Instansi luar lainnya seperti BPOM dan Kementerian Kesehatan.

 

  1. Munculnya Berita Negatif Mengenai Perusahaan di Media Massa Mainstream

Sejalan dengan perubahan, saat ini  media tidak hanya membuat berita yang secara bisnis harus menguntungkan dan media tidak hanya sebagai institusi ideologis tetapi juga institusi bisnis.  Media juga memiliki prinsip apakah sebuah berita layak siar dan layak jual serta menilai apakah sebuah berita memiliki news value & selling value. Dengan adanya perubahan tersebut, Perusahaan perlu strategi khusus dan lebih berhati-hati terhadap tren media, karena dapat menimbulkan berita negatif tentang Perusahaan, baik di media massa mainstream maupun di media online.

 

Terdapat 3 (tiga) strategi utama yang akan dilaksanakan dalam rangka menghadapi risiko tersebut antara lain : Strategi Preventing , Strategi Protecting dan Strategi Promoting.

 

  1. Implementasi MRP  Tidak Sesuai Target

Ketersediaan barang hasil produksi dan ketepatan jumlah persediaan menjadi salah satu faktor kunci memenangkan persaingan di pasar. Ketersediaan jumlah hasil produksi sangat dipengaruhi oleh jumlah bahan baku/penolong yang harus selalu tersedia sesuai kebutuhan, tidak mengalami stock out atau over stock. Untuk tujuan ini, maka Perusahaan telah membuat modul Material Resources Planning (MRP) yang meliputi area produksi.

 

Strategi yang dapat dilakukan Perusahaan diawali dengan komitmen kuat manajemen untuk menggunakan MRP sebagai salah satu tools wajib Perusahaan. Kemudian dilakukan internalisasi kepada seluruh unit mengenai proses bisnis yang terintegrasi dan pentingnya transparansi data disetiap unit. Memastikan aplikasi MRP sesuai kebutuhan dengan melakukan validasi dan uji coba software yang sesuai standard Quality Assurance Bio Farma serta menata proses bisnis di warehouse Bio Farma.