OIC appreciates Bio Farma’s role in promoting Vaccine Self Reliance among OIC Member Countries

By Bio Farma

Friday (23/11) – Delegations from Organization of Islamic Cooperation (OIC) visited Bio Farma in Bandung, accompanied by Indonesia’s National Agency of Drug and Food Control (BPOM) representatives.

President Director of Bio Farma M. Rahman Roestan said, “This is a strategic visit. We are honored by their visit to Bio Farma and they have expressed keen interest in our vaccines.
The delegation represents pharmaceutical industries and drug regulatory authorities from the respective OIC member countries. The drug regulatory authority has a vital role in ensuring that drugs including vaccines meet standard quality.”

Mr Abdunur Sekindi, representing the OIC member countries delegation, said in his address that the Vaccine Manufacturing Group (VMG), a group within the OIC, has high regard for Bio Farma’s vaccines.

“Bio Farma, a pioneer in vaccine manufacture, has collaborated with Arabio, a vaccine manufacturer based in Saudi Arabia. Bio Farma has also interacted with other manufacturers like in Morocco and Tunisia in sharing experience and knowledge in the field of vaccines.”

“Particularly with Saudi Arabia, Tunisia, Bangladesh, Egypt, Morocco and Turkey with the aim to strengthen one another in achieving vaccines self-reliance among OIC member countries,” said Sekindi.

M. Rahman Roestan added “We praise Allah that Bio Farma is one of a few vaccine manufacturers that has acquired WHO prequalification for its products. Among 100 vaccine industries globally, only less than 30 are WHO prequalified; one of them being Bio Farma, Indonesia. From 57 OIC member countries, only two countries are WHO prequalified. Apart from Bio Farma, the other is in Senegal where its Yellow fever vaccine is WHO prequalified and procured particularly throughout Central Africa and West Africa.”

“Till this day, there are 12 vaccines produced by Bio Farma that support national immunization programs globally. We have distributed our vaccines to more than 140 countries. The delegation wants to be assured that the production and control process meet WHO standards. To ensure self-reliance in vaccines, we are open to share our experience and knowledge to our friends that have visited us.”

In previous meeting, in Jakarta, harmonization of halal medicines among OIC member countries have been discussed among others.

Bio Farma fully supports cooperation among OIC member countries to achieve self-reliance in medicines and vaccines production.

For further information please contact:
N. Nurlaela Arief
Head of Corporate Communications Dept.
Email : lala@biofarma.co.id
Bio Farma
Jl. Pasteur No. 28 Bandung
Telp : 62 22 2033755
Fax : 62 22 2041306

Pertemuan Kepala Otoritas Regulatori Obat Negara Anggota OKI, Solidaritas Kemanusiaan Untuk Kemandirian Obat dan Vaksin

By Bio Farma

Jakarta – Indonesia kembali dipercaya menjadi tuan rumah perhelatan internasional. Organisasi Kerjasama Islam (OKI) merespon positif solidaritas BPOM RI untuk berkolaborasi membantu meningkatkan kapasitas regulasi dan produksi industri farmasi dalam memenuhi kemandirian dan keterjangkauan obat termasuk vaksin di negara anggota OKI. Untuk itu, BPOM RI menginisiasi pertemuan “The 1st Meeting of the Heads of National Medicines Regulatory Authorities (NMRAs) from the Organization of Islamic Cooperation Member States” di Jakarta, 21-22 November 2018.

Menteri Kesehatan, Kepala BPOM RI, dan perwakilan Sekretariat OKI secara resmi membuka Pertemuan Kepala Otoritas Regulatori Obat yang dihadiri oleh 32 negara anggota OKI di semua sector, termasuk kesehatan. Kersama Indonesia sebagai salah satu anggota OKI merupakan solidaritas kemanusiaan yang sangat menyentuh hati Umat Islam, termasuk pengakuan Indonesia atas kemerdekaan Palestina.

Kondisi Ekonomi, Politik, dan ekamanan yang tak menentu di sebagian Negara anggota OKI, seperti di sebagian Timur Tengah dan Africa kian mengkhawatirkan. Terbatasnya akses dan keterjangkauan obat dan vaksin di dunia, terutama di negara konflik dan berpendapatan rendah, menyebabkan angka kematian yang tinggi akibat penyakit. Apalagi penyakit menular masih menjadi masalah besar bagi sejumlah negara anggota OKI. Terbentuknya OKI untuk memperjuangkan keadilan, sehingga situasi ini membutuhkan penanganan segera, dan bantuan dari kita semua, agar tidak terjadi krisis berkepanjangan, terlebih kaum perempuan dan anak-anak harus mendapat jaminan akses kesehatan yang memadai.

Data WHO menyebutkan sebanyak 30% populasi dunia kekurangan akses terhadap obat yang bersifat life-saving, termasuk vaksin. Kondisi ini juga terjadi di beberapa Negara anggota OKI, yaitu Indonesia, Iran, Senegal, Uzbekistan, Bangladesh, Tunisia dan Mesir, yang memiliki kapasitas untuk memproduksi vaksin. Sebagian besar negara anggota OKI masih mengandalkan impor dari luar Negara anggota OKI untuk memenuhi kebutuhan obat dan vaksin di negaranya.

Dalam hal produksi vaksin, Indonesia bersama Senegal cukup terdepan di antara Negara anggota OKI lain. Kedua negara ini telah menerima status Pre-Qualification WHO (PQ-WHO) yaitu pemenuhan standar mutu, keamanan, dan penggunaan secara internasional untuk produksi vaksin. Indonesia patut berbangga karena menjadi negara Islam yang industri vaksinnya telah memperoleh PQ-WHO dengan jumlah produk terbanyak sejak tahun 1997. “Dengan kapabilitasnya, Indonesia melalui PT Bio Farma ditunjuk sebagai Center of Excellence (CoE) bidang vaksin bagi Negara anggota OKI,” ucap Penny K Lukito.

Indonesia juga telah menjadi anggota The Pharmaceutical Inspection C-operation Scheme (PICs) bersama 49 negara lainnya, dimana hanya empat negara anggota OKI yang masuk dalam PICs yaitu Indonesia, Malaysia, Turki dan Iran. Masuknya Indonesia dalam PICs membuktikan kemampuan BPOM RI sebagai regulator dapat memastikan produksi obat yang dihasilkan Indonesia memenuhi standar sehingga diakui dunia dan bisa diekspor. Indonesia melalui Bio Farma telah mengekspor produk vaksin ke 141 negara dunia, termasuk ekspor ke 49 negara anggota OKI.

Peran kepemimpinan Indonesia dalam pertemuan ini sangat besar dan menguntungkan untuk saling menguatkan system pengawasan dan membuka pasar. Dalam forum ini seluruh delegasi akan membuat rencana kerja untuk mengetahui kekuatan setiap negara dalam memproduksi obat dan vaksin. Pertemuan ini akan membahas berbagai permasalahan seputar obat dan vaksin mencakup status regulatori di Negara anggota OKI, peran otoritas regulatori dalam menjamin mutu obat, harmonisasi standard an upaya menuju kemandirian obat, kehalalan obat dan vaksin, dan pengendalian obat palsu. Pada pertemuan ini juga akan digelar pameran industry farmasi, forum bisnis, workshop, serta kunjungan ke sejumlah industry farmasi dan vaksin terkemuka di Jakarta, Bekasi, dan Bandung.

Hasil pertemuan yang mengangkat tema “Strengthening Collaboration Amongst The OIC NMRAs Towards Self-Reliance of Medicines and Vaccines” ini, akan dituangkan dalam bentuk “Deklarasi Jakarta” yang merupakan komitmen dari Kepala Otoritas Regulatori Obat Negara anggota OKI untuk meningkatkan tingkat kesehatan dan kesejahteraan rakyatnya, melalui kemandirian produksi obat dan vaksin yang aman, berkhasiat, dan bermutu. Selain itu juga, akan dihasilkan “Plan of Action” yang memuat berbagai program untuk mewujudkan kemandirian obat bagi Negara anggota OKI melalui piloting produksi obat dan vaksin, produksi obat generic, pengembangan obat bioteknologi dan biosimilar, dan lainnya.

Kerjasama ini bisa dilaksanakan untuk pengembangan produk baru bersama-sama atau produk vaksin jenis tertentu yang belum dapat diproduksi di kawasan OKI. “Kita bisa piloting bersama-sama, dan diharapkan juga dapat meningkatakan pengembangan produk obat biologi, dan bioteknologi, serta obat bahan alam (jamu, obat herbal terstandar, fitofarmaka), terlebih dengan kekayaan keanekaragaman alam Indonesia,” tutup Kepala BPOM RI.

 

Informasi lebih lanjut hubungi:

Contact Center HALO BPOM di nomor telepon 1-500-533, SMS 0-8121-9999-533, e-mail halobpom@pom.go.id, twitter @BPOM_RI atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.

 

 

SEKRETARIAT OKI: Apresiasi bantuan Bio Farma untuk Kemandirian Vaksin negara Anggota OKI

By Bio Farma

Jumat (23/11) sejumlah delegasi negara Organisasi Kerjasama Islam (OKI) kunjungi Bio Farma di Bandung, hadir pula perwakilan dari Organisasi Kerjasama Islam OKI, Mr. Abdunur Sekindi dan beberapa perwakilan delegasi serta perwakilan dari Badan POM.

Rahman Roestan, Direktur Utama Bio Farma menyampaikan “ pertemuan ini sangat strategis, karena bisa mendatangkan delegasi dari negara-negara OKI terutama dalam bidang vaksin dan medicine. Para delegasi ini datang dari perwakilan industri nasional serta dari badan POM dinegaranya. Sehingga ini sangat penting untuk bisa menjamin vaksin dan medicine yang beredar di negara masing-masing itu sudah sesuai kualitas”

Abdunur Sekindi, Sekretariat OKI, menyampaikan dalam sambutannya, “Bio Farma Indonesia merupakan industri yang paling diandalkan oleh kelompok yang dibentuk OKI yaitu Vaccine Manufacturing Group (VMG)”.

“Bio Farma ini sebagai Pionir, dan sebelumnya juga sudah membantu perusahaan Arabio, perusahaan vaksin yang berkantor pusat di Saudi Arabia. Bio Farma juga telah membantu beberapa perusahaan seperti maroko, tunisia, dengan berbagi pengalaman dan pengetahuan”.

“Khususnya dengan Arabio Saudi Arabia dan beberapa negara seperti Tunisia, Bangladesh, Mesir,Maroko, Turki.   Ini ada tujuan utama untuk saling membantu, saling menguatkan sehingga bisa tercapai kemandirian vaksin di negara OKI”. Tambah Abdunur

Rahman Roestan menambahkan “Alhamdulillah Bio Farma salah satu yang sudah diakui Badan Kesehatan Dunia. Petanya ada seratus industri vaksin seluruh dunia, yang sudah di akui Badan kesehatan Dunia itu kurang dari 30,salah satunya itu Indonesia. Dari 57 negara anggota OKI hanya ada 2 negara yang sudah diakui Badan Kesehatan Dunia untuk vaksin. Untuk yellow fever itu sudah diproduksi oleh Senegal, dan sudah diakui Badan Kesehatan Dunia tapi itu hanya untuk kebutuhan Afrika Tengah dan Afrika Barat”.

“Saat ini, vaksin yang diproduksi oleh Indonesia ini melingkupi 12 produk yang digunakan untuk program imunisasi dasar dan imunisasi nasional di masing-masing negara. Jadi sudah didistribusikan di lebih dari 140 negara. Delegasi ini ingin memastikan bahwa proses produksinya, kemudian proses fungsi pengawasan negaranya, sudah memenuhi standar WHO. Memang mereka ada keinginan untuk kemandirian produksi vaksin, kita dengan senang hati berbagi pengalaman, berbagi pengetahuan, untuk bisa memberikan pemahaman dan juga memberikan sebagian expertise kepada teman2 yang berkunjung kesini”

Pada pertemuan sebelumnya di Jakarta  juga dibahas mengenai harmonisasi halal di negara-negara OKI.  Dan juga diskusi berlanjut di Bandung, “bahwa vaksin yang diproduksi oleh Indonesia dari sisi kualitas, dari sisi khasiat, dari sisi keamanan, quality, safety, efficacy nya itu sudah memenuhi syarat. Jadi kami dukung sekali program ini dan kami juga siap untuk diajak kerjasama oleh negara-negara  islam untuk memunculkan kemandirian di wilayah negara OKI”

***-***

 

Media Kontak :

N. Nurlaela Arief

Head of  Corporate Communications Dept.

Email : lala@biofarma.co.id

Bio Farma

Jl. Pasteur No. 28 Bandung

Telp : 62 22 2033755Fax : 62 22 2041306

Vaksin Dengue Bio Farma Dinanti

By biofarma

VAKSIN dengue untuk pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DDB) berpeluang masuk program imunisasi wajib bila telah diproduksi massal.

Vaksin dengue yang tengah dikembangkan perusahaan BUMN Bio Farma itu sangat ditunggu karena dibutuhkan masyarakat. Hal itu dikatakan Direktur Pelayanan Farmasi Kementerian Kesehatan Detty Yulianti.

“Saat ini vaksin yang masuk program imunisasi wajib ada sembilan. Namun, ke depan tidak menutup kemungkinan bertambah sesuai dengan kebutuhan dan dinamika di lapangan. Salah satunya vaksin dengue yang saat ini masih dikembangkan PT Bio Farma,” kata Detty pada workshop vaksin negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Bandung, Jawa Barat, kemarin.

Ia menyebutkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merupakan pengguna produk yang dihasilkan produsen vaksin dalam negeri baik untuk program imunisasi wajib (usia 0-5 tahun) maupun program imunisasi nonwajib seperti vaksin meningitis dan vaksin influenza.

“Ketersedian vaksin, termasuk vaksin dengue, menjadi perhatian khusus Kemenkes karena penggunaannya untuk pencegahan,” imbuh Detty.

Belum lama ini, perusahaan farmasi asal Prancis Sanofi Pasteur juga telah meluncurkan produk vaksin dengue di Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) menyetujui vaksin dengue tersebut untuk digunakan pada individu berusia 9 tahun sampai 16 tahun guna pencegahan penyakit dengue yang disebabkan empat serotipe virus dengue.

Vaksin tersebut dapat diperoleh masyarakat secara mandiri di sejumlah rumah sakit swasta.

Atas peluncuran produk tersebut, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengungkapkan pihaknya masih akan mengkaji vaksin dengue milik Sanofi Pasteur terkait dengan kemungkinan perluasan penggunaannya oleh pemerintah di daerah endemis DBD di Indonesia.

“Vaksin dengue sudah ditemukan Sanofi. Kalau kami (Kemenkes) akan memakai, tentu harus hitung-hitungan biaya dulu yang sepertinya besar,” kata Nila, beberapa waktu lalu.

Vaksin DBD Diproduksi 2020

By biofarma

BANDUNG — Pemerintah merencanakan dapat memproduksi vaksin dengue sendiri pada 2020. Rencana ini dimaksudkan untuk menyikapi kasus dengue yang mencapai 160 ribu, per September 2016.

“Kita sedang kembangkan vaksin dengue. Rencananya 2020 nanti sudah jadi vaksin untuk dengue,” ujar Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI R Dettie Yuliati dalam pembukaan workshop produksi vaksin negara Islam di Exhibition Hall Bio Farma, Bandung, Selasa (15/11).

Workshop ini diikuti oleh 10 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Kegiatan ini diselenggarakan pada 15 hingga 18 November di Bandung.

Riset vaksin dengue di Indonesia dilakukan oleh konsorsium yang menyinergikan pemerintah, akademisi, komunitas peneliti, dan industri. Kemenkes juga sedang mengumpulkan data penurunan kasus dengue. Hal ini bersamaan dengan program pemberian vaksin impor melalui uji klinis di beberapa wilayah Indonesia kepada anak-anak berusia sembilan hingga 16 tahun pada 2017.

Vaksin dengue befungsi untuk pencegahan demam berdarah dengue (DBD). Vaksin ini berpeluang masuk program imunisasi wajib bila telah diproduksi massal.

“Saat ini vaksin yang masuk program imunisasi wajib ada sembilan, namun ke depan tidak menutup kemungkinan bertambah sesuai dengan kebutuhan dan dinamika di lapangan, salah satunya vaksin dengue yang saat ini masih dikembangkan PT Bio Farma,” kata Detty.

Ketersedian vaksin menjadi perhatian khusus Kemenkes. Sebab, vaksin berfungsi untuk pencegahan. Kemenkes meminta Bio Farma dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Setelah itu, vaksin yang diproduksi dapat diekspor.

Sejumlah produk vaksin yang dikembangkan di dalam negeri juga telah memberikan banyak manfaat, termasuk varian-varian produk vaksin yang dihasilkannya, seperti pentavalen, vaksin seasonal flu, dan lain-lain.

Direktur Penilaian Obat dan Produk Biologi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Togi Junice Hutadjulu, mengatakan, Indonesia harus menjadi yang terdepan dalam mendorong transformasi vaksin di negara OKI. Indonesia memiliki pengalaman dalam hal membuat vaksin sebagai alat untuk pencegahan penyakit.

BPOM ingin berbagi pengalaman dalam memanfaatkan vaksin. Tukar pengalaman itu antara lain terkait keahlian inspeksi ke industri farmasi, uji klinis, tentang penyimpanan vaksin yang baik di instalasi farmasi. Togi menambahkan, WHO sudah mengakui kompetensi sumber daya manusia di BPOM, sehingga hal ini akan memberikan kepercayaan dunia terhadap Bio Farma, yang menghasilkan produk aman bagi negara lain. Hal ini diyakininya dapat meningkatkan ekspor vaksin Indonesia.

Direktur Riset dan Pengembangan Produk Bio Farma, Sugeng Raharso, mengatakan, konsorsium yang fokus kepada riset dan produksi vaksin dengue akan terus bekerja. Tujuannya, untuk mengejar kemandirian vaksin dengue nasional.

“Meskipun memerlukan proses yang cukup lama, Bio Farma bersinergi dan melakukan percepatan untuk konsorsium vaksin dengue tersebut,” kata Sugeng.

Peneliti senior Bio Farma, Neni Nurainy, mengatakan, pendanaan riset vaksin dengue dalam konsorsium bergantung kepada daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) pemerintah. Bantuan juga diberikan oleh Kemenristekdikti sebesar Rp 710 miliar untuk menunjang sarana dan prasarana perguruan tinggi.

Balitbangkes juga terus mengalokasikan dana riset vaksin dengue. Riset ini telah menjadi program prioritas bidang penyakit infeksi. Ini juga bersamaan dengan riset penyakit lain, seperti HIV, tuberkulosis, malaria, dan influenza.        rep: Adysha Citra Ramadani/antara, ed: Erdy Nasrul

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/koran/kesra/16/11/17/ogrvc645-vaksin-dbd-diproduksi-2020

Vaksin Ekspertis, Diplomasi Indonesia Di Kancah Global

By biofarma

 

Dirut Bio Farma, Iskandar (kedua kiri) menyerahkan cinderamata kepada Sekjen OKI Razley Nordin (kanan) disaksikan oleh Sekretaris Kementerian Setneg Setya Utama (Kanan) dan Perwakilan WHO Wilayah Asia Tenggara (SEARO), Martin Eisenhower (Paling kiri). Penyerahan sebagai tanda berakhirnya kegiatan Workshop on Vaccine Management di Bandung 15 18 November 2016
Dirut Bio Farma, Iskandar (kedua kiri) menyerahkan cinderamata kepada Sekjen OKI Razley Nordin (kanan) disaksikan oleh Sekretaris Kementerian Setneg Setya Utama (Kanan) dan Perwakilan WHO Wilayah Asia Tenggara (SEARO), Martin Eisenhower (Paling kiri). Penyerahan sebagai tanda berakhirnya kegiatan Workshop on Vaccine Management di Bandung 15 18 November 2016

Bisnis.com, BANDUNG – Bio Farma merupakan salah satu perusahaan BUMN yang telah memproduksi dan mengekspor vaksin ke 133 negara. Menurut Direktur Utama Bio Farma Iskandar, hal tersebut merupakan salah satu bagian diplomasi Indonesia di bidang kesehatan.

Kerja sama Bio Farma sudah lama terjalin dengan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) salah satunya adalah Iran. Iran merupakan negara islam dengan teknologi stem cell yang sudah maju sehingga Bio Farma harus mempelajari keberhasilan tersebut.

Begitu pun sebaliknya, sebagai center of excellence di antara negara-negara OKI dalam bidang vaksin, Indonesia mempunyai kewajiban untuk melakukan transfer knowledge dengan negara-negara anggota.

Pada bulan Desember mendatang, negara-negara OKI akan melakukan beberapa agenda di Jeddah. Agenda ini diharapkan agar OKI memiliki pusat penelitian bersama karena yang paling dibutuhkan OKI adalah vaksin-vaksin berbahan baku 100% halal.

Iskandar menambahkan bahan baku vaksin yang diimpor dari luar merupakan salah satu ciri sikap tidak mandiri.

Selain diplomasi melalui bidang kesehatan, masih banyak hal lainnya yang harus dilakukan oleh Bio Farma terkait dengan Instruksi Presiden Indonesia Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan dan Program Nawa Cita.

Iskandar mengatakan untuk mewujudkan instruksi dan program presiden tersebut, Bio Farma telah melakukan berbagai upaya antara lain terus melakukan riset dengan DIKTI dan negara-negara anggota OKI serta dengan beberapa kementerian.

“Industri harus melakukan sesuatu sampai tahun 2030,” ujar Iskandar, Kamis (17/11).

Sementara itu, untuk mendorong kemandirian riset dalam negeri, Bio Farma telah melakukan transfer teknologi sehingga menjadi sebuah produk yang ril dalam lima tahun kedepan.

Kemandirian ini juga berkaitan dengan program Sustainable Development Goals (SDGs) dimana Bio Farma memiliki 17 target pengembangan yang berkelanjutan untuk 15 tahun ke depan.

SGDs terus diupayakan dalam beberapa cara antara lain melakukan efisiensi energi, inovasi, penerapan teknologi ramah lingkungan, serta menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk mencapai tujuan.

“Kalau terus menggunakan bahan baku dan teknologi impor, kita akan jadi pengguna selamanya,” tambahnya.

Untuk mencapai kemendirian tersebut, perusahaan vaksin tidak dapat bekerja sendiri. Hal ini dikarenakan riset vaksin memerlukan waktu bertahun-tahun sehingga kerja sama sangat dibutuhkan untuk memproduksi vaksin-vaksin baru.

Sementara itu, Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Satya Utama mengatakan keterlibatan BUMN Bio Farma dengan organisasi negara-negara islam adalah salah satu upaya untuk meningkatkan daya saing, kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia termasuk membuat industri vaksin Indonesia lebih dikenal di dunia internasional.

“Produksi vaksin Indonesia paling besar di antara negara-negara anggota tapi masih memiliki kendala karena mahalnya riset,” ujar Satya.

Satya menambahkan target kerja sama industri negara anggota OKI adalah sektor swasta. Namun, yang mereka temukan di lapangan adalah BUMN yaitu Bio Farma.

Terjalinnya kerja sama antara OKI dan Bio Farma membuka pengetahuan baru bagi mereka tentang produksi vaksin dari sisi manajemen.

Sudah menjadi tugas Kementerian Sekretariat Negara dan Kementerian lainnya untuk membantu dan mendampingi dalam memberikan fasilitas kerja sama tersebut.

Sumber : http://bandung.bisnis.com/read/20161118/34231/563697/vaksin-ekspertis-diplomasi-indonesia-di-kancah-global[:en]

 

Biodiversity Indonesia Lahirkan Ragam Produk Herbal

By biofarma

smk-farmasiBisnis.com, BANDUNG – Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Salah satu dari kekayaan alam tersebut adalah tumbuhan berkhasiat.

Sekitar 9.600 spesies tumbuhan di Indonesia diketahui berkhasiat sebagai obat. Namun, hanya sekitar 200 spesies yang telah dimanfaatkan sebagai bahan baku industri obat tradisional.

Jumlah angka spesies tersebut memberikan peluang bagi Indonesia sebagai penyedia bahan baku obat herbal dunia.

Bio Farma sebagai industri life science mendukung peningkatan kualitas bahan baku dan mutu produknya yang berbasis kekayaan alam Indonesia agar bisa menjadi industri yang mandiri.

Selain itu, Bio Farma juga mengedepankan tiga potensi keragaman alam antara lain keanekaragaman budaya (culture diversity), keanekaragaman geologi (geodiversity) dan keanekeragaman hayati (biodiversity).

Pada kegiatan Workshop on Vaccine Management, para delegasi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) berkunjung ke SMK Farmasi YPF Bandung. Kunjungan ini bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan keanekeragaman hayati dalam sebuah produk jadi.

Corporate Secretary Bio Farma M. Rahman Rustan mengatakan obat herbal yang paling berkembang ada di Jawa Tengah, namun, Jawa Barat juga memiliki potensi pengembangan obat-obat herbal.

“Kami memperkenalkan kekayaan biodiversity Indonesia hadir di dunia pendidikan,” ujar Rahman, Jumat (18/11).

SMK Farmasi YPF Bandung adalah sekolah yang mengharuskan para siswa untuk membuat olahan sederhana dari tumbuhan obat yang ada di lingkungan sekitar.

Selain itu, sekolah mengedepankan penyebarluasan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai sarana penghijauan, perbaikan gizi, pemerataan pendapatan, penyebar gerakan penghijauan serta sebagai sarana keindahan pekarangan.

Berbagai produk kreasi siswa yang sudah dihasilkan antara lain jamu instan jahe, jamu instan temulawak, minuman kunyit, keripik katuk, puding binahong, minuman nata de aloe, hand sanitizer berbahan baku lidah buaya, masker bengkuang dan lainnya.

Antusiasme terlihat saat para delegasi mencicipi produk-produk siswa SMK Farmasi YPF. Salah satunya Delegasi Turki Multu Topal yang menyukai jamu instan jahe.

“Rasanya enak. Saya ingin mencobanya lagi,” ujar Multu.

Ketua Yayasan YPF N.Caryana mengatakan rasa terima kasih karena sekolah ini bisa dipercaya untuk menerima delegasi tamu-tamu asing dari OKI. Dia menambahkan hubungan dunia usaha, pendidikan dan industri harus terus terjalin.

Ini Alasannya Indonesia Perlu Jadi Center of Excellence Vaksin untuk OKI

By biofarma
Para peserta berfoto bersama dihalaman Gedung Heritage Bio Farma pada pembukaan Workshop Manajemen Vaksin Negara Islam, di Bio Farma, Kota Bandung, Selasa (15/11).
Para peserta berfoto bersama dihalaman Gedung Heritage Bio Farma pada pembukaan Workshop Manajemen Vaksin Negara Islam, di Bio Farma, Kota Bandung, Selasa (15/11).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Indonesia merupakan salah satu dari dua negara Islam yang telah mengantongi prakualifikasi WHO untuk vaksin yang diproduksi. Oleh karena itu, dalam pertemuan di Jedah pada Desember mendatang, Indonesia akan diajukan sebagai center of excellence di bidang vaksin untuk negara-negara Islam (OKI).

“Ada agenda yang sangat strategis yang sedang kita perjuangkan, yaitu membuat center of exellence. Ini yang kami ajukan di pertemuan-pertemuan OIC dan IDB,” ujar Presiden Direktur Bio Farma Iskandar saat ditemui dalam penutupan Workshop Manajemen Vaksin Negara Islam di Exhibition Hall Bio Farma, Kamis (17/11).

Iskandar mengatakan pusat penelitian bersama penting untuk dimiliki negara-negara Islam jika berharap vaksin halal. Iskandar mengatakan sulit unuk berharap halal jika masih mengandalkan pusat penelitian lain.

Oleh karena itu, Iskandar mengatakan negara-negara Islam perlu memiliki pusat penelitian sendiri. Dengan begitu, negara-negara Islam dapat melakukan penelitian sendiri dan menghasilkan teknologi. “Kalau bersama-masa, masa tidak bisa?” lanjut Iskandar.

Di sisi lain, keberadaan center of excellence di bidang vaksin bagi negara-negara Islam juga dapat mendukung kemandirian dalam hal produksi vaksin. Di Indonesia, Iskandar mengatakan sebagian besar bahan baku yang digunakan berasal dari luar negeri. Hal ini, lanjut Iskandar, masih mengindikasikan ketidakmandirian.

“Kalau ingin mandiri, harus punya center of excellence. Kalau tidak ada riset, jangan harap ada bahan baku obat yang seperti kita inginkan,” jelas Iskandar.

Saat ini, Indonesia bisa dikatakan sebagai salah satu negara-negara OKI yang unggul dalam hal produksi vaksin. Dari 57 negara-negara Islam, hanya tujuh negara yang sudah memiliki pabrik vaksin sendiri. Di antara tujuh negara tersebut hanya Indonesia dan Senegal yang sudag mengantongi prakualifikasi World Health Organization (WHO) untuk vaksin-vaksin yang diproduksi.

Indonesia memiliki belasan vaksin produksi Bio Famra yang sudah mengantongi prakualifikasi WHO. Senegal memiliki satu vaksin yang sudah mengantongi prakualifikasi WHO untuk vaksin demam kuning.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum

Bio Farma Doronq Pusat Unggulan Rl

By biofarma

BANDUNG — PT Bio Farma (Persero) mendorong program peningkatan daya saing yang disiapkan pemerintah yaitu menjadikan Indonesia sebagai pusat unggulan industri vaksin negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam atau OKI.
Direktur Utama Bio Farma Iskandar mengatakan kerja sama Bio Farma dengan OKI sudah berjalan cukup lama. Kerja sama itu mengerucut pada program kemandirian vaksin negara-negara Islam. “Indonesia akan menyampaikan pembentukan center of excellence produksi vaksin negara-negara Islam pada pertemuan di Jeddah Arab Saudi, Desember tahun ini,” katanya, Kamis (17/11).
Iskandar mengatakan program kemandirian vaksin negara-negara Islam ini akan mampu meningkatkan dan memudahkan
industri vaksin untuk saling bersinergi, baik transfer teknologi maupun kolaborasi produksi. “Tentunya kami negara-negara
Islam akan fokus untuk riset produk halal sehingga harus mampu mandiri,” katanya.
Menurutnya, untuk mewujudkan pusat penelitian bersama itu tidak mungkin mengandalkan lembaga penelitian lain.
Bio Farma menjadi tuan rumah penyelenggaraan Workshop on Vaccine Management yang diikuti oleh 10 negara anggota OKI. Kegiatan tersebut akan berlangsung pada 15—18 November 2016 di Bandung, Jawa Barat.
Kegiatan yang bertujuan membangun kemandirian di antara negara-negara anggota OKI ini menghasilkan resolusi pembentukan center of excellence atau pusat penelitian dan pengembangan vaksin di negara-negara OKI.
Sekretaris Jenderal OKI Razley Nordin menilai perlu dilakukan kerja sama yang lebih erat dan berkesinambungan antar negara Islam.
Menurutnya, keberlangsungan kolaborasi antarNational Regulatory Authority atau Badan Pengawasan Obat dan Makanan negara OKI merupakan tindak lanjut untuk persiapan kemandirian.
Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia Satya Utama mengatakan keterlibatan BUMN Bio Farma dengan OKI merupakan upaya meningkatkan daya saing Indonesia di negara Islam dan internasional. “Kapasitas produksi vaksin Bio Farma paling besar dibandingkan dengan negara-negara kerja sama selatanselatan,” katanya. (Yanto Rachmat lskandar/k10)

Lima Negara Belajar dari Bio Farma

By biofarma
BANDUNG, KOMPAS ­ PT Bio Farma (Persero) memberi­kan pelatihan produksi vaksin bagi produsen vaksin serta badan pengawas obat dan makanan dari lima negara Para peserta pela­tihan itu dari lima negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam, yakni Iran, Banglades, Tnrki, Arab Saudi, dan Malaysia.
Pelatihan manajemen vaksin itu digelar pada 15-18 November 2016, di Kantor Bio Farma, Ban­dung, Jawa Barat. Menurut Di­rektur Utama Bio Farma Iskandar, Bio Farma didaulat berbagi ilmu dan pengalaman produksi serta manajemen vaksin, karena dinilai lebih maju dibanding pe­serta dari negara lain yang hadir. Sebab, Bio Farma telah meng­ekspor vaksin ke 130 negara.
Sekretaris Menteri Kemente­rian Sekretariat Negara RI Setia Utama memaparkan, program itu jadi bagian dari tergabungnya Indonesia dalam Organisasi Ker­jasama Islam (OKI). “Pelatihan ini untuk meningkatkan kemam­puan negara­negara Islam lain dalam OKI tentang vaksin,” ujar­nya, di Bandung, Kamis (17/11).
Dari 57 negara anggota OKI, ada 7 negara yang memproduksi vaksin, yang lalu tergabung da­lam Vaccine Manufacture Group (VMG), •yakni Indonesia, Arab Saudi, Tunisia, Maroko, Senegal, Mesir, dan Iran. Adapun 50 ne­gara lainnya lain belum bisa memproduksi vaksin.
Namun, menurut Iskandar, Bio Farma harus mengimpor ba­han baku vaksin. Untuk mewu­judkan kemandirian bahan baku produksi vaksin, pihaknya akan mengembangkan pusat studi vaksin. Kini, Bio Farma memiliki kapasitas produksi 2 miliar dosis per tahun, dan 60 persennya di­ekspor. Ada dua jenis produk Bio Farma yang diekspor, yakni vak­sin jadi dan vaksin setengah jadi atau bahan baku obat. (BKY)
Sumber : http://print.kompas.com/baca/sains/kesehatan/2016/11/19/Lima-Negara-Belajar-dari-Bio-Farma