Manajemen Risiko

struktur-organisasi

 

Kewajiban perusahan untuk menerapkan Manajemen Risiko terdapat dalam Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor: PER-01/MBU/2011 tanggal 1 Agustus 2011 tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara. Manajemen Risiko Korporasi di Bio Farma dituangkan di dalam Manual Bio Farma (MBF-01 dan MBF-02). Konsep pengelolaan risiko Bio Farma berpedoman pada Surat Keputusan Bersama Dewan Komisaris Dan Direksi PT Bio Farma (Persero) No: KEP-06/DK/BF/II/2013, No: 01025/DIR/II/2013 tanggal 22 Februari 2013 tentang Pedoman Dewan Komisaris Dan Direksi (Board Manual) PT Bio Farma (Persero).

Perusahaan telah menerapkan Manajemen Risiko Korporat atau Enterprise Risk Management (ERM) sejak tahun 2009, yang dituangkan dalam dokumen manual mutu, pedoman dan prosedur baku. Sistem Manajemen Risiko yang diterapkan di Bio Farma disusun berdasarkan identifikasi dan pengukuran risiko dari masing-masing unit kerja yang diukur berdasarkan nilai kemungkinan dan dampak, sehingga diperoleh prioritas risiko yang harus dikendalikan. Pengukuran risiko ini diimplementasikan selain untuk aktivitas rutin juga untuk proyek.

Manajemen Risiko Korporat di Bio Farma memiliki enam risiko berdasarkan fungsi yaitu fungsi kualitas (potensi penyimpangan dari hasil yang diharapkan karena tidak berfungsinya salah satu atau lebih faktor dalam 6 M, yaitu methods, man, machine/equipment, materials, measurement system, mother nature/environment), fungsi lingkungan (risiko terkait pengelolaan aspek penting lingkungan diantaranya limbah (padat, cair, gas), penggunaan energi dan sumber daya serta dampak yang ditimbulkan oleh perusahaan (polusi : udara, air, tanah dan pemborosan energi – SDA), fungsi K3 (risiko yang terkait dengan aspek penyakit akibat kerja dan kecelakaan kerja), fungsi keuangan (risiko keuangan/risiko fluktuasi target keuangan atau ukuran moneter perusahaan karena gejolak berbagai variabel makro), fungsi bisnis (potensi penyimpangan hasil korporat (nilai perusahaan dan kekayaan pemegang saham) misalnya karena perusahaan memasuki suatu bisnis tertentu dengan lingkungan industri yang khas dan menggunakan teknologi tertentu), dan fungsi strategis (risiko yang dapat mempengaruhi korporat secara menyeluruh sebagai akibat keputusan strategis yang tidak sesuai).

Pada tahun 2016, terdapat 6 (enam) risiko korporat, yang terbagi atas 4 (empat) risiko dari aktivitas rutin dan 2 (dua) risiko proyek. Setelah menentukan risiko-risiko yang terkait dengan korporat dan langkah-langkah strategis yang akan diambil dalam menangani risiko-risiko tersebut, Divisi Compliance and Risk Management (CRM) selaku penanggung jawab risiko korporat akan melakukan evaluasi dan monitoring kegiatan penanganan risiko yang dilaksanakan setiap unit. Masing-masing Kepala Bagian unit risiko menjadi penanggung jawab setiap risiko dan kegiatan penanganannya yang secara keseluruhan menjadi ukuran efektivitas pelaksanaan manajemen risiko di Bio Farma.

Adapun rincian risiko korporat tersebut adalah :

  • Perubahan Kebijakan / Regulasi Nasional dan Internasional

    Bio Farma telah mengekspor produknya ke berbagai negara untuk kebutuhan program imunisasi di negara tersebut, yang antara lain disuplai melalui UNICEF dengan persyaratan produk harus memenuhi prakualifikasi WHO. Oleh karena itu, pengakuan kualitas produk oleh WHO memegang peran penting dalam kelancaran penjualan ekspor. Perusahaan harus selalu mengikuti perkembangan perubahan kebijakan dan persyaratan internasional, terutama regulasi dari WHO, serta perubahan-perubahan regulasi yang mungkin terjadi di Pemerintah. Risiko ini memiliki dampak yang cukup besar pada kemampuan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan sehingga ketika risiko ini terjadi, perusahaan harus segera menyesuaikan dengan regulasi/kebijakan yang baru secepatnya dan menyiapkan strategi antisipatif jika regulasi berubah kembali.

    Risiko ketidakmampuan memenuhi kebijakan dan persyaratan WHO (delisting WHO) juga tidak hanya terhadap Perusahaan, tetapi kemungkinan terjadi juga pada rekanan yang menjadi konsumen pembelian bulk (bahan ruahan untuk diproses menjadi vaksin). Bila rekanan tersebut mengalami delisting WHO, maka pembelian bulk akan terganggu.

    Strategi untuk mengurangi semua risiko diatas antara lain adalah implementasi sistem manajemen kualitas (Quality Management System) secara konsisten dan berkesinambungan sesuai ketentuan WHO sehingga Perusahaan tetap dapat mempertahankan status prakualifikasinya; Berperan aktif dalam kegiatan internasional baik WHO maupun organisasi lain terutama yang berkaitan dengan regulasi vaksin sehingga tetap mengikuti perkembangan; Pemastian pengembangan produk-produk yang sesuai tuntutan regulasi, diantaranya dengan cara men-design pengembangan produk dari skala riset. Sementara itu, untuk mengantisipasi turunnya penjualan vaksin Polio Oral dilakukan dengan beberapa langkah seperti, meningkatkan kapasitas produksi bulk vaksin yang telah memenuhi prakualifikasi WHO dan masih dibutuhkan pasar seperti Measles dan Hib; kerjasama teknologi untuk formulasi Vaksin IPV (Inactivated Polio Vaccine) selama Bio Farma belum memproduksi sendiri; mempercepat kesiapan produksi Vaksin IPV sendiri.

  • Fluktuasi Nilai Kurs Mata Uang Asing

    Dalam menjalankan kegiatan bisnisnya, Perusahaan juga menghadapi risiko keuangan yakni fluktuasi mata uang asing, yang dapat menimbulkan dampak dalam bentuk kerentanan terhadap fluktuasi valuta asing. Fluktuasi mata uang asing, terutama dalam Dollar Amerika, sangat berdampak pada biaya produksi. Untuk memenuhi kewajiban atas transaksi pembelian barang/bahan impornya, perusahaan akan mengoptimalkan untuk selalu tersedianya dana valuta asing yang siap dibayarkan atas transaksi impor tersebut. Risiko yang sangat mungkin terjadi adalah selisih nilai mata uang asing antara nilai pembukaan L/C pada saat barang/bahan dipesan dengan nilai kewajiban yang harus dibayar pada saat barang/bahan tersebut diterima.

    Strategi untuk mengurangi risiko tersebut antara lain adalah menganalisa nilai kurs yang akan dipakai pada saat pembukaan LC atas barang/bahan yang diimpor tersebut dan mengupayakan/selalu berkomunikasi dengan pihak vendor perihal jadwal kedatangan barang/bahan tersebut. Kemudian membuat Cash Flow mingguan dalam rentang waktu 3 bulan, melakukan hedging natural yaitu menyeimbangkan jumlah aset valas dengan kewajiban valas pada periode tertentu dan menjajagi penerapan hedging atau lindung nilai dengan cara forward beli USD/IDR terhadap kewajiban USD dimasa mendatang. Strategi lain adalah dengan cara forward jual USD/IDR terhadap hasil ekspor dan mengupayakan rate hasil penjualan valas minimal sama dengan JISDOR atau kurs tengah pada hari transaksi.

  • Realisasi Investasi Tidak Sesuai Jadwal

    Perusahaan harus dapat menjaga ketersediaan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar, baik melalui perbaikan sarana dan prasarana produksi maupun melalui riset dan pengembangan produk baru. Diperlukan sarana dan fasilitas yang memadai untuk mendukung proses produksi yang memenuhi persyaratan atau regulasi yang berlaku serta fasilitas riset & pengembangan yang mumpuni agar riset dan pengembangan produk ini dapat diselesaikan tepat waktu, agar produk dapat masuk ke pasar sesuai dengan kebutuhan. Adanya keterlambatan dalam program investasi baik yang mendukung proses riset maupun produksi akan menyebabkan hilangnya kesempatan meraih pasar, sehingga perencanaan dan pelaksanaan program investasi harus tepat waktu dan sasaran.

    Beberapa strategi untuk mengurangi risiko tersebut adalah penambahan konsultan perencana/pengawas dengan kualifikasi memahami GMP terkait investasi bangunan, penyiapan dokumen perencanaan sudah tersedia di awal tahun anggaran, term anggaran dibuat multiyear, dan penyempurnaan Proses Bisnis serta peningkatan jumlah dan kompetensi SDM di Divisi Pengadaan.

  • Ketidaksiapan Produksi Vaksin Influenza untuk menghadapi pandemik

    Wabah flu burung saat ini masih menjadi isu nasional dan juga global. Sebagai negara  dengan jumlah penduduk yang besar, Indonesia membutuhkan kesiapsiagaan tinggi dalam menghadapi ancaman pandemik. Ketersediaan vaksin merupakan salah satu komponen penting kesiapsiagaan menghadapi pandemik. Penanganan dan antisipasi yang serius perlu segera diambil agar wabah flu burung tidak menjadi wabah pandemik. Bio Farma sebagai satu-satunya produsen vaksin di Indonesia, sudah selayaknya menyediakan dukungan nasional atas kesiapannya dalam menghadapi pandemik.

    Strategi yang ditempuh adalah dengan segera menguasai teknologi produksi vaksin flu. Saat ini Bio Farma sudah mampu memproduksi vaksin influenza, walaupun dalam kapasitas yang masih terbatas. Strategi lainnya adalah menyiapkan sarana dan fasilitas dalam skala terbatas vaksin seasonal flu yang sewaktu-waktu dapat dimanfaatkan untuk pembuatan vaksin pandemik influenza jika diperlukan, melakukan stockpiling bulk vaksin, dan melakukan technology maintenance.

  • Meningkatnya Persaingan Global

    Dalam era pasar terbuka sekarang ini, persaingan dalam sektor farmasi dan produk biologi akan semakin ketat dengan semakin banyaknya bermunculan perusahaan-perusahaan internasional. Persaingan tersebut timbul dalam berbagai aspek, seperti kemampuan operasional pesaing internasional yang lebih kuat, produk-produk yang inovatif, perubahan permintaan pasar, maupun daya beli masyarakat yang terbatas. Ancaman atas produk dari kompetitor seperti dari China dan India, untuk produk yang sudah PQ (Prequalification) WHO dan pasar tunggal ASEAN menjadi hal yang serius untuk keberlangsungan perusahaan. Demikian pula penambahan kompetitor global yang mendapat PQ WHO akan meningkatkan persaingan dan dapat merebut pangsa pasar dalam dan luar negeri. Oleh karena itu, kesesuaian produk yang dihasilkan dengan trend pasar menjadi faktor yang sangat serius bagi kelangsungan perusahaan, produk yang dikeluarkan harus sesuai dengan kebutuhan pasar dan dapat disediakan tepat waktu.

    Strategi untuk menghadapi risiko tersebut, perusahaan harus sungguh-sungguh melakukan langkah-langkah seperti mempersiapkan produk-produk vaksin baru maupun produk life science yang sesuai kebutuhan pasar, kemudian melakukan kerjasama riset dan transfer teknologi dengan institusi/lembaga dalam dan luar negeri untuk mempercepat pengembangan vaksin baru, maupun kerjasama dengan institusi/lembaga lain untuk mempercepat optimasi produksi, proses uji preklinis dan uji klinis.

  • Keterlambatan dalam Supply Vaksin

    Bio Farma merupakan satu – satunya produsen vaksin di Indonesia yang memasok seluruh kebutuhan vaksin untuk program imunisasi di dalam negeri. Disamping untuk memenuhi kebutuhan pemerintah, Perusahaan juga mengekspor vaksin ke berbagai institusi maupun negara lainnya. Pemenuhan kebutuhan harus dilakukan dalam waktu yang sangat ketat mengingat proses produksi & QC yang memerlukan waktu lama serta kapasitas produksi yang sangat terbatas, sehingga dapat mengakibatkan pemenuhan kebutuhan produk ke konsumen bilateral/institusi negara lain dapat terganggu. Risiko ini muncul dari beberapa risiko terkait seperti adanya perubahan forecast atau permintaan produk yang mendadak yang diikuti perubahan rencana produksi secara mendadak, dan kekurangan pasokan material karena terbatasnya kemampuan pemasok dalam memenuhi spesifikasi barang maupun kuantitas.

    Strategi untuk mengurangi risiko tersebut antara lain adalah mengoptimalkan supply chain management yang berbasis teknologi informasi, mengoptimalkan jadwal produksi dan QC sesuai dengan kebutuhan pemasaran, melakukan kebijakan strategi dan manajemen persedian yang lebih baik yang adaptif dengan perubahan dan kondisi perusahaan, dan melakukan strategi multiple supplier untuk menjamin kelancaran pasokan ketika terjadi gangguan.