Dirut Bio Farma paparkan skema inovasi vaksin pada pertemuan tingkat tinggi HLM4-CLKS 2018 di Bali

By Bio Farma

(Bali 15/10) Dirut Bio Farma, M. Rahman Roestan, paparkan skema inovasi vaksin pada forum international yang diselenggarakan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional  (PPN / Bappenas).

 

Konferensi High Level Meeting on Country-Led Knowledge Sharing (HLM4 on CKLS), yang diselenggarakan pada tanggal 15 – 17 Oktober 2018 di Bali. HLM4 on CLKS merupakan rangkaian acara pertemuan IMF – Bank Dunia 2018 yang sebelumnya  telah diselenggarakan di Bali pada tanggal 8 – 14 Oktober 2018.

 

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional / BAPPENAS, Bambang Brodjonegoro membuka secara resmi.

 

Adapun Rahman Roestan dalam sesi diskusi panel bersama perwakilan dari beberapa pembicara Internasional seperti dari  Jerman, Kenya, Turki, Jerman, serta perwakilan World Bank dan USAID.

 

Dalam Paparannya, Rahman berbagi tentang strategi inovasi Bio Farma dalam berbagai bidang produksi vaksin,  dengan pengalaman dan kepakaran di bidang produksi vaksin hingga mampu bertahan dan terus melakukan inovasi.

 

“Kami sudah menghasilkan inovasi produk vaksin Pentabio, 5 in 1 dalam satu kemasan (DTP, Hepatitis B, Hib), kemudian inovasi kemasan vaksin alat suntik sekali pakai, untuk vaksin Hepatitis”

 

“Selain itu, juga kami memiliki inisiatif penting dalam pembentukan Forum Riset Life science Nasional sejak tahun 2011.  Melalui sinergi Pentahelix (Akademisi, Bisnis, Pemerintah,  Komunitas dan Media).

 

Forum yang selalu dihadiri oleh para periset/peneliti  Indonesia dari Universitas, Pemerintah dan Industri, khususnya periset dalam bidang Vaksin dan LifeScience, bertujuan untuk melakukan pengembangan vaksin dan produk Life Science  baru dalam negeri, melakukan percepatan riset  untuk kemandirian riset Nasional”ungkap Rahman

 

Rahman menambahkan “inovasi Bio Farma lainnya dibilang IT dengan mengintegrasikan sistem Enterprise Resources Planning untuk perusahaan Bio Teknologi, serta menerapkan teknologi sistem track and trace untuk menjamin risiko pemalsuan produk vaksin”

 

Bentuk realisasi dari Forum riset dengan pembentukan konsorsium forum riset life science national.

 

Saat ini ada 5 konsorsium; New TB Vaccine, Dengue, Hepatitis B, HIV, EPO atau Bio Similar. Selain itu juga working group untuk influenzae, malaria, rotavirus, stem cell, pneumococcus and delivery system”

 

kolaborasi riset dan pengembangan nasional ini bekerja sama dengan berbagai universitas, Lembaga riset nasional dan international, pemerintah dan industri Bio Farma, untuk percepatan produk vaksin pada masyarakat.

 

Tentang Bio Farma

Bio Farma merupakan BUMN produsen Vaksin dan Antisera, saat ini berkembang menjadi perusahaan Life Science, didirikan 6 Agustus 1890. Selama 128 tahun pendiriannya Bio Farma telah berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa, baik di Indonesia maupun mancanegara.

 

Lebih dari 140 negara telah menggunakan produk Vaksin Bio Farma terutama negara – negara berkembang, dan 49 diantaranya adalah negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Dengan kapasitas produksi lebih dari 2 Miliar dosis pertahun, merupakan terbesar di Asia Tenggara. Bio Farma telah memenuhi kebutuhan vaksin Nasional, termasuk kebutuhan vaksin untuk Jemaah Haji dan Umrah, serta kebutuhan vaksin dunia melalui WHO dan UNICEF.

 

Dengan filosofi Dedicated to Improve Quality of Life, Bio Farma berperan aktif dalam meningkatkan ketersediaan dan kemandirian produksi Vaksin di negara-negara berkembang dan negara-negara Islam untuk menjaga keamanan kesehatan global (Global Health Security). Informasi lebih lanjut www.biofarma.co.id

 

*-*

 

Untuk informasi Media, Hubungi :

  1. Nurlaela Arief

Head of Corporate Communications Dept.

Bio Farma

Email : lala@biofarma.co.id

Mobile : 081910102649 : 62 22 2033755

www.biofarma.co.id

Bio Care : 1500810

Bio Farma Jajaki pasar Afrika: Pertemuan tingkat Tinggi Bali

By Bio Farma

Bali, 15 Oktober 2018, M. Rahman Roestan, Direktur Utama Bio Farma, didampingi Sri Harsi Teteki Direktur Pemasaran Bio Farma hadir pada pertemuan tingkat tinggi HLM4 di Bali.

“Kami terus kejar target ekspor, sebesar USD 71,6 juta. Kami sudah masuk ke pasar Asia, Timur Tengah, sebagian Afrika, dan beberapa negara amerika latin, tahun ini kami akan menjajaki untuk meningkatkan ekspor ke negara-negara Afrika” ungkap Rahman.

” Vaksin yang akan diekspor ke beberapa negara Afrika adalah vaksin bakteri seperti : Tetanus, Difteri, Pertusis, Harmophilus Infuenza Type B (HIB) serta Pentabio, sebelumnya kami sudah mengekspor ke negara- negara seperti Pakistan, Afganistan, Sudan, Maroko dan negara lainnya.

Selain berbagi pengalaman, Bio Farma juga dipercaya untuk memamerkan keahlian produksi dan inovasi vaksin dalam pertemuan skala dunia High Level Meeting on Country-Led Knowledge Sharing (HLM4 on CKLS), yang diselenggarakan pada tanggal 15 – 17 Oktober 2018 di Bali. HLM4 on CLKS merupakan rangkaian acara pertemuan IMF – Bank Dunia 2018 yang sebelumnya diselenggarakan di Bali pada tanggal 8 – 14 Oktober 2018.

Rahman Roestan, Direktur Utama Bio Farma menyampaikan “kami menyambut baik program BAPPENAS sebagai penyelenggara untuk mendorong agar institusi negara dapat memberdayakan pengalaman dan inovasi lokal sehinga terjadi peningkatan di dalam negeri dan internasional”

“Bio Farma sebagai industri vaksin yang bersiap memasuki Life Science, menyambut baik, Inovasi dalam bidang Life Science merupakan suatu keharusan, terlebih lagi dalam era industri 4.0 dimana Informasi dan Teknologi menjadi sangat penting, saat ini kami sedang fokus pada perkembangan inovasi digital”

Rahman menambahkan, “untuk percepatan inovasi, industri sangat memerlukan kolaborasi, join riset maupun membiayaan baik dari dalam negeri maupun luar negeri”

Sebanyak 21 industri tergabung dalam Market Place ini, yang merupakan tempat berinteraksi seluruh stakeholder baik dalam dan luar negeri, untuk berbagi dan mempelajari inovasi serta solusi lokal.

Sementara itu, Sri Harsi Teteki, Direktur Pemasaran Bio Farma menambahkan “saat ini Produk akhir Vaksin yang didistribusikan melalui lembaga Internasional UNICEF, PAHO; dan melalui Bilateral dalam bentuk bulk vaksin atau intermediate produk yang nantinya akan di formulasi dan dikemas menjadi produk akhir vaksin.

Saat ini hanya sekitar 30 produsen vaksin yang sudah mendapatkan kualifikasi dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) salah satunya Bio Farma.

“Kami merupakan yang terbesar di Asia Tenggara dilihat dari jenis produk dan kapasitas, serta menjadi rujukan centre of excellence bagi produsen vaksin di negara Islam. Sebagai BUMN memiliki peran yang sangat strategis untuk turut serta melakukan percepatan pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan, dalam upaya percepatan dan kemandirian pengembangan produk biopharmaceutical dan vaksin.

“Dengan total kapasitas produksi lebih dari 2 miliar dosis per tahun. Komposisi produksi tersebut adalah masing-masing 60 persen untuk kebutuhan dalam negeri dan 40 persen untuk kebutuhan ekspor”.

 

*-*

Tentang Bio Farma

Bio Farma merupakan BUMN produsen Vaksin dan Antisera, saat ini berkembang menjadi perusahaan Life Science, didirikan 6 Agustus 1890. Selama 128 tahun pendiriannya Bio Farma telah berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa, baik di Indonesia maupun mancanegara. Lebih dari 140 negara telah menggunakan produk Vaksin Bio Farma terutama negara – negara berkembang, dan 49 diantaranya adalah negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Dengan kapasitas produksi lebih dari 2 Miliar dosis pertahun, merupakan terbesar di Asia Tenggara. Bio Farma telah memenuhi kebutuhan vaksin Nasional, termasuk kebutuhan vaksin untuk Jemaah Haji dan Umrah, serta kebutuhan vaksin dunia melalui WHO dan UNICEF. Dengan filosofi Dedicated to Improve Quality of Life, Bio Farma berperan aktif dalam meningkatkan ketersediaan dan kemandirian produksi Vaksin di negara-negara berkembang dan negara-negara Islam untuk menjaga keamanan kesehatan global (Global Health Security). Informasi lebih lanjut www.biofarma.co.id

 

*-*

 

Untuk informasi Media, Hubungi :

Nurlaela Arief

Head of Corporate Communications Dept.

Bio Farma

Email : lala@biofarma.co.id

Mobile : 081910102649 : 62 22 2033755

www.biofarma.co.id

Bio Care : 1500810

“Fourth High Level Meeting on Country-led Knowledge Sharing: Local Innovation as Driver for Global Development”

By Bio Farma

Bali, 15 Oktober 2018 – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS bersama dengan World Bank dan didukung Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi; Kementerian Kesehatan; Kementerian Pendidikan & Kebudayaan; Tim Koordinasi Nasional Kerjasama Selatan-Selatan; Islamic Development Bank (IsDB), Kerjasama Jerman, Japan International Cooperation Agency (JICA) dan USAID menyelenggarakan “Fourth High Level Meeting on Country-Led Knowledge Sharing (HLM4 on CLKS)”. HLM4 on CLKS pada tahun ini mengangkat tema “Local Innovation as Driver for Global Development”.

 

Forum dibuka oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Prof. Bambang Brodjonegoro. Hadir juga dalam forum ini, Menteri Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putra Sandjojo, Menteri Keuangan Bangladesh Abul A. Muhith, Wakil Presiden Turkish Cooperation and Coordination Agency Birol Cetin, perwakilan industri Bio Farma, bersama dengan lebih dari 250 peserta nasional dan internasional, 50 pembicara, dan 22 peserta pameran dari 42 negara.

 

HLM4 on CLKS diselenggarakan selama 3 hari pada 15-17 Oktober 2018. Pada hari pertama agenda pertemuan meliputi: i) High Level Panel; ii) Knowledge Market Place; dan iii) Enam Parallel Thematic Session. Agenda kegiatan dilanjutkan dengan pelaksanaan field visit di hari kedua ke beberapa lokasi di Bali untuk menampilkan program-program inovasi lokal.

 

Rangkaian kegiatan HLM4 on CLKS ditutup dengan penyelenggaraan workshop (Learning Day) interaktif dengan topik-topik yang berkaitan dengan knowledge sharing oleh World Bank Group.

 

“Membangun momentum dari tiga pertemuan sebelumnya, HLM4 on CLKS bertujuan untuk menyediakan platform bagi pembuat kebijakan, praktisi dan mitra pembangunan untuk berdiskusi dan berbagi pengetahuan tentang solusi dan inovasi lokal untuk mengatasi permasalahan-permasalahan pembangunan” ungkap Menteri PPN/Kepala Bappenas Prof. Bambang Brodjonegoro dalam sambutannya.

Event adalah pertemuan keempat dalam rangka High Level Meeting on Country Led Knowledge sharing. Pertemuan pertama di Bali pada tahun 2012 menghasilkan dokumen “Bali Communique” yang berisi komitmen dari negara-negara dunia untuk memperkuat inisiatif knowledge sharing untuk pembangunan. Di Seoul pada tahun 2014, pertemuan kedua menghasilkan beberapa langkah kongkrit untuk memperkuat kerjasama dalam kerangka berbagi pengetahuan, salah satunya melalui penguatan kapasitas institusi-institusi penyedia dan penghubung pengetahuan.

 

Pertemuan ketiga pada tahun 2016 di Washington DC menyepakati pembentukan Global Partnership on Knowledge Sharing (GPKS) sebagai platform bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bekerja sama mengatasi tantangan-tantangan pembangunan melalui kerangka berbagi pengetahuan.

 

Menteri PPN/Kepala Bappenas dalam penutup sambutannya menyampaikan bahwa Indonesia berkomitmen untuk memperkuat peran sebagai penghubung pengetahuan (Knowledge-Hub). “Saya berharap pertemuan hari ini dapat menghasilkan rekomendasi yang bersifat strategis, serta pendekatan-pendekatan yang inovatif untuk menghadapi tantangan pembangunan dalam rangka mencapai kesejahteraan bersama.”

 

Untuk informasi lebih lanjut:

Direktorat Politik Luar Negeri dan Kerja Sama Pembangunan Internasional

Kementerian PPN/Bappenas

Telp/Email: (021 – 3905650 ext 1525, kpi@bappenas.go.id

Hari kedua di Palu, Bio Farma Imunisasi Tetanus dan Flu di Lokasi Gempa Bumi & Tsunami Palu – Donggala

By Bio Farma

(Palu 4/10) BUMN Hadir Untuk Negeri, sejak hari Rabu 3 Oktober 2018 kemarin Tim Medis Bio Farma sudah berada di Palu, untuk memberikan bantuan vaksin dan tim medis pada korban gempa dan tsunami Palu.

Disril Revolin Putra, Direktur SDM & Umum Bio Farma menyampaikan “Sejak tadi malam mulai pukul 20.00 sampai pukul 1.00 WITA, kami telah melakukan Imunisasi Tetanus sebanyak 350 personil Basarnas di Palu”

Hari ini bersama Kementerian kesehatan dan Dinas kesehatan Palu, kami akan melakukan Imunisasi Tetanus, imunisasi Flu kepada para relawan dan masyarakat sekitar.

Selain itu, untuk korban yang luka kami beri bantuan Serum Anti Tetanus, pelaksanaannya bekerjasama dengan Rumah sakit dan Puskesmas yg akan dimulai buka Hari ini sampai sembilan hari ke depan.

Selain dengan Kementerian Kesehatan, dalam pelaksanaannya juga berkoordinasi dengan BUMN di Palu yaitu BNI, serta Basarnas.

tim bantuan yang kami kirimkan tenaga kesehatan, dokter, yang terdiri dari tujuh pesonel ke pusat titik gempa dan tsunami yang terjadi pada tanggal 28 September 2018 yang lalu di Kota Palu dan Donggala Sulawesi Tengah.

Tim yang dipimpin oleh Direktur SDM & Umum Bio Farma, Disril Revolin Putra, akan berada dilokasi selama sembilan hari, terhitung mulai 3 sampai 12 Oktober 2018.

Sesampainya di Palu, tim Bio Farma akan bergabung dengan tim dari BUMN lainnya, serta tim dari Kementerian Kesehatan RI. Nantinya dilokasi gempa dan tsunami, Bio Farma akan memberikan bantuan berupa Vaksin Td sebanyak 1000 vial, vaksin flu sebanyak 250 vial, Anti Tetanus Serum (ATS 1500 IU) sebanyak 500 ampul dan juga 10 unit tenda pleton berukuran 6×14.

Menurut Disril, bantuan ini dimaksudkan untuk meringankan beban yang dialami oleh masyarakat Palu dan sekitarnya, akibat gempa bumi dan tsunami pada akhir September 2018 yang lalu, dan juga membantu tim medis yang sudah terlebih dahulu datang di lokasi kejadian.

“Kami turut berbela sungkawa atas kejadian yang sudah menewaskan lebih dari 1000 korban jiwa dan ribuan lainnya luka-luka. Sebagai BUMN yang bergerak dalam bidang kesehatan, kami turut membantu menjaga kesehatan para pengungsi, dengan melakukan pemberian imunisasi untuk Tetanus dan difteri (Td), Flu, Dan pengobatan dengan Anti Tetanus Serum (ATS). Dengan Tim sebanyak tujuh personil, Insya Allah kami akan begabung dengan tim Bumn Hadir untuk negeri, dan tim Kementerian Kesehatan RI”, ujar Disril.

 

Informasi media :

N.Nurlaela Arief

Head of Corporate Communications Dept.

Bio Farma

Lala@biofarma.co.id

081910102649

 

Lanjutkan Kolaborasi dalam Bidang Lingkungan dan Kesehatan, Walikota Bandung Kunjungi Bio Farma di Dua Minggu Pertama Masa Jabatannya

By Bio Farma

Walikota Bandung, Oded M danial, bersama jajaran Kepala Dinas Pemerintah kota Bandung memenuhi undangan Bio Farma untuk berdiskusi melanjutkan kolaborasi yang telah terjalin dengan baik terutama dibidang lingkungan dan kesehatan, diakhir diskusi pun Oded diajak untuk meninjau langsung fasilitas produksi vaksin di Bio Farma, pada Senin sore, 1 Oktober 2018.

Direktur Utama dan seluruh jajaran Direksi Bio Farma menerima langsung kunjungan kerja tersebut, yang bertempat disalah satu gedung heritage di kota Bandung ini. Menurut Oded “Bio Farma sebagai BUMN yang berada dikota Bandung diharapkan untuk terus berpartisipasi dalam mensukeskan program-program Pemerintah, terutama permasalahan sampah di kota Bandung.”

Menurut Kepala Dinas lingkungan hidup dan kebersihan kota Bandung, Salman Fauzi ”Pihaknya mengapresiasi kegiatan CSR Bio Farma dalam kinerja sosial dan lingkungan Bio Farma, sejak tahun 2010 Bio Farma merupakan satu-satunya industri di Bandung yang meraih PROPER emas dari Kementerian Lingkungan Hidup, Bio Farma pun sudah menerapkan emisi bersih dilingkungannya, diharapkan Bio Farma bisa menjadi mentor bagi industri lainnya di kota Bandung” Ungkapnya.

Sementara itu dr Rita Verita, Kepala Dinas Kesehatan Kota Jawa Barat mengungkapkan “ Terimakaih kepada Bio Farma karena sudah memberikan vaksinasi kepada petugas kebersihan kota Bandung serta program-programnya dalam mengedukasi pentingnya vaksinasi di wilayah kota Bandung.”

Dalam kesempatan yang sama M. Rahman Rustan, Direktur Utama Bio Farma pun menyampaikan informasi update terkait rencana pengembangan Bio Farma,  “Kedepan Bio Farma pun akan menambah kapasitas produksi serta mengembangkan fasilitas gedung produksi untuk pemenuhan   kebutuhan vaksin di dalam maupun luar negeri juga untuk membuat vaksin-vaksin baru”, Pungkasnya.

 

———-*****———-

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi:
N. Nurlaela Arief
Head of  Corporate Communications Dept.
Email : lala@biofarma.co.id
Bio Farma
Jl. Pasteur No. 28 Bandung
Telp : 62 22 2033755
Fax : 62 22 2041306

Komitmen Terapkan Aturan Pajak, Bio Farma Hadirkan 200 UMKM Dalam Edukasi Pemanfaatan Fasilitas Perpajakan di Era Industri 4.0

By Bio Farma

Direktur Utama Bio Farma M. Rahman Roestan, berkomitmen untuk terapkan aturan pajak pada UMKM, hal ini disampaikan dalam acara talkshow dengan tema “Peran UMKM Terhadap Pembangunan Negara Dalam Pemanfaatan Fasilitas Perpajakan di Era Industri 4.0” di Bio Farma, Senin 1 Oktober 2018.

Hadir dalam acara ini Kepala Kanwil DJP Wajib Pajak Besar, Mekar Satria Utama, Kepala Bidang P2Humas, Raden Aris Handono, CEO Perisai Grup, Ferry Tristianto  dan Direktur Utama Bio Farma, M. Rahman Roestan, serta Direktur Keuangan Bio Farma, Pardiman.

Dalam sambutannya, Kepala Kanwil DJP Wajib Pajak Besar, Mekar Satria Utama menyampaikan “Acara ini diselenggarakan sebagai salah satu strategi DJP untuk menjangkau wajib pajak melalui pendekatan end to end terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan memperluas basis data perpajakan dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kepatuhan dalam pemenuhan kewajiban dan hak Wajib Pajak UMKM.”

Sementara itu M. Rahman Roestan dalam sambutannya menyampaikan “Bio Farma berkomitmen untuk terapkan aturan pajak pada UMKM untuk meningkatkan partisipasi dan gotong royong UMKM dalam pembangunan negara menuju kemandirian APBN serta pemanfaatan fasilitas perpajakan”.

Acara yang dihadiri oleh 200 peserta ini terdiri dari Mitra binaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) serta karyawan Bio Farma yang sedang memasuki masa persiapan pensiun (MPP) serta beberapa Head of Tax BUMN.

Salah satu program yang disosialisasikan dalam acara ini yaitu BDS (Business Development Service) “Program ini merupakan pembinaan dan pengawasan kepada Wajib Pajak UMKM untuk mendorong pengembangan usahanya secara berkesinambungan, meningkatkan kesadaran (awareness), keterikatan (engagement), dan menciptakan kepatuhan sukarela wajib pajak (voluntary compliance).  Jelas R. Aris Handono, Kepala Bidang P2Humas dalam paparannya.

Sedangkan Ferry Tristianto, CEO Perisai Grup menuturkan “UMKN itu jangan memasuki pasar, kita lah yang harus menciptakan pasar” tambahnya.

———-*****———-

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi:
N. Nurlaela Arief
Head of  Corporate Communications Dept.
Email : lala@biofarma.co.id
Bio Farma
Jl. Pasteur No. 28 Bandung
Telp : 62 22 2033755
Fax : 62 22 2041306

Tingkatkan Peran UMKM Dalam Pembangunan, Kanwil DJP WP Besar dan Biofarma Kerja Sama Edukasi Pp 23

By Bio Farma

Bandung (1/10/2018). Untuk meningkatkan partisipasi dan gotong royong UMKM dalam pembangunan negara menuju kemandirian APBN serta pemanfaatan fasilitas perpajakan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2018 tentang Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu, Kanwil DJP Wajib Pajak Besar merangkul salah satu BUMN yang terdaftar di KPP Wajib Pajak Besar Tiga yaitu PT BIOFARMA (PERSERO) untuk bekerja sama dalam edukasi perpajakan.

Dalam kerja sama ini, PT BIOFARMA (PERSERO) mengumpulkan perusahaan rekanan tertentu berjumlah 30, mitra binaan Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) berjumlah 100, karyawan PT BIOFARMA (PERSERO) yang sedang memasuki masa persiapan pensiun (MPP) berjumlah 50 orang serta beberapa Head of Tax BUMN yang berdomisili di Bandung.

Acara yang dikemas dalam bentuk dialog perpajakan ini diselenggarakan di Gedung Serba Guna PT BIOFARMA (PERSERO) di  jalan Pasteur Nomor 28, Bandung, Jawa Barat pada tanggal 1 Oktober 2018 bertajuk :

Peran UMKM Terhadap Pembangunan Negara Dalam Pemanfaatan Fasilitas Perpajakan di Era Industri 4.0“.

Hadir dalam acara ini antara lain Kepala Kanwil DJP Wajib Pajak Besar, Mekar Satria Utama, Raden Aris Handono (Kepala Bidang P2Humas), Ferry Tristianto (CEO Perisai Grup) dan Direktur Utama Bio Farma, M. Rahman Roestan, serta Direktur Keuangan Pardiman.

Acara ini diselenggarakan juga sebagai salah satu strategi DJP untuk menjangkau wajib pajak melalui pendekatan end to end terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan memperluas basis data perpajakan dalam rangka meningkatkan kesadaran dan kepatuhan dalam pemenuhan kewajiban dan hak Wajib Pajak UMKM.

Berkenaan dengan hal tersebut salah satu upaya yang dilakukan oleh DJP adalah membina UMKM melalui program  BDS (Business Development Service/BDS).  Program ini merupakan pembinaan dan pengawasan kepada Wajib Pajak UMKM untuk mendorong pengembangan usahanya secara berkesinambungan, meningkatkan kesadaran (awareness), keterikatan (engagement), dan menciptakan kepatuhan sukarela wajib pajak (voluntary compliance).

Materi yang diangkat pada acara ini juga terkait dengan program BDS yang diluncurkan DJP dan membahas kondisi terkini mengenai permasalahan UMKM selain tentunya pemaparan mengenai PP 23 Tahun 2018.

PP 23 Tahun 2018 ini berlaku per 1 Juli 2018 menggantikan PP 26 Tahun 2013 dan memberikan pengurangan tarif pajak penghasilan bagi para UMKM menjadi hanya 0,5%. Data dari Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan bahwa dari seluruh jumlah unit usaha di Indonesia, 98,8% didominasi oleh UMKM. Dari total tenaga kerja, 96.99% bekerja di sektor usaha UMKM. Bahkan, 60,3% produk domestik bruto di Indonesia saat ini berasal dari UMKM. Selain dialog perpajakan, acara juga diramaikan dengan gerai perpajakan dimana para peserta dan undangan dapat bertanya segala hal terkait dengan implementasi dan pemanfaatan PP 23 Tahun 2018.

Melalui acara ini, sektor UMKM dapat mengembangkan usaha dan memasarkan produk dengan cara pemanfaatan teknologi di era industri 4.0 dan tentunya pemanfaatan fasilitas perpajakan dengan tarif pajak penghasilan yang lebih rendah serta karyawan yang akan memasuki masa pensiun diharapkan juga mendapatkan bekal untuk melakukan usaha di sektor UMKM secara mandiri.

PEFINDO assigns “idAAA” ratings for PT Bio Farma (Persero) and its MTN Year 2018, and “idAAA(sy)” rating for MTN Syariah Mudharabah Year 2018

By Bio Farma

PEFINDO has assigned its “idAAA” rating for PT Bio Farma (Persero) (BIOF). PEFINDO has also assigned its “idAAA” rating to BIOF’s proposed Medium-Term Notes (MTN) Year 2018 of IDR125 billion and “idAAA(sy)” rating to MTN Syariah Mudharabah Year 2018 of IDR325 billion. The proceeds of the MTN will be used to finance BIOF’s capital expenditues (capex). The outlook for the corporate rating is “stable”.

An obligor rated idAAA has the highest rating assigned by PEFINDO. The obligors’ capacity to meet its long-term financial commitment, relative to that of other Indonesian obligors, is superior.

The suffix (sy) indicates thath the rating mandates compliance with Islamic principles.

The corporate rating reflects BIOF’s strategically important role in providing cavvines for the nation, its very strong market position in the vaccine industry, and its strong financial profile. However, the rating is constrained by the exposure to risks in regulatory changes and smaller export market shares.

The rating could be lowered if PEFINDO views a reduction in the government support, such as through a material divestment of the government’s ownership and/or lower barrier to entry through the regulations, such as allowing other vaccines companies to supply vaccines for the government projects. The rating could also be under pressure if it incurs a substantially larger debt than projected and/or its capex are not well executed, resulting in a weaker financial profile, particularly if its debt to EBITDA ratio exceeds 2.5x on a sustained basis.

As indonesia’s sole state-owned vaccine producer, BIOF is focused on developing vaccine research and technology, conductiong new vaccine research in ensuring self-sufficiency of vaccine nedds in Indonesia as well as availibility of vaccines to meet the world’s vaccines needs in terms of quality and affordability. BIOF supplies all the vaccines for Indinesua’s National Vaccine Program and it has a long-term contract to supply vaccines to various countries through UNICEF. Currently, 12 types of BIOF’’s vaccines have received prequalification from World Health Organization (WHO). It was 100% owned by Indonesian Government as of March 31, 2018.

 

Kemenkes Sekuat Tenaga Mengeliminasi Dampak Campak Rubella

By Bio Farma

JAKARTA – Kementerian Kesehatan akan bertanggung jawab penuh dalam melakukan eliminasi dampak campak (measles) rubella, Bangsa Indonesia akan kehilangan sumber daya manusia (SDM) berkualitas mengingat kerugian nyawa dan ekonomi masyarakat.

“Dari sisi kesehatan kami bertanggung jawab untuk kesehatan, Kami melakukan kewajiban untuk mencegah dan kematian dari penyakit,” ujar Menteri Kesehatan (Menkes) Nila Moeloek.

Demikian disampaikan dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema “Jalan Panjang Fatwa MUI Vaksin MR”, bertempat di Ruang Serba Guna Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Selasa (18/9/2018).

Menkes menjelaskan, dari sisi kesehatan, penyakit measles rubella (MR) adalah penyakit serius dan mematikan. Yakni kulit seorang anak mengalami bercak-bercak merah. Kondisi makin parah ketika gizi anaknya jelek karena virus bakal menyebar ke otak, paru-paru dan diare.

Menurut Menteri NIla, konsidi anak yang mengidap virus MR sangat berbahaya karena akan menyebabkan dehidrasi, penyakit jantung dan mata.

Nila Moeloek mengingatkan gejala campak Rubella yang dipicu dari demam sepertinya biasa-biasa saja.

“Seandainya perempuannya hamil muda dan tertular oleh anak yang terkena rubella maka ibu hamil dan bayinya tersebut juga akan tertular. Kemudian anak itu lahir bisa menjadi tuli, radang otak dan jantung,” ujar Menkes.

Menyikapi program imunisasi vaksin MR di seluruh Indonesia yang sudah dilakukan sejak tahun 2017 dan memasuki tahap kedua pada tahun ini, Menkes mengatakan sebenarnya sudah banyak negara menggunakan imunisasi MR untuk mengatasi penyakit ini.

Namun, demikian, Menkes menambahkan Indonesia masih mempunyai PR terkait eliminasi MR ini sebab negara lain juga mewaspadai ketika Indonesia terkena wabah MR ini.

“Diharapkan dengan adanya program eliminasi ini kasus campak Rubella akan turun pada tahun 2020,” jelas Nila Moeloek.

Satu hal, Menkes menambahkan selain dampak campak Rubella ini selain kecacatan bahkan kematian adalah dampak ekonomi bagi keluarga yang terkena penyaki ini.

“Kalau kita suntik saja dengan harga vaksinnya Rp29 ribu dan ini program pemerintah sehingga yang membiayai pemerintah,” tukas Menteri Nila Moeloek.

Tidak itu saja, ilustrasi Kemenkes menjabarkan, operasi bagi pasien campak tanpa komplikasi sedikitnya sebesar Rp2.680.000. Adapun operasi bagi anak terkena campak Rubella dengan komplikasi sedikitnya Rp12.890.700.

“Ini tugas kami, apapun caranya kita akan mencegah dan membuat sumber daya berkualitas,” ujar Menkes menjawab program eliminasi penyakit MR.

Seorang Ibu dari Lhok Seumawe, Aceh, yang memiliki anak berusia 8 tahun memberikan testimoni sampai harus menjual harta bendanya untuk membiayai pengobatan buah hatinya. Anak Ibu ini terkena campak sejak di kandungan sehingga saat ini kondisinya mata, tubuhnya dan pendengarannya tidak normal.

Turut hadir sebagai narasumber dalam FMB 9 kali ini Plt. Deputi Bidang Pengawasan Obat dan NAPPZA Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Reri Indriani, Direktur Utama PT Bio Farma M Rahman Rustan, dan Ketua Umum Majelis UlamaIndonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin.

 

Kegiatan FMB 9 juga bisa diikuti secara langsung di: www.fmb9.id, FMB9ID (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID (Youtube).

Pengakuan Nursiah, Ibu dengan Anak Penderita Rubella

By Bio Farma

JAKARTA (18/9/2018) – Ibu Nursiah, 47 tahun, warga Lhokseumawe, Aceh, tak pernah mengira bahwa anak keduanya yang bernama Syakila harus menderita penyakit Rubella akibat tertular saat dirinya hamil. Akibat penyakit tersebut, syakila yang saat ini berusia 7 tahun itu tidak dapat tumbuh kembang sebagaimana anak seusianya.

Berkaca dari pengalamannya, Ibu Nursiah pun mengajak seluruh masyarakat untuk turut menyukseskan programn Vaksin Measles Rubella (MR) yang digelar oleh Pemerintah, sehingga apa yang dialami oleh dirinya tidak dialami orang tua lainnya.

Hal tersebut Ibu Nursiah ungkapkan dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema “Jalan Panjang Fatwa MUI Vaksin MR”, bertempat di Ruang Serba Guna Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Selasa (18/9/2018).

“Harapan saya pada ibu-ibu atau yang antivaksin, tolong lah jangan mengatakan vaksin itu tidak benar, haram. Bagaimana kalo ibu-ibu sendiri mengalami? Saya yang mengalami, kami ada komunitas ibu-ibu yang anaknya Rubella. Keluhan kami sama, kami saling menguatkan. Rubella itu ada,” tuturnya.

Lebih lanjut Ibu Nursiah menceritakan awal mula dirinya tertular Rubella saat kehamilannya berusia 2 bulan. Pada saat itu Ia dan suami mengira yang Ibu Nursiah alami adalah Campak karena ada memar-memar merah di kulit.

“Hamil ke 6 bulan, saya rutin ke dokter kandungan, tapi dokter bilang tidak ada apa-apa, mungkin karena USG tidak bisa membacanya. Pada usai 6 bulan itu, bayi sempat tidak bergerak lalu dikasih obat sama dokter. Saat hari kelahiran juga terjadi yang sama, jadi saya memutuskan operasi sesar. Ananda sempat tidak menangis saat lahir sehingga langsung dirawat ke ICU,” terangnya.

Ibu Nursiah mengaku akibat penyakit Rubella ini, seiring berkembangnya Syakila, anak bungsunya itu terus mengalami bermacam-macam penyakit yang mengharuskanya dioperasi.

“Anak Rubella bermasalah berat badan, kami harus operasi jantung, harus nunggu berat badannya naik dulu, lalu harus operasi mata, harus nunggu lagi berat badan naik. Pendengarannya juga terganggu. Jad harapan saya jangan lihat haramnya. Bagaimana kalo mengalami seperti yang kita alami, masihkah haram?,” ujarnya.

Ibu Nursiah pun berpesan kepada Pemerintah agar imunisasi juga diterapkan kepada orang dewasa, karena lingkungan juga berkontribusi dalam penularan Rubella.

“Tolong perhatian, imunisasi juga kepada orang dewasa juga, tidak hanya pada anak-anak, karen dampaknya pada ibu hamil. Dan untuk daerah, Aceh khususnya, gimana nasib anak-anak Aceh jika tidak diimunisasi? Apakah mau anak-anak Aceh seperti anak saya Syakila?” tandasnya.

Turut hadir sebagai narasumber dalam FMB 9 kali ini Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Plt. Deputi Bidang Pengawasan Obat dan NAPPZA Reri Indriani, Direktur Utama PT Bio Farma M Rahman Rustan, dan Ketua Umum MUI KH Ma’ruf Amin.

 

Kegiatan FMB 9 juga bisa diikuti secara langsung di: www.fmb9.id, FMB9ID (Twitter), FMB9.ID (Instagram), FMB9.ID (Facebook), dan FMB9ID (Youtube)