Erick Thohir Pastikan Bio Farma Siap Produksi 250 juta Dosis Vaksin Covid-19

By Bio Farma

Bandung 4/8) Menteri BUMN RI sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Erick Thohir mengadakan kunjungan ke Bio Farma untuk memastikan kesiapan produksi vaksin Covid-19, yang saat ini, memasuki tahap persiapan uji klinis fase 3, bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung. Kunjungan yang dilaksanakan pada tanggal 4 Agustus 2020 juga dihadiri oleh tim Uji Klinis Fase 3 dari Fakultas Kedokteran Unpad, Prof Kusnandi, Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir dan jajaran Board of Executives Bio Farma bertujuan untuk melihat kesiapan kapasitas Bio Farma dalam memproduksi Vaksin Covid-19 dari 100 juta dosis menjadi 250 juta dosis, dan juga perkembangan pelaksanaan uji klinis fase 3 vaksin Covid-19.
Vaksin Covid-19 saat ini sedang menjadi kebutuhan dunia, dimana seluruh lembaga penelitian dunia berlomba – lomba untuk menemukan vaksin Covid-19. Di Indonesia sendiri, melalui Induk Holding BUMN Farmasi Bio Farma, menggandeng perusahaan Sinovac. Alasan Bio Farma memilih Sinovac sebagai partner kolaborasi adalah, karena vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Sinovac, menggunakan platform inactivated (virus yang diinaktivasi) yang mana metode ini sudah dikuasai oleh Bio Farma sejak lama. Faktor lainnya adalah karena sampai dengan saat ini mereka memiliki kemampuan pengembangan vaksin Covid-19 tercepat, mempunyai pengalaman sebagai perusahaan pertama di dunia yang menyelesaikan fase 1 untuk vaksin SARS, dan memiliki produk vaksin H1N1 (Swine Flu) pertama yang disetujui oleh dunia.
Disamping dengan Sinovac, Bio Farma juga berkolaborasi bersama konsorsium nasional yang dipimpin oleh lembaga Biomolukuler Eijkman, yang akan memproduksi Vaksin Merah-putih pada tahun 2022 mendatang.
Dalam kunjungan ini, Erick Thohir melihat fasilitas produksi yang nantinya, akan digunakan untuk memproduksi vaksin Covid-19, yang terletak di lingkungan produksi Bio Farma yang berada di dua gedung yang berbeda.
Erick Thohir mengatakan bahwa masyarakat tidak perlu ragu, apabila nantinya vaksin Covid-19 ini lulus uji klinis fase 3 dan diproduksi, mengingat Bio Farma sudah berpengalaman dalam memproduksi vaksin sejak tahun 1890, dan sudah ada 15 produk vaksinnya yang lulus Pre-Kualifikasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) sehingga ada 150 negara yang telah menggunakan produknya, bahkan negara – negara di Timur Tengah banyak yang sudah menggunakan dan belajar dari Bio Farma untuk membuat vaksin, namun tetap masyarakat harus memperhatikan protokol kesehatan Covid-19, seperti menggunakan masker dan menjaga jarak.
“Pada hari ini, kita sudah memiliki kapasitas produksi awal sebanyak 100 juta, dan Insya Allah pada Desember 2020, akan siap 150 juta dosis tambahan, jadi pada tahun depan akan diproduksi sebanyak 250 juta dosis, dan jumlahnya akan mencukupi untuk Indonesia, dan bukan tidak mungkin, Bio Farma bisa mengekspor juga vaksin Covid-19 untuk membantu negara lain”, ujar Erick.
Honesti Basyir menambahkan, bahwa kapasitas produksi maksimal yang akan digunakan untuk memproduksi vaksin Covid-19 adalah sebesar 250 juta dosis per tahun, “Bio Farma sedang menyiapkan fasilitas produksi tambahan sebesar 150 juta dosis. Fasilitas produksi tambahan ini akan siap pada Desember 2020, dari rencana semula di awal tahun 2021”
—-0000—-
Untuk informasi Media, Hubungi :
Iwan Setiawan
Head of Corporate Communications.
Bio Farma
Email : iwan.setiawan@biofarma.co.id

62 22 2033755 ext 5093
www.biofarma.co.id
twitter : @biofarmaID
Instagram :@biofarmaID
Bio Care : 150081

Agustus 2020 Indonesia Siap Lakukan Uji Klinis Tahap Tiga Vaksin Covid-19

By Bio Farma

(Bandung 20/7) Indonesia melalui Induk Holding BUMN Farmasi Bio Farma, siap untuk melakukan uji klinis tahap 3 untuk vaksin Covid-19. Sebagai tahap awal Uji Klinis tahap 3, vaksin dari Sinovac, Tiongkok, sudah tiba di Bio Farma pada tanggal 19 Juli 2020 Sebanyak 2.400 vaksin. Kedatangan vaksin Covid-19 dari Sinovac akan digunakan untuk kebutuhan fase uji klinis tahap 3 pada Agustus 2020 mendatang.

Kedatangan vaksin Covid-19 dari Tiongkok ini, tidak terlepas dari dukungan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (KBUMN) dan peran Kementerian Luar Negeri RI yang membantu dalam proses kedatangan vaksin covid-19 dari Tiongkok hingga ke Indonesia, sebagai Diplomatic Goods.

Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir mengatakan, uji klinis tahap 3 vaksin Covid-19, dijadwalkan akan berjalan selama enam bulan, sehingga ditargetkan akan selesai pada bulan Januari 2021 mendatang. “Apabila uji klinis vaksin Covid-19 tahap 3 lancar, maka Bio Farma akan memproduksinya pada Q1 2021 mendatang, dan kami sudah mempersiapkan fasilitas produksinya di Bio Farma, dengan kapasitas produksi maksimal di 250 juta dosis”, ujar Honesti.

Honesti menambahkan, alasan pemilihan Sinovac sebagai mitra adalah platform vaksin / metode pembuatan vaksin yang digunakan oleh Sinovac, sama dengan kompetensi yang dimiliki oleh Bio Farma saat ini. Dengan metode inaktivasi tersebut, Bio Farma sudah memiliki pengalaman dalam pembuatan vaksin seperti vaksin Pertusis.

Vaksin yang datang pada hari minggu kemarin, masih memerlukan beberapa tahapan lagi sebelum bisa dilakukan uji klinis pada Agustus 2020 mendatang. Tahap yang masih harus dilewati tersebut antara lain pengujian di dalam Laboratorium Bio Farma, dan beberapa perizinan lainnya.

Uji klinis vaksin Covid-19 ini, akan dilaksanakan di Pusat Uji Klinis yaitu di Fakultas Kedokteran UNPAD, yang akan mengambil sample sebanyak 1.620 subjek dengan rentang usia antara 18 – 59 tahun, dengan kriteria – kriteria tertentu. Sedangkan sisa dari vaksin tersebut, akan digunakan untuk uji lab di beberapa lab antara lain di Bio Farma dan Pusat Pengujian Obat Dan Makanan Nasional (PPOMN).

Dalam uji klinis vaksin Covid-19, Bio Farma berperan sebagai sponsor, berkolaborasi dengan berbagai pihak antara lain degan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan RI, sebagai medical advisor dan pelaksanaan uji titer antibodi netralisasi. Selain dengan Baltbangkes, Bio Farma juga bekerjasama dengan BPOM RI sebagai regulator, dan tentu saja dengan FK UNPAD sebagai insititusi yang sudah berpengalaman dalam pelaksanaan uji klinis vaksin – vaksin yang beredar di Indonesia.

Pengembangan vaksin Covid-19 ini, merupakan satu dari lima skenario Bio Farma, dalam menangani penyebaran virus SARS COV2 penyebab Covid-19, antara lain, produksi Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), Terapi Plasma Konvalesen, Mobile Laboratorium BSL 3, dan Pembuatan Viral Transport Media (VTM).

 

—-0000—-

 

Untuk informasi Media, Hubungi :

Iwan Setiawan

Head of Corporate Communications.

Bio Farma

Email : iwan.setiawan@biofarma.co.id

 

62 22 2033755 ext 5093

www.biofarma.co.id

twitter : @biofarmaID

Instagram :@biofarmaID

Bio Care : 1500810

 

Kunjungan Kerja Menteri Luar Negeri RI ke Bio Farma

By Bio Farma

Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi (tengah), berfoto bersama Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir (kiri) dan Sekretaris Jendral Kementerian Luar Negeri RI Cecep Herawan (kanan) didepan Lab Reseacrh and Development milik Bio Farma, yang juga merupakan Laboratorium Center of Excellence for Biotechnology and Vaccines, bagi negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Dalam kunjungan yang dilaksanakan pada 15 Juli 2020, Kementerian Luar Negeri RI, akan memberikan dukungan penuh kepada Perushaan BUMN untuk berkiprah di tingkat global.

Kunjungan Komisi VI DPR : Apresiasi Kesiapan Bio Farma Hadapi Pandemik Covid-19

By Bio Farma

Bandung, 9 Juli 2020, Bio Farma menerima Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI yang dipimpin Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Gde Sumarjaya Linggih beserta rombongan, turut mendampingi Asisten Deputi Industri Telekomunikasi dan Farmasi Kementerian BUMN, Aditya Dhanwantara. Kunjungan ini dilakukan  dalam rangka melihat langsung kesiapan dan peran holding BUMN Farmasi dalam mengatasi Pandemi Corona Virus (Covid-19) di Indonesia. Rombongan  diterima langsung  oleh Direktur Utama Bio Farma sekaligus Direktur Utama Induk Holding BUMN Farmasi, Honesti Basyir beserta  jajaran Board of  Executives Bio Farma.

Gde Sumarjaya Linggih menyampaikan  peran BUMN Farmasi menjadi sangat penting dalam upaya penanganan pandemic covid-19 terutama dalam menyediakan dan memastikan kebutuhan suplai produk farmasi di era new normal, “Dengan adanya covid-19 ini menjadi tantangan bagi stakeholder dalam hal ini  kefarmasian di Indonesia, oleh karena diharapkan tujuan dari kunjungan ini dapat memecahkan  permasalahan yang dialami oleh BUMN Farmasi akibat pandemic covid-19 juga sebagai fungsi pengawasan  agar bisa bersama-sama mengemban tugas negara dalam penanggulangan covid-19 ini”, ucap Gde Linggih.

Asisten Deputi Industri Telekomunikasi dan Farmasi Kementerian BUMN, Aditya Dhanwantara berharap Bio Farma dapat menjawab apa yang menjadi pertanyaan dari anggota Komisi VI DPR RI , “Kunjungan ini dapat memberikan pemahaman mengenai BUMN Farmasi  bagi  pemerintah untuk mendukung program-program  kerja kesehatan kedepannya”, ujarnya.

Honesti Basyir dalam sambutannya menyampaikan,”Manfaat dari pembentukan holding farmasi ini adalah untuk memperkuat kemandirian industri farmasi nasional, meningkatkan ketersediaan produk, juga menciptakan inovasi bersama dalam penyediaan produk farmasi”, ujarnya.

Upaya untuk pencegahan dan pengobatan Covid-19, dilakukan oleh Bio Farma sebagai induk Holding BUMN Farmasi yang baru saja terbentuk pada akhir Januari 2020 yang lalu bersama dengan anggota holding BUMN farmasi lainnya yaitu PT Kimia Farma, Tbk dan PT Indofarma, Tbk untuk menyediakan obat, yang sudah masuk ke protokol pemerintah yang sudah mampu diproduksi sendiri seperti Chloroquine, Hidrocholoroquine.

Holding BUMN Farmasi memiliki peran yang strategis antara lain berkolaborasi untuk pengembangan vaksin, obat dan test diagnostik yang bekerjasama dengan lembaga riset nasional Perguruan Tinggi dan lembaga lainnya, serta mencari potensi kerjasama dengan lembaga Riset di luar negeri.

Bio Farma sebagai induk holding BUMN Farmasi, telah berhasil memproduksi sendiri Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Dengan adanya RT-PCR ini, semakin mengukuhkan Bio Farma sebagai perusahaan lifescience yang tidak hanya menghasilkan vaksin dan sera, tetapi juga produk lifescience seperti biosimilar dan kit diagnostik.

Tes Kit berbasis RT-PCR ini telah memenuhi Golden Standard dalam pemeriksaan COVID-19 sekaligus penentuan penegakkan diagnosis status positif atau negatif dari sampel swab yang berasal dari pasien yang terduga terpapar oleh  COVID-19.

RT-PCR yang Bio Farma hasilkan, merupakan hasil kolaborasi dalam nuansa kegotong-royongan dalam Gerakan Indonesia Pasti Bisa dalam Task Force Riset dan Inovasi Teknologi untuk Penanganan COVID-19 (TFRIC19) sub Group task force Rapid Test Diagnosis berbasis quantitative polymerase chain reaction (qPCR) yang dimotori oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Sampai dengan bulan Juli 2020, Bio Farma sudah memproduksi sebanyak 140 ribu kit, dimana 100 ribu pertama sudah didonasikan ke 45 laboratorium yang tersebar di Indonesia, berdasarkan rekomendasi dari BNPB dan  akan meningkatkan kapasitas produksi RT-PCR pada Triwulan IV 2020, untuk memenuhi permintaan pemerintah sebanyak 2 juta per bulan dan Peran Bio Farma termasuk proses serta pengujian (quality control), packaging dan distribusi

Dalam kesempatan ini M Rahman Rustan, Direktur Operasi Bio Farma menyampaikan “Bio Farma sebagai Induk Holding BUMN Farmasi dalam penanganan wabah Covid-19 terlibat aktif dalam penanganan wabah Covid-19 di Indonesia, salah satunya kolaborasi dengan RSPAD dan Lembaga Eijkman dalam pemanfaatan plasma konvalesent untuk terapi kepada pasien Covid-19”, Ujarnya

Cara kerja dari plasma konvalesen ini adalah dengan memanfaatkan antibodi yang muncul secara alami dari tubuh pasien Covid-19 yang sudah sembuh, kemudian antibodi yang terkandung dalam plasma tersebut, diberikan kepada pasien Covid-19 lainnya yang termasuk kedalam kategori kritis atau pasien yang membutuhkan ventilantor.

Selain pembuatan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR), Viral Transfer Medium (VTM), terapi plasma konvalesen serta pembuatan Mobile Laboratorium BSL 3 sebagai dukungan penanganan pandemik COVID-19 di Indonesia, Bio Farmapun sudah menyiapkan skenario lainnya yaitu pengembangan vaksin Covid-19.

 

—-0000—-

 

Untuk informasi Media, Hubungi :

Iwan Setiawan

Head of Corporate Communications.

Bio Farma

Email : iwan.setiawan@biofarma.co.id

 

62 22 2033755 ext 5093

www.biofarma.co.id

twitter : @biofarmaID

Instagram :@biofarmaID

Bio Care : 1500810

Komisi VI DPR Apresiasi Kesiapan Bio Farma Hadapi Pandemik Covid-19

By Bio Farma

PT Bio Farma (Persero) menerima kunjungan kerja spesifik Komisi VI DPR RI ke Kantor Pusat Bio Farma pada Kamis 9 Juli 2020. Dalam kesempatan ini, Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir beserta jajaran Board of Executives Bio Farma, yang turut didampingi Asisten Deputi Bidang Industri Telekomunikasi dan Farmasi Kementerian BUMN, Aditya Dhanwantara memaparkan mengenai holding farmasi yang telah dibentuk, kinerja perusahaan dan kontribusi Bio Farma terhadap penanganan pandemi COVID-19.

Inovasi Dan Paten Di Bidang Vaksin Dan Farmasi Tentukan Kesehatan Masyarakat Indonesia

By Bio Farma

(Bandung 2/7) Kesehatan masyarakat (public health) merupakan suatu aspek yang sangat memerlukan perhatian kita bersama, apalagi dimasa Pandemik Covid-19 yang oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat ini sudah dinyatakan berada pada fase yang cukup berbahaya,  karena penyebaran Covid-19 meningkat dengan cepat. Hal ini berdampak  pada masyarakat sudah mulai jenuh dengan lockdown dan pembatasan sosial.

Fakta tersebut menunjukan bahwa masyarakat dunia, saat ini, sangat bergantung pada keberhasilan penemuan vaksin Covid-19. Berbagai negara dan perusahaan farmasi, lembaga penelitian, sedang gencar untuk mengadakan riset dan uji coba dan pengembangan vaksin Covid-19 dan berlomba menyelenggarakan riset, agar dapat segera memperoleh vaksin Covid-19, untuk kemudian mendaftarkan paten atas invensi tersebut.

Vaksin Covid 19 saat ini merupakan kebutuhan masyarakat dunia dengan urgensitas yang sangat tinggi sehingga segala upaya penemuan Vaksin Covid-19, hendaknya dimaknai pula sebagai upaya bersama dan hasilnya dimaknai tidak hanya dari aspek ekonomi, namun dari aspek sosial yaitu sebagai sarana pemulihan kesehatan masyarakat (public health recovery), yang dapat secara mudah diakses oleh publik tanpa mengabaikan segala upaya dan jerih payah pihak inventor serta hak ekonomi beserta hak moral yang melekat pada inventor tersebut.

Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Ikatan Keluarga Alumni Notariat Unpad (IKANO), Dr. Ranti Fauza., SH dalam kegiatan Webinar New Normal Tema : Langkah Strategis Perolehan Dan Perlindungan Paten Bidang Vaksin Dan Farmasi  Di Perguruan Tinggi Dan Lembaga Penelitian Kamis, 2 Juli 2020, yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, yang dihadiri oleh kalangan akademisi, pemerintah dan industri, yang dihadiri oleh narasumber yang kredibel berhasil menghadirkan tujuh narasumber ternama dan mempunyai kredibilitas tinggi yang ahli pada bidangnya seperti, Prof. Dr. Ahmad M. Ramli, S.H., M.H., FCB.Arb. (Dirjen Penyelenggara Pos & Informatika (PPI) Kominfo : Dirjen Kekayaan Intelektual 2010 – 2016 dan Guru Besar Hukum Kekayaan Intelektual Fakultas Hukum Unpad), Prof. Dr. Keri Lestari, M.Si., Apt. (Guru Besar Farmakologi & Farmasi Klinik Unpad, Ketua Gugus Tugas Covid-19 Ikatan Apoteker Indonesia), Dra. Dede Mia Yusanti, M.L.S. (Direktur Paten Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kemenkumham RI),

Pembicara lainnya adalah Erik Mangajaya, S.H., MIA (Diplomat Kemlu RI), Dr. M. Rahman Roestan, S.Si., Apt., MBA (Direktur Operasi Bio Farma), Prof. Dr. Sidik, Apt. (Guru Besar Emeritus Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran) dan Dr. I Made Pria Dharsana, S.H., M.Hum. (Notaris, Dosen, Dewan kajian Keilmuan IKANO Unpad). Webinar ini dipandu oleh moderator yang juga mempunyai kredibilitas tinggi dan ahli pada bidangnya yaitu Dr. Tasya Safiranita Ramli, S.H., M.H (Dosen Fakultas Hukum Unpad Dept. Teknologi Informasi Komunikasi dan Kekayaan Intelektual). Turut hadir dalam Webinar ini, Rektor UNPAD, Prof. Dr. Rina Indiastuti, M.SIE., dan Duta Besar Wakil Tetap Republik Indonesia untuk PBB, WTO, dan Organisasi Internasional Lainnya, HE Hasan Kleib.

Pada dasarnya, dengan adanya paten bisa memberikan dampak yang positif, seperti terhadap aktivitas inovasi karena akan memberikan dampak hak monopoli terbatas pada pemiik paten. Paten juga akan memberikan insentif bagi inventor untuk secara berkelanjutan memberikan alokasi dana dan perhatian terhadap pentingnya aktivitas riset dan juga pengembangan, untuk menciptakan keunggulan yang lebih kompetitif.

Upaya Indonesia dalam bidang paten, dituangkan dalam Undang-Undang Nomor 13 tahun 2016 tentang paten, yang merupakan pengganti dari Undang-undang Nomr 14 tahun 2001 tentang Paten. Penggantian Undang – undang ini, termasuk penyesuaian substansial terhadap perkembangan hukum di tingkat nasional maupun internasional, seperti sudah mengakomodir mengenai perjanjian perdagangan internasional yang dikeluarkan ole World Trada Organisation (WTO), dalam Persetujuan tentang Aspek-Aspek Dagang Hak Kekayaan Intelektual (Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights) (TRIPs) serta Peningkatan pelindungan paten sangat penting bagi inventor dan pemegang paten karena dapat memotivasi inventor untuk meningkatkan hasil karya, baik secara kuantitas maupun kualitas.

Guru Besar Kekayaan Intelektual dan Pakar Kekayaan Intelektual  Prof. Dr. AHMAD M. RAMLI, SH., MH., FCB.Arb, mengatakan dalam kondisi new normal pasca pandemik COVID-19 seperti saat ini, masyarakat dihadapkan pada pertanyaan hak paten atas obat atau vaksin yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk mengatasi COVID-19 ini.

Untuk produk farmasi khususnya obat dan vaksin dalam masa pandemiki ini, pelaksanaan paten bisa dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia, dan Indonesia mempunya hak untuk melaksanakan paten  untuk vaksin dan obat itu, “Indonesia mempunyai hal untuk melaksanakan paten untuk vaksin dan obat itu. Pemerintah dalam pasal 109 Undang-Undang Nomor 13 tahun 2016 tentang paten yang baru, dapat melaksanakan paten sendiri berdasarkan pertimbangan yang berkaitan keamanan negara atau kebutuhan yang sangat mendesak untuk kepentingan masyarakat dan pelaksanaan paten oleh pemerintah, dilakukan secara terbatas dan tidak boleh dijual dengan harga yang mahal serta tidak untuk ekspor”, tutup Ahmad Ramli.

Ahmad Ramli menambahkan, yang terpenting bagi kita pada saat menghadapi pandemik ini, kalau ada keinginan untuk memanfaatkan paten asing maka gunakan mekanisme – mekanisme seperti yang ada di dalam TRIPs WTO agar kita bersoal dengan ketentuan hukum internasional.

Sementara itu, Direktur Paten Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kemenkumham RI                 Dra. Dede Mia Yusanti, M.L.S. mengatakan Paten pada dasarnya adalah hak yang diberikan oleh negara, terhadap invensi dalam bidang teknologi, yang harus memenuhi syarat – syarat kebaruan, memiliki langkah yang inventif dan dapat diterapkan dalam industri, walaupun masih berupa ide atau gagasan, invensi tersebut sudah bisa dilindungi oleh paten, jadi yang dilindungi oleh paten bukanlah produk akhirnya.

“Khususnya dalam bidang kefarmasian, untuk negara – negara yang sudah paham akan sistem paten, umumnya mereka akan mengajukan permohonan paten seawal mungkin sebelum diproduksi, bahkan memajukan begitu banyak senyawa, dan kemudian dari begitu banyak senyawa tersebut, jika ditemukan senyawa terbaik, akan didaftarkan kembali, karena dalam pendaftaran paten kita mengenal yang namanya selection invention dan mereka tetap mengajukan yang terbaik dari yang pernah diajukan, intinya paten itu tidak hanya sekedar produk, tetapi termasuk proses ”, ujar Dede Mia.

Sementara itu, Direktur Operasi Bio Farma, M. Rahman Roestan mengatakan, paten merupakan salah satu barrier to entries dalam industri farmasi, karena dengan memiliki paten, suatu perusahaan bisa membatasi ruang gerak perusahaan lain untuk berinovasi, karena harus menunggu lisensi obat yang memiliki patent telah selesai (off-patent) yang bisa memakan waktu yang lama, oleh karenanya, sangat penting bagi industri farmasi nasional untuk berinovasi dengan memprioritaskan penemuan produk obat baru dengan harga yang terjangau.

Penelitian dan inovasi untuk produk farmasi memakan waktu yang lama, dengan risiko yang cukup tinggi, oleh karenanya diperlukan kolaborasi dengan berbagai macam pihak, seperti dengan pihak akademisi dan lembaga penelitian, dengan skema kerja sama penelitan produk (join reserach), kerja sama pengembangan produk (join development) dan transfer teknologi (technology transfer) serta dukungan dari pemerintah, regulator dan komunitas.

Rahman menambahkan, uniqueness dalam industri farmasi, terletak pada penemuan baru lebih banyak pada tahap proses produksi dari suatu produk. Dengan invensi tersebut, produsen farmasi bisa menjadi pemilik paten, dengan adanya inovasi, dan perlindungan Kekayaan intelektual, maka akan tercipta sustainability, yang pada akhirnya akan menciptakan competitive advantage bagi perusahaan bagi dan organisasi yang terlibat di dalamnya

“Dalam menemukan keterbaruan proses produksi yang akan berujung pada mendapatkan paten, Bio Farma tidak bisa berjalan sendiri diperlukan kolaborasi dan sinergi dengan berbagai pihak lembaga penelitian dan universitas baik dari dalam negeri maupun luar negeri, termasuk bantuan diplomasi dari Kementerian Luar Negeri RI”, tutup Rahman.

Bio Farma sendiri, sudah memajukan beberapa paten terkait metodologi untuk pembuatan vaksin ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM RI, dan dari pendaftaran tersebut sudah ada yang diberikan perlindunngan paten.

Bio Farma sebagai induk holding BUMN Farmasi dengan semangat #BUMNUntukIndonesia, memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan ketahanan kesehatan nasional khususnya dalam penanganan COVID-19. Dalam penanganan Pandemi Covid-19, Holding BUMN menjadi yang terdepan dalam penanganan Covid-19 di Indonesia. Hal dapat dilihat dari produk – produk yang dihasilkan oleh Bio Farma sebagai induk Holding BUMN dalam penanganan wabah Covid-19 seperti pembuatan Kit Deteksi Dini COVID-19 Berbasis RT-PCR, Terapi Plasma Konvalesen COVID-19, pembuatan Fasilitas Mobile Lab BSL – 3, dan Pengembangan Vaksin COVID-19.

Salah satu cara untuk mewujudkan keterjangkauan akses terhadap produk farmasi adalah melalui penemuan kebaruan dalam salah satu atau keseluruhan dari proses pembuatan produk farmasi, yang dihasilkan oleh  suatu industri farmasi, yang bisa menghasilkan inovasi, sehingga dari hasil inovasi tersebut bisa dijadikan paten oleah suatu industri, yang akan menjamin keberlangsungan bagi kesehatan masyarakat dan juga kemandirian bagi industri.

Untuk pembuatan vaksin COVID-19, diperlukan Kolaborasi Inovasi Penanganan COVID-19 dengan semua negara, seperti yang dalam waktu dekat akan dilakukan oleh Indonesia melalui Bio Farma, yaitu dengan mengadakan kerjasama dengan produsen atau lembaga peneitian, baik secara bilateral maupun multilateral yang dapat disinergikan dengan Kedutaan Besar RI di luar negeri.

 

 

—-0000—-

 

Untuk informasi Media, Hubungi :

Iwan Setiawan

Head of Corporate Communications.

Bio Farma

Email : iwan.setiawan@biofarma.co.id

62 22 2033755 ext 5093

www.biofarma.co.id

twitter : @biofarmaID

Instagram :@biofarmaID

Bio Care : 1500810

 

 

Penuhi kebutuhan RT PCR Nasional, Bio Farma akan Optimalkan Kapasitas Produksi

By Bio Farma

(Bandung 20/06)  Bio Farma berencana untuk memanfaatkan fasilitas produksi flu burung yang berada di kawasan Bio Farma, untuk membantu penanganan Covid-19. Fasilitas produksi untuk produk tersebut, akan memanfaatkan fasilitas produksi vaksin Flu Burung, yang terletak di kawasan Bio Farma, dan Kawasan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, yang sampai dengan saat ini masih dalam proses penyerahan dari Kementerian Kesehatan RI kepada Bio Farma.

Bio Farma sebagai induk Holding BUMN Farmasi, menjadi yang terdepan untuk penanganan Covid-19, bersama dengan anggota holding BUMN farmasi lainnya yaitu PT Kimia Farma, Tbk dan PT Indofarma, Tbk untuk menyediakan obat, yang sudah masuk ke protokol pemerintah yang sudah mampu diproduksi sendiri seperti Chloroquine, Hidrocholoroquine.

Sedangkan Bio Farma sendiri, sudah menyiapkan lima skenario untuk menangani Covid- 19 antara lain pembuatan Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri khususnya pada masa pandemik COVID-19, pengembangan  vaksin Covid-19, dukungan terapi plasma konvalesen, pembuatan Virus Transport Media (VTM), pembuatan Mobile Laboratorium BSL3.

Pada bulan Mei 2020 yang lalu, Bio Farma sudah mampu memproduksi sendiri RT- PCR test kit, yang peresmiannya dilakukan langsung oleh Presiden RI Joko Widodo dalam kegiatan Hari Kebangkitan Nasional. Sampai dengan minggu ketiga bulan Juni 2020 total sudah sebanyak 140 ribu kit yang dihasikan, dan sudah dikirimkan ke seluruh pelosok Indonesia.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir dalam acara kunjungan kerja Menteri Kordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) RI Muhadjir Efendy dan Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto pada hari Sabtu 20 Juni di Bio Farma

RT PCR sendiri merupakan bagian dari kolaborasi antara Bio Farma, dengan star-up Nusatics dibawah koordinasi BPPT/Ristek-BRIN dalam gerakan Indonesia Pasti Bisa. Bio Farma dengan kompetensi dalam bidang bioteknologi memiliki tugas tidak hanya untuk memproduksi saja namun juga untuk validasi, regristrasi dan distribusi RT PCR ke seluruh pelosok Indonesia.

“Saat ini, Bio Farma mampu memproduksi sebanyak 50 ribu kits per minggu dengan menggunakan fasilitas yang sekarang berlokasi di kawasan Bio Farma. Apabila fasilitas produksi eks produksi vaksin flu burung dapat difungsikan, Bio Farma diharapkan akan mampu secara rutin memproduksi RT PCR sesuai dengan kebutuhan nasional, yaitu sebayak 20 ribu kit per hari atau 700 ribu kit perbulan”, ujar Honesti,

Dalam sambutannya Terawan Agus Putranto menekankan diperlukan adanya percepatan untuk penanganan COVID-19 seperti fasilitas produksi RT – PCR, maupun vaksin COVID-19, pihaknya mendukung Bio Farma untuk mempercepat pemanfaatan fasilitas produksi vaksin flu burung.

“Kami dari Kemenkes berharap Bio Farma mampu untuk memproduksi RT – PCR hingga 700 ribu kit per bulannya dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di Bio Farma, yang saat ini masih berada di bawah Kementerian Kesehatan, kami siap membantu Bio Farma untuk melakukan upaya percepatan pengalihan fasilitas produksi vaksin flu burung dari Kementerian Kesehatan ke Bio Farma”, Ujar Terawan.

Sementara itu Muhadjir Efendy menyampaikan apresiasi kepada Bio Farma yang sudah bisa memproduksi sendiri RT PCR untuk memenuhi kebutuhan nasional, diharapkan Bio Farma bisa terus menambah kapasitas produksinya “Peningkatan kapasitas produksi untuk RT-PCR tersebut memang diperlukan mengingat kebutuhan dalam negeri yang besar juga. Kami mengapresiasi keampuan Bio Farma yang sudah mampu memproduksi sendiri, RT PCR. untuk penambahan fasilitas produksi, bisa memanfaatkan fasilitas – fasiliitas yang ada sekarang, maupun memanfaatkan di tempat lain seperti di  Balitbangkes”,  ujar Muhadjir Efendy.

 

—-0000—-

 

Untuk informasi Media, Hubungi :

Iwan Setiawan

Head of Corporate Communications.

Bio Farma

Email : iwan.setiawan@biofarma.co.id

62 22 2033755 ext 5093

www.biofarma.co.id

twitter : @biofarmaID

Instagram :@biofarmaID

Bio Care : 1500810

 

 

Kolaborasi Bio Farma dan UNPAD Tangani Covid-19: Ciptakan Laboratorium BSL 3 Bergerak Pertama di Indonesia

By Bio Farma

 

(Bandung 12/6) Bio Farma menyerahkan Mobile Laboratorium BSL 3 kepada Universitas Padjadjaran (Unpad), di Gedung Rumah Sakit Pendidikan Fakultas Kedokteran Unpad pada tanggal 12 Juni 2020 dalam acara Serah Terima Peminjaman Mobile Laboratorium Bio Safety Level 3 (BSL 3) Bio Farma Kepada Universitas Padjadjaran.

Mobile Laboratorium BSL3 yang dibuat oleh Bio Farma merupakan laboratorium BSL 3 bergerak pertama di Indonesia, yang dapat digunakan untuk melakukan pemeriksaan Swab Test melalui RT-PCR pasien Covid-19. Pembuatan Mobile Lab BSL 3 ini merupakan wujud dari kepedulian Bio Farma dalam menangani Covid-19.

Kelebihan dari Mobile Laboratorium BSL 3 ini, selain yang sifatnya dapat berpindah-pindah, adalah dari segi pembuatannya yang merupakan ide inovasi dari Tim Millenial Bio Farma, dari mulai desain, validasi dan kualifikasi yang memiliki tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi.

Nantinya, selama digunakan dan dimanfaatkan oleh Fakultas Kedokteran Unpad, Mobile Laboratorium BSL 3 ini akan beroperasi secara statis di Rumah Sakit Pendidikan Unpad di Jl. Prof Eyckman Bandung. Artinya, Unpad tidak akan mengoperasikannya untuk bergerak ke berbagai daerah. Namun, walaupun beroperasi secara statis di satu lokasi, lab ini dapat menerima spesimen swab pasien Covid-19 dari berbagai tempat, khususnya dari masyarakat yang berada di Jawa Barat. Penggunaan mobile lab secara statis ini disepakati dalam bentuk Perjanjian Kerjasama (PKS) antara Bio Farma dengan Unpad.

Acara serah terima peminjaman Mobile Laboratorium BSL 3 ini diawali dengan penandatanganan PKS sekaligus penyerahan Berita Acara Serah Terima, yang dilakukan oleh Direktur Operasi Bio Farma Dr. Apt M. Rahman Roestan, S.Si., MBA dengan Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Univertsitas Padjadjaran Prof. Dr. Ir. Hendarmawan, M.Sc. Dalam penyerahan Mobile Laboratorium BSL 3 ini, turut disaksikan oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Rektor UNPAD. Prof. Dr. Rina Indiastuti, M.SIE, dan Direktur Pemasaran, Penelitian dan Pengembangan I, dr. Sri Harsi Teteki., M.Kes

Ridwan Kamil dalam sambutannya mengatakan dengan hadirnya Mobie Laboratorium BSL 3 diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pemeriksaan sample COVID-19 di Jawa Barat, khusunya untuk daerah – daerah tertentu, karena wilayah Jawa Barat yang heterogen geografisnya.

“Jawa Barat memiliki kontur yang heterogen dari wilayah tengah ke utara yang datar, dan dari tengah ke laut selatan berbukit. Dengan hadirnya mobile BSL3 ini, memberikan harapan besar, diharapkan target pemeriksaan COVID-19, mencapai 300 ribu penduduk Jawa Barat atau 0,6% dari total 50 juta penduduk Jabar bisa terealisasi secepatnya”, ungkap Ridwan.

Ridwan Kamil menambahkan, optimisme Jawa Barat dengan teknologi peralatan melawan COVID-19 bisa diproduksi sendiri 627 mobil ambulans yang di konversi jadi mobil rapid test dengan demikian Jabar menjadi satu – satunya provinsi di Indonesia, yang bisa memproduksi semua alat perang melawan COVID-19, dari mulai ventilator, Alat Pelindung Diri (APD), Masker Bedah, RT-PCR, Mobile Laboratorium BSL3, dengan kekompakan dan kebersamaan kita bisa menang lawan COVID-19.

Sri Harsi Teteki mengatakan, pembuatan Mobile Laboratorium BSL 3 dari Bio Farma merupakan milestones kedua Bio Farma untuk menanggulangi COVID-19, setelah pada akhir Mei 2020 yang lalu Presiden RI Joko Widodo, meresmikan RT-PCR dengan nama BioCov19. Untuk menanggulangi COVID-19, memang diperlukan suatu kolaborasi antar semua elemen, baik dari akademisi, bisnis, pemerintahan, komunitas dan juga media massa atau yang kita kenal dengan nama pentahelix. Semua elemen tersebut, harus bersama-sama membangun ketehanan kesahatan nasional.

“Strategi kolaborasi Bio Farma untuk penanggulangan COVID-19 ini, antara lain kerja sama riset dengan lembaga-lembaga riset nasional seperti Litbangkes, lembaga Eijkman, BPPT, BPOM dan lembaga lainnya, bahkan Bio Farma ada kolaborasi juga dengan salah satu starup dalam bidang teknologi genomics. Dan lembaga penelitan dan industri dari luar negeri untuk pengembangan vaksin Covid-19,” ujar Sri Harsi.

Senada dengan itu, Rektor Unpad dalam sambutannya mengatakan, serah terima peminjaman mobile lab ini merupakan wujud nyata dari kolaborasi antar institusi yang mengutamakan kemaslahatan masyarakat. Prof. Rina Indiastuti menyambut baik realisasi kolaborasi dengan Bio Farma yang sudah terjalin produktif selama ini. Peminjaman Mobile Laboratorium BSL 3 adalah untuk meningkatkan kapasitas deteksi Covid-19 dengan pemeriksaan konfirmasi PCR yang definitif. Unpad saat ini melayani pemeriksaan deteksi Covid-19 menggunakan lab BSL 2 di RSP Eyckman dan lab BSL 3 di Jatinangor. Dengan tambahan bantuan Mobile Laboratorium BSL 3 ini maka kapasitas pemeriksaan bisa mencapai 1500 per/hari bila sampel dan BHP siap.

“Unpad telah menyatakan komitmennya sejak awal pandemi ini hadir di Indonesia untuk sedapat mungkin mengoptimalkan semua potensi yang dimiliki untuk turut serta menyelamatkan negeri ini. Unpad memiliki berbagai bidang ilmu yang memungkinkan untuk berkontribusi di semua lini, baik itu di bidang kesehatan dan saintek melalui ilmu kedokteran, keperawatan, farmasi, MIPA atau psikologi, maupun bidang sosial seperti ekonomi, kesejahteraan masyarakat, atau komunikasi. Kerja sama dengan Bio Farma ini menjadi salah satu wadah untuk menyalurkan kontribusi multidisiplin ini, dengan harapan kita semua dapat berperan dalam menangani dan menghentikan penyebaran Covid-19,” tutur Rina.

Rina menambahkan, sesuai arahan Gubernur jawa Barat, pelayanan di Eyckman diutamakan untuk daerah Priangan sedangkan lab BSL 3 Jatinangor menerima sampel dari daerah Priangan timur. Keberadaan mobile lab di RSP Eyckman ini akan mendukung kemudahan akses, kecepatan pelayanan pemeriksaan, sekaligus memperluas layanan dengan menerima lebih banyak sampel dari berbagai daerah.

Sementara itu, M. Rahman Roestan mengatakan peminjaman fasilitas Mobile Laboratorium Biosafety Level 3 (BSL-3) yang dimiliki oleh Bio Farma, termasuk instrumen penunjang pemeriksaan Covid-19 di dalamnya kepada FK UNPAD, merupakan salah satu bentuk kolaborasi lintas sektor, yaitu sektor pendidikan dengan sektor industri. Ini menandakan bahwa kami memiliki komitmen dan visi yang sama, untuk secara bersama-sama menanggulangi wabah Covid-19 , khususnya di Jawa Barat.

Mobile Laboratorium BSL3 merupakan fasilitas untuk emergency response saat terjadi outbreak, sebagai bentuk responsibility Bio Farma dalam menangani Pandemi Covid-19, melalui uji swab PCR yang merupakan pemeriksaan laboratorium golden standard dalam penegakan Diagnosis  Covid-19. Dalam hal pemanfaatan Mobile Lab BSL 3 ini, Bio Farma sudah bekerjasama dengan FK UNPAD, untuk pengoperasian laboratorium berjalan ini, dan akan dimanfaatkan oleh tenaga medis yang berasal dari FK UNPAD, yang memang sudah terbiasa dalam pengerjaan sampel dari swab Covid-19,” ujar Rahman.

Rahman menambahkan, saat terjadi pandemik global seperti sekarang, semua elemen bangsa harus berkolaborasi bukan berkompetisi. Hari ini, Bio Farma mewujudkannya dengan berkolaborasi dengan FK UNPAD, dimana Bio Farma yang memiliki kompetensi dalam pembuatan laboratorium BSL 3, dan FK UNPAD, yang memiliki kompetensi dari sisi SDM nya untuk melakukan pemeriksaan spesimen dari hasil swab pasien Covid-19, bersama-sama.

Selain pembuatan Mobile Laboratorium BSL 3, Bio Farma sudah menyiapkan empat skenario lainnya untuk menangani wabah Covid-19 antara lain ; Produksi RT-PCR yang akan segera komersialisasi, Pengembagan terapi konvalesent plasma, pengembangan vaksin Covid-19, dan pembuatan Viral Transfer Medium (VTM).

Sementara Unpad dalam acara serah terima tersebut berkesempatan mempresentasikan produk-produk inovasinya berkaitan dengan mengatasi keterbatasan pemeriksaan Covid-19. Di antaranya adalah produk bahan pengujian PCR NanoMag PrintG, mesin ekstraktor RNA AutoMager, kit ekstraksi GanexpaD, VTM VitPad-iceless Transport System, dan alat PCR portabel Chilli miniCycler. Produk-produk ini adalah hasil inovasi potensial yang dapat digunakan dalam berbagai bentuk mobile lab.

—-0000—-

 

Untuk informasi Media, Hubungi :

Bio Farma :  Iwan SetiawanHead of Corporate Communications.Bio FarmaEmail : iwan.setiawan@biofarma.co.id62 22 2033755 ext 5093www.biofarma.co.idtwitter : @biofarmaIDInstagram :@biofarmaIDBio Care : 1500810  UNPAD :  Lia Faridah, dr, MSiGedung RSP Fakultas Kedokteran UNPADJl. Prof Eyckman No.38 BandungMobile ; +62 812-2019-367

Dirut Bio Farma : Herbal Indonesia Mampu Bersaing di Pasar Global

By Bio Farma

Dalam negeri bersaing ke pasar global. Bahan baku dari kekayaan alam nusantara yang melimpah membuat industri herbal di Indonesia berpotensi untuk bisa bersaing dengan produk-produk farmasi dunia.

Demikian dikatakan Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir dalam paparannya di Diskusi Kopi Pahit bertajuk “Peluang Industri Farmasi Berbasis Herbal Hadapi New Normal”, pada Sabtu (6/6). Ia mengatakan, hal tersebut dapat terwujud jika terjadi kolaborasi yang harmonis dari semua pihak maupun lembaga terkait untuk bersinergi.

“Potensi Biodeversitas Indonesia saat ini belum dioptimalkan. Karena kita masih berbasis pada kimia. Padahal memang kalau chemical kita sudah ketinggalan dan tidak bisa mampu bersaing dengan produk farmasi dunia,” ujarnya.

Honesti mengatakan, sebenarnya pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk untuk percepatan produk farmasi, alat kesehatan dan termasuk di dalamnya produk-produk herbal. Namun yang menjadi masalah adalah eksekusi, bagaimana menjalin harmonisasi seluruh stakeholder terkait dengan industri ini agar berjalan Sinergi.

“Kolaborasi hulu hilir harus dijalin. antara riset riset perguruan tinggi dengan kami yang ada di industri. mulai dari teknologi hingga sales marketing nya ini kita harus perbaiki,” ungkapnya.

Selain itu, Honesti menambahkan, jika produk herbal ini ingin mempunyai tempat yang strategis, perlu juga diintegrasikan dengan layanan kesehatan pemerintah. Karena BPJS misalnya, tidak mengcover produk obat-obatan herbal.

Ia menambahkan, bahwa Indonesia pernah punya pengalaman baik soal produk herbal. Di mana dulu pernah menjadi pasar terbesar tanaman obat Kina di dunia. Sekitar 90% bahan baku berasal dari Indonesia. Namun karena tidak mengambangkan teknologi untuk mengolahnya, saat ini dominasi Kina dipegang oleh eropa.

“Kita hanya bermain di bahan baku akan tetapi teknologi untuk pengembangannya tidak di kembangkan sehingga teknologi-teknologi tersebut dimiliki oleh Eropa. Hal itu yang membuat Indonesia saat ini hanya menempati posisi ketiga. Hanya sekitar 30% market sale yang kita miliki,” tuturnya.

Sumber : monitorday.com