Bio Farma dan Serikat Pekerja Sepakati Perjanjian Kerja Bersama Periode 2018 – 2020

By biofarma

Bio Farma dan Serikat Pekerja Bio Farma menyepakati Perjanjian Kerja Bersama (PKB) periode 2018 – 2020, pada tanggal     5 Januari 2018. PKB yang ditanda tangani oleh Plt Direktur Utama Bio Farma, Juliman, dan Ketua Himpunan Karyawan Bio Farma,  Moh Usman, disaksikan oleh Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Ketenagakerjaan Dinas Tenaga Kerja Kota Bandung, Suardi, jajaran Direksi Bio Farma, serta tim perumus PKB Bio Farma.

PKB merupakan kesepakatan bersama yang dibuat oleh perwakilan perusahaan dan perwakilan serikat pekerja, yang bertujuan untuk menciptakan hubungan industrial yang harmonis dalam perusahaan.

Juliman berharap dengan ditandatanganinya PKB periode 2018 – 2020, dapat segera diaplikaskan dengan sebaik – baiknya sehingga menjadi motivasi untuk melalukan kebaikan sehingga akan terwujud hubungan industrial yang lebih baik lagi, “PKB periode 2018 – 2020 ini kami harap dapat segera diaplikasikan dalam setiap kegiatan perusahaan sehingga bisa menjadi motivasi untuk melakukan kebaikan dan menjadi penyemangat untuk menciptakan hubungan industrial yang lebih harmonis lagi”, Ujar Juliman.

Sementara itu, perwakilan dari Serikat pekerja  Bio Farma Moh Usman mengatakan, PKB ini akan bermuara pada kesejahteraan karyawan, yang didapat dari kondisi perusahaan yang sehat, “Serikat pekerja memposisikan diri sebagai mitra dari perusahaan untuk mewujudkan kesejahteraan karyawan, melalui keberlangsungan keberadaan perusahaan, karena kita sadari, bahwa kesejahteraan karyawan tidak akan terwujud apabila perusahaanya tidak sehat”, Ungkap Usman.

—*—

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi:

N Nurlaela Arief

Head of  Corporate Communications Dept.

Bio Farma

(022) 2033755 ext 37412

Email : lala@biofarma.co.id

Gencarkan Vaksinasi Difteri di DKI, Anies akan Gandeng Bio Farma

By biofarma

Jakarta – Pemprov DKI Jakarta bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI akan menggandeng PT Bio Farma untuk mengalokasikan vaksin difteri. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan pihaknya akan memasifkan vaksinasi difteri dengan cepat.

“Bersama dengan Kemenkes kita akan mendapatkan dari Bio Farma, kita akan minta mendapatkan vaksin multidoze sehingga Jakarta bisa melakukan proses vaksinasi dengan masif dan cepat,” kata Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (3/1/2018).

Anies mengaku akan melayangkan surat ke PT Bio Farma untuk menindaklanjuti hal tersebut. Ia berharap, PT Bio Farma dapat mendukung langkah Pemprov DKI untuk melakukan pencegahan penyakit difteri.

“Mengharap pada Bio Farma untuk memberikan dukungan prioritas,” ujarnya.

Menurut Anies vaksinasi difteri di Jakarta perlu dilakukan dengan cepat dan masif. Hal ini karena Jakarta akan menjadi tuan rumah ajang olahraga internasional Asian Games.

“Jangan sampai ujian besar ini justru menjadi penghambat karena kasus difteri yang merebak. Tadi sempat disampaikan ketika Asian Games dulu tahun 62 (1962) salah satu concern-nya karena ada cacar,” kata Anies.

“Dia bilang salah satu dokternya masih mahasiswa ketika itu, beliau menceritakan para mahasiswa ramai-ramai menjadi relawan untuk memberikan vaksin cacar kepada warga supaya tidak menjadi masalah karena waktu itu sempat dipersoalkan cacar di Jakarta,” lanjutnya.

Anies tak ingin, hal yang sama kembali terulang. Ia tak ingin wabah difteri menjadi permasalahan yang menghambat penyelenggaraan Asian Games 2018.

“Karena itu tadi saya sampaikan Jakarta mengharapkan Bio Farma memberikan prioritas dan Kemenkes memberikan dukungan agar vaksin multidoze untuk Jakarta bisa diawalkan penyediaannya. Untuk itu kita bisa mulai memberikan vaksin pada semuanya,” ujar Anies.

Anies sebelumnya mengungkapkan, selama tahun 2017, ditemukan 109 kasus difteri di Jakarta. Angka tersebut melonjak drastis dari tahun-tahun sebelumnya.

“Di tahun 2017 selama 1 tahun di Jakarta ditemukan 109 kasus angka ini memang meningkat signifikan. Tahun 2014 itu 4 kasus, 2015 10 kasus, 2016 17 kasus dan 2017 melonjak menjadi 109 kasus,” ungkap Anies.
(nvl/nvl)

 

Sumber : www.detik.com

https://news.detik.com/berita/d-3797328/gencarkan-vaksinasi-difteri-di-dki-anies-akan-gandeng-bio-farma

“Komunitas Thalasemia Kunjungi Bio Farma”

By biofarma

Di tengah pelaksanaan donor darah rutin yang diselenggarakan oleh Keluarga Donor Darah Bio Farma hari Selasa, 5 Desember 2017 kami kedatangan tamu dari komunitas pasien Thalasemia yang tergabung dalam “Thaller B227”.

Dalam kunjungannya ke Bio Farma , Ibu Keke selaku Pembina Thaller B227 , mengatakan bahwa kedatangan mereka selain untuk silaturahmi ke pada para pendonor darah di Bio Farma ,menjelaskan  manfaat darah yang disumbangkan oleh para pendonor bagi pasien Thalsemia  juga sharing informasi tentang penyakit Thalasemia serta  eksistensi komunitas sekaligus   perkenalan dengan pasien Thalasemia.

Komunitas ini didirikan 5 tahun yang lalu tepatnya tanggal 27 Pebruari 2012 dan sekarang menghimpun puluhan pasien Thalasemia, kegiatannya selain memberikan semangat kepada pasien thalassemia juga melakukan outing seperti touring dan camping.

Thalasemia adalah penyakit kelainan darah yang ditandai dengan kondisi sel darah merah mudah rusak atau umurnya lebih pendek dari sel darah normal (120 hari). Akibatnya penderita thalasemia akan mengalami gejala anemia diantaranya pusing, muka pucat, badan sering lemas, sukar tidur, nafsu makan hilang, dan infeksi berulang. Thalasemia adalah penyakit yang sifatnya diturunkan. Penyakit ini, merupakan penyakit kelainan pembentukan sel darah  merah.Thalasemia dapat dicegah dengan skrining darah sebelum melaksanakan pernikahan.

Salah seorang anggota komunitas yang berusia 27 tahun menuturkan pengalamannya yang terdeteksi penyakit ini sejak berusia 9 bulan dan selama ini harus menerima donor darah sebulan sekali. Akan tetapi setiap pasien yang menerima darah dari pendonor akan mengalami peningkatan kadar Fe (besi) dalam darahnya yang berakibat pembengkakan organ limfa, sehingga hampir semua pasien diangkat limpanya (splenektomi)  karena pembengkakan bahkan ada yang membesar hingga berat 5 kg.

Untuk mengurangi kadar besi dalam darah maka diperlukan obat penurun kadar besi baik dalam sediaan oral maupun suntik tergantung kecocokan individu pasien.

Tidak terlihat wajah sedih dari mereka, mereka sudah ikhlas menerima ketetapan dari Allah SWT dengan gembira walaupun sangat berat, dan tetap melakukan aktifitas yang berguna baik sebagai karyawan maupun sebagai pembuat produk-produk cindera mata seperti mug.

Alhamdulillah dengan adanya BPJS mereka tidak perlu lagi mengeluarkan dana untuk pembelian obat penurun kadar besi.

Kunjungan ini diharapkan dapat mengedukasi dan mengajak setiap elemen masyarakat mengenal lebih jauh tentang thalasemia, karena darah dari pendonor adalah kebutuhan yang sangat penting bagi mereka. Jadi, dengan adanya informasi ini, masyarakat pun dapat semakin tergerak hatinya untuk menjadi pendonor darah, kunjungan ini diakhiri dengan sesi foto bersama.

Jajat Sudrajat-KDD Bio Farma

Bio Farma Sosialisasikan e-LHKPN sebagai Komitmen Penyelenggara Negara yang Bersih

By biofarma

Juliman, Plt Direktur Utama Bio Farma saat membuka acara sosialisasi e-LHKPN

Bandung 5 Desember 2017, Bio Farma selenggarakan sosialisasi penyampaian laporan harta kekayaan pejabat negara secara elektronik atau e-LHKPN sesuai peraturan KPK-07 Tahun 2016. e-LHKPN ini wajib dilakukan oleh Penyelenggara Negara kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dengan tujuan agar pelaporan harta kekayaan dapat menjadi lebih mudah, lebih transparan, dan lebih mudah diakses.

Hadir sebagai Narasumber David Tarihoran, dari Direktorat PP LHKPN dengan peserta dari Bio Farma yang berjumlah lebih dari 100 Orang, terdiri dari Komisaris, Direksi, Kepala Divisi, Kepala Bagian.

Menurut Juliman, Plt Direktur Utama Bio Farma dalam sambutannya “ Kami mengajak para pejabat di Bio Farma untuk menggunakan aplikasi e-LHKPN sebagai bukti transparansi, komitmen good corporate governance selama menjabat dan akhir menjabat di Bio Farma” sesuai dengan tujuan dan manfaat LHKPN yaitu untuk mewujudkan penyelenggara Negara yang bersih, sebagai instrument transparansi dan manajemen SDM pada awal menjabat, sebagai instrument pengawasan selama menjabat dan sebagai instrument akuntabilitas saat akhir menjabat”.

Acara diakhiri dengan simulasi pelaporan dengan menggunakan e-filing dan e-lhkpn, adapun pada masa transisi dari LHKPN yang lama ke metode e-LHKPN yang baru terdapat beberapa keringanan dalam penyampaian LHKPN diantaranya ada 7 langkah mudah untuk menyampaikan pelaporan e-LHKPN ini.

 

———-*****———-

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi:

N.Nurlaela Arief

Head of Corporate Communications Dept.

Telp (022) 2033755 Fax (022) 2041306

Email : lala@biofarma.co.id

www.biofarma.co.id

Bio Farma Dipercaya Terapkan Sistem Arsip Digital dari ANRI

By biofarma
Kepala ANRI Mustari Irawan menyerahkan Aplikasi SIKD kepada Bambang Heriyanto, Corporate Secretary Bio Farma

16 November 2017, Bio Farma menghadiri acara Serah Terima Aplikasi Sistem Informasi Kearsipan Dinamis (SIKD) kepada 19 Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang diselenggarakan oleh Direktorat Kearsipan Pusat pada tanggal, 16 – 18 Nopember 2017 di Hotel Aston Inn Mataram.

Aplikasi SIKD ini diserahkan oleh Kepala ANRI Mustari Irawan kepada Bambang Heriyanto selaku Corporate Secretary Bio Farma yang merupakan salah satu BUMN yang menerima Aplikasi SIKD dari ANRI.

Dalam sambutannya di hadapan seluruh peserta yang akan menerapkan aplikasi SIKD di lingkungan BUMN, Mustari Irawan menyampaikan agar dapat menjamin terciptanya arsip, serta ketersediaaanya arsip yang autentik dan terpercaya sehingga dapat terwujudnya pengelolaan arsip yang handal dalam sistem pemberkasan serta pengadministrasian di lingkungan BUMN.

Penerapan e-Arsip juga merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan Pemerintahan yang baik dan bersih (Good Governance dan Clean Governance) serta Pemerintahan yang terbuka dan transparan (Open Governance).

Selain Bio Farma, juga ada beberapa BUMN yang dipercaya menerapkan Aplikasi SIKD ini, diantaranya PT Dirgantara Indonesia, PT INTI, PT Pupuk Indonesia dan lain-lain.

Vaksin Dengue Bio Farma Dinanti

By biofarma

VAKSIN dengue untuk pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DDB) berpeluang masuk program imunisasi wajib bila telah diproduksi massal.

Vaksin dengue yang tengah dikembangkan perusahaan BUMN Bio Farma itu sangat ditunggu karena dibutuhkan masyarakat. Hal itu dikatakan Direktur Pelayanan Farmasi Kementerian Kesehatan Detty Yulianti.

“Saat ini vaksin yang masuk program imunisasi wajib ada sembilan. Namun, ke depan tidak menutup kemungkinan bertambah sesuai dengan kebutuhan dan dinamika di lapangan. Salah satunya vaksin dengue yang saat ini masih dikembangkan PT Bio Farma,” kata Detty pada workshop vaksin negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Bandung, Jawa Barat, kemarin.

Ia menyebutkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merupakan pengguna produk yang dihasilkan produsen vaksin dalam negeri baik untuk program imunisasi wajib (usia 0-5 tahun) maupun program imunisasi nonwajib seperti vaksin meningitis dan vaksin influenza.

“Ketersedian vaksin, termasuk vaksin dengue, menjadi perhatian khusus Kemenkes karena penggunaannya untuk pencegahan,” imbuh Detty.

Belum lama ini, perusahaan farmasi asal Prancis Sanofi Pasteur juga telah meluncurkan produk vaksin dengue di Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) menyetujui vaksin dengue tersebut untuk digunakan pada individu berusia 9 tahun sampai 16 tahun guna pencegahan penyakit dengue yang disebabkan empat serotipe virus dengue.

Vaksin tersebut dapat diperoleh masyarakat secara mandiri di sejumlah rumah sakit swasta.

Atas peluncuran produk tersebut, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengungkapkan pihaknya masih akan mengkaji vaksin dengue milik Sanofi Pasteur terkait dengan kemungkinan perluasan penggunaannya oleh pemerintah di daerah endemis DBD di Indonesia.

“Vaksin dengue sudah ditemukan Sanofi. Kalau kami (Kemenkes) akan memakai, tentu harus hitung-hitungan biaya dulu yang sepertinya besar,” kata Nila, beberapa waktu lalu.

Vaksin DBD Diproduksi 2020

By biofarma

BANDUNG — Pemerintah merencanakan dapat memproduksi vaksin dengue sendiri pada 2020. Rencana ini dimaksudkan untuk menyikapi kasus dengue yang mencapai 160 ribu, per September 2016.

“Kita sedang kembangkan vaksin dengue. Rencananya 2020 nanti sudah jadi vaksin untuk dengue,” ujar Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI R Dettie Yuliati dalam pembukaan workshop produksi vaksin negara Islam di Exhibition Hall Bio Farma, Bandung, Selasa (15/11).

Workshop ini diikuti oleh 10 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Kegiatan ini diselenggarakan pada 15 hingga 18 November di Bandung.

Riset vaksin dengue di Indonesia dilakukan oleh konsorsium yang menyinergikan pemerintah, akademisi, komunitas peneliti, dan industri. Kemenkes juga sedang mengumpulkan data penurunan kasus dengue. Hal ini bersamaan dengan program pemberian vaksin impor melalui uji klinis di beberapa wilayah Indonesia kepada anak-anak berusia sembilan hingga 16 tahun pada 2017.

Vaksin dengue befungsi untuk pencegahan demam berdarah dengue (DBD). Vaksin ini berpeluang masuk program imunisasi wajib bila telah diproduksi massal.

“Saat ini vaksin yang masuk program imunisasi wajib ada sembilan, namun ke depan tidak menutup kemungkinan bertambah sesuai dengan kebutuhan dan dinamika di lapangan, salah satunya vaksin dengue yang saat ini masih dikembangkan PT Bio Farma,” kata Detty.

Ketersedian vaksin menjadi perhatian khusus Kemenkes. Sebab, vaksin berfungsi untuk pencegahan. Kemenkes meminta Bio Farma dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Setelah itu, vaksin yang diproduksi dapat diekspor.

Sejumlah produk vaksin yang dikembangkan di dalam negeri juga telah memberikan banyak manfaat, termasuk varian-varian produk vaksin yang dihasilkannya, seperti pentavalen, vaksin seasonal flu, dan lain-lain.

Direktur Penilaian Obat dan Produk Biologi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Togi Junice Hutadjulu, mengatakan, Indonesia harus menjadi yang terdepan dalam mendorong transformasi vaksin di negara OKI. Indonesia memiliki pengalaman dalam hal membuat vaksin sebagai alat untuk pencegahan penyakit.

BPOM ingin berbagi pengalaman dalam memanfaatkan vaksin. Tukar pengalaman itu antara lain terkait keahlian inspeksi ke industri farmasi, uji klinis, tentang penyimpanan vaksin yang baik di instalasi farmasi. Togi menambahkan, WHO sudah mengakui kompetensi sumber daya manusia di BPOM, sehingga hal ini akan memberikan kepercayaan dunia terhadap Bio Farma, yang menghasilkan produk aman bagi negara lain. Hal ini diyakininya dapat meningkatkan ekspor vaksin Indonesia.

Direktur Riset dan Pengembangan Produk Bio Farma, Sugeng Raharso, mengatakan, konsorsium yang fokus kepada riset dan produksi vaksin dengue akan terus bekerja. Tujuannya, untuk mengejar kemandirian vaksin dengue nasional.

“Meskipun memerlukan proses yang cukup lama, Bio Farma bersinergi dan melakukan percepatan untuk konsorsium vaksin dengue tersebut,” kata Sugeng.

Peneliti senior Bio Farma, Neni Nurainy, mengatakan, pendanaan riset vaksin dengue dalam konsorsium bergantung kepada daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) pemerintah. Bantuan juga diberikan oleh Kemenristekdikti sebesar Rp 710 miliar untuk menunjang sarana dan prasarana perguruan tinggi.

Balitbangkes juga terus mengalokasikan dana riset vaksin dengue. Riset ini telah menjadi program prioritas bidang penyakit infeksi. Ini juga bersamaan dengan riset penyakit lain, seperti HIV, tuberkulosis, malaria, dan influenza.        rep: Adysha Citra Ramadani/antara, ed: Erdy Nasrul

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/koran/kesra/16/11/17/ogrvc645-vaksin-dbd-diproduksi-2020

Vaksin Ekspertis, Diplomasi Indonesia Di Kancah Global

By biofarma

 

Dirut Bio Farma, Iskandar (kedua kiri) menyerahkan cinderamata kepada Sekjen OKI Razley Nordin (kanan) disaksikan oleh Sekretaris Kementerian Setneg Setya Utama (Kanan) dan Perwakilan WHO Wilayah Asia Tenggara (SEARO), Martin Eisenhower (Paling kiri). Penyerahan sebagai tanda berakhirnya kegiatan Workshop on Vaccine Management di Bandung 15 18 November 2016
Dirut Bio Farma, Iskandar (kedua kiri) menyerahkan cinderamata kepada Sekjen OKI Razley Nordin (kanan) disaksikan oleh Sekretaris Kementerian Setneg Setya Utama (Kanan) dan Perwakilan WHO Wilayah Asia Tenggara (SEARO), Martin Eisenhower (Paling kiri). Penyerahan sebagai tanda berakhirnya kegiatan Workshop on Vaccine Management di Bandung 15 18 November 2016

Bisnis.com, BANDUNG – Bio Farma merupakan salah satu perusahaan BUMN yang telah memproduksi dan mengekspor vaksin ke 133 negara. Menurut Direktur Utama Bio Farma Iskandar, hal tersebut merupakan salah satu bagian diplomasi Indonesia di bidang kesehatan.

Kerja sama Bio Farma sudah lama terjalin dengan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) salah satunya adalah Iran. Iran merupakan negara islam dengan teknologi stem cell yang sudah maju sehingga Bio Farma harus mempelajari keberhasilan tersebut.

Begitu pun sebaliknya, sebagai center of excellence di antara negara-negara OKI dalam bidang vaksin, Indonesia mempunyai kewajiban untuk melakukan transfer knowledge dengan negara-negara anggota.

Pada bulan Desember mendatang, negara-negara OKI akan melakukan beberapa agenda di Jeddah. Agenda ini diharapkan agar OKI memiliki pusat penelitian bersama karena yang paling dibutuhkan OKI adalah vaksin-vaksin berbahan baku 100% halal.

Iskandar menambahkan bahan baku vaksin yang diimpor dari luar merupakan salah satu ciri sikap tidak mandiri.

Selain diplomasi melalui bidang kesehatan, masih banyak hal lainnya yang harus dilakukan oleh Bio Farma terkait dengan Instruksi Presiden Indonesia Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan dan Program Nawa Cita.

Iskandar mengatakan untuk mewujudkan instruksi dan program presiden tersebut, Bio Farma telah melakukan berbagai upaya antara lain terus melakukan riset dengan DIKTI dan negara-negara anggota OKI serta dengan beberapa kementerian.

“Industri harus melakukan sesuatu sampai tahun 2030,” ujar Iskandar, Kamis (17/11).

Sementara itu, untuk mendorong kemandirian riset dalam negeri, Bio Farma telah melakukan transfer teknologi sehingga menjadi sebuah produk yang ril dalam lima tahun kedepan.

Kemandirian ini juga berkaitan dengan program Sustainable Development Goals (SDGs) dimana Bio Farma memiliki 17 target pengembangan yang berkelanjutan untuk 15 tahun ke depan.

SGDs terus diupayakan dalam beberapa cara antara lain melakukan efisiensi energi, inovasi, penerapan teknologi ramah lingkungan, serta menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk mencapai tujuan.

“Kalau terus menggunakan bahan baku dan teknologi impor, kita akan jadi pengguna selamanya,” tambahnya.

Untuk mencapai kemendirian tersebut, perusahaan vaksin tidak dapat bekerja sendiri. Hal ini dikarenakan riset vaksin memerlukan waktu bertahun-tahun sehingga kerja sama sangat dibutuhkan untuk memproduksi vaksin-vaksin baru.

Sementara itu, Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Satya Utama mengatakan keterlibatan BUMN Bio Farma dengan organisasi negara-negara islam adalah salah satu upaya untuk meningkatkan daya saing, kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia termasuk membuat industri vaksin Indonesia lebih dikenal di dunia internasional.

“Produksi vaksin Indonesia paling besar di antara negara-negara anggota tapi masih memiliki kendala karena mahalnya riset,” ujar Satya.

Satya menambahkan target kerja sama industri negara anggota OKI adalah sektor swasta. Namun, yang mereka temukan di lapangan adalah BUMN yaitu Bio Farma.

Terjalinnya kerja sama antara OKI dan Bio Farma membuka pengetahuan baru bagi mereka tentang produksi vaksin dari sisi manajemen.

Sudah menjadi tugas Kementerian Sekretariat Negara dan Kementerian lainnya untuk membantu dan mendampingi dalam memberikan fasilitas kerja sama tersebut.

Sumber : http://bandung.bisnis.com/read/20161118/34231/563697/vaksin-ekspertis-diplomasi-indonesia-di-kancah-global[:en]

 

Biodiversity Indonesia Lahirkan Ragam Produk Herbal

By biofarma

smk-farmasiBisnis.com, BANDUNG – Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Salah satu dari kekayaan alam tersebut adalah tumbuhan berkhasiat.

Sekitar 9.600 spesies tumbuhan di Indonesia diketahui berkhasiat sebagai obat. Namun, hanya sekitar 200 spesies yang telah dimanfaatkan sebagai bahan baku industri obat tradisional.

Jumlah angka spesies tersebut memberikan peluang bagi Indonesia sebagai penyedia bahan baku obat herbal dunia.

Bio Farma sebagai industri life science mendukung peningkatan kualitas bahan baku dan mutu produknya yang berbasis kekayaan alam Indonesia agar bisa menjadi industri yang mandiri.

Selain itu, Bio Farma juga mengedepankan tiga potensi keragaman alam antara lain keanekaragaman budaya (culture diversity), keanekaragaman geologi (geodiversity) dan keanekeragaman hayati (biodiversity).

Pada kegiatan Workshop on Vaccine Management, para delegasi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) berkunjung ke SMK Farmasi YPF Bandung. Kunjungan ini bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan keanekeragaman hayati dalam sebuah produk jadi.

Corporate Secretary Bio Farma M. Rahman Rustan mengatakan obat herbal yang paling berkembang ada di Jawa Tengah, namun, Jawa Barat juga memiliki potensi pengembangan obat-obat herbal.

“Kami memperkenalkan kekayaan biodiversity Indonesia hadir di dunia pendidikan,” ujar Rahman, Jumat (18/11).

SMK Farmasi YPF Bandung adalah sekolah yang mengharuskan para siswa untuk membuat olahan sederhana dari tumbuhan obat yang ada di lingkungan sekitar.

Selain itu, sekolah mengedepankan penyebarluasan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai sarana penghijauan, perbaikan gizi, pemerataan pendapatan, penyebar gerakan penghijauan serta sebagai sarana keindahan pekarangan.

Berbagai produk kreasi siswa yang sudah dihasilkan antara lain jamu instan jahe, jamu instan temulawak, minuman kunyit, keripik katuk, puding binahong, minuman nata de aloe, hand sanitizer berbahan baku lidah buaya, masker bengkuang dan lainnya.

Antusiasme terlihat saat para delegasi mencicipi produk-produk siswa SMK Farmasi YPF. Salah satunya Delegasi Turki Multu Topal yang menyukai jamu instan jahe.

“Rasanya enak. Saya ingin mencobanya lagi,” ujar Multu.

Ketua Yayasan YPF N.Caryana mengatakan rasa terima kasih karena sekolah ini bisa dipercaya untuk menerima delegasi tamu-tamu asing dari OKI. Dia menambahkan hubungan dunia usaha, pendidikan dan industri harus terus terjalin.

Ini Alasannya Indonesia Perlu Jadi Center of Excellence Vaksin untuk OKI

By biofarma
Para peserta berfoto bersama dihalaman Gedung Heritage Bio Farma pada pembukaan Workshop Manajemen Vaksin Negara Islam, di Bio Farma, Kota Bandung, Selasa (15/11).
Para peserta berfoto bersama dihalaman Gedung Heritage Bio Farma pada pembukaan Workshop Manajemen Vaksin Negara Islam, di Bio Farma, Kota Bandung, Selasa (15/11).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Indonesia merupakan salah satu dari dua negara Islam yang telah mengantongi prakualifikasi WHO untuk vaksin yang diproduksi. Oleh karena itu, dalam pertemuan di Jedah pada Desember mendatang, Indonesia akan diajukan sebagai center of excellence di bidang vaksin untuk negara-negara Islam (OKI).

“Ada agenda yang sangat strategis yang sedang kita perjuangkan, yaitu membuat center of exellence. Ini yang kami ajukan di pertemuan-pertemuan OIC dan IDB,” ujar Presiden Direktur Bio Farma Iskandar saat ditemui dalam penutupan Workshop Manajemen Vaksin Negara Islam di Exhibition Hall Bio Farma, Kamis (17/11).

Iskandar mengatakan pusat penelitian bersama penting untuk dimiliki negara-negara Islam jika berharap vaksin halal. Iskandar mengatakan sulit unuk berharap halal jika masih mengandalkan pusat penelitian lain.

Oleh karena itu, Iskandar mengatakan negara-negara Islam perlu memiliki pusat penelitian sendiri. Dengan begitu, negara-negara Islam dapat melakukan penelitian sendiri dan menghasilkan teknologi. “Kalau bersama-masa, masa tidak bisa?” lanjut Iskandar.

Di sisi lain, keberadaan center of excellence di bidang vaksin bagi negara-negara Islam juga dapat mendukung kemandirian dalam hal produksi vaksin. Di Indonesia, Iskandar mengatakan sebagian besar bahan baku yang digunakan berasal dari luar negeri. Hal ini, lanjut Iskandar, masih mengindikasikan ketidakmandirian.

“Kalau ingin mandiri, harus punya center of excellence. Kalau tidak ada riset, jangan harap ada bahan baku obat yang seperti kita inginkan,” jelas Iskandar.

Saat ini, Indonesia bisa dikatakan sebagai salah satu negara-negara OKI yang unggul dalam hal produksi vaksin. Dari 57 negara-negara Islam, hanya tujuh negara yang sudah memiliki pabrik vaksin sendiri. Di antara tujuh negara tersebut hanya Indonesia dan Senegal yang sudag mengantongi prakualifikasi World Health Organization (WHO) untuk vaksin-vaksin yang diproduksi.

Indonesia memiliki belasan vaksin produksi Bio Famra yang sudah mengantongi prakualifikasi WHO. Senegal memiliki satu vaksin yang sudah mengantongi prakualifikasi WHO untuk vaksin demam kuning.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum