Vaksin Dengue Bio Farma Dinanti

By biofarma

VAKSIN dengue untuk pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DDB) berpeluang masuk program imunisasi wajib bila telah diproduksi massal.

Vaksin dengue yang tengah dikembangkan perusahaan BUMN Bio Farma itu sangat ditunggu karena dibutuhkan masyarakat. Hal itu dikatakan Direktur Pelayanan Farmasi Kementerian Kesehatan Detty Yulianti.

“Saat ini vaksin yang masuk program imunisasi wajib ada sembilan. Namun, ke depan tidak menutup kemungkinan bertambah sesuai dengan kebutuhan dan dinamika di lapangan. Salah satunya vaksin dengue yang saat ini masih dikembangkan PT Bio Farma,” kata Detty pada workshop vaksin negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Bandung, Jawa Barat, kemarin.

Ia menyebutkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merupakan pengguna produk yang dihasilkan produsen vaksin dalam negeri baik untuk program imunisasi wajib (usia 0-5 tahun) maupun program imunisasi nonwajib seperti vaksin meningitis dan vaksin influenza.

“Ketersedian vaksin, termasuk vaksin dengue, menjadi perhatian khusus Kemenkes karena penggunaannya untuk pencegahan,” imbuh Detty.

Belum lama ini, perusahaan farmasi asal Prancis Sanofi Pasteur juga telah meluncurkan produk vaksin dengue di Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) menyetujui vaksin dengue tersebut untuk digunakan pada individu berusia 9 tahun sampai 16 tahun guna pencegahan penyakit dengue yang disebabkan empat serotipe virus dengue.

Vaksin tersebut dapat diperoleh masyarakat secara mandiri di sejumlah rumah sakit swasta.

Atas peluncuran produk tersebut, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengungkapkan pihaknya masih akan mengkaji vaksin dengue milik Sanofi Pasteur terkait dengan kemungkinan perluasan penggunaannya oleh pemerintah di daerah endemis DBD di Indonesia.

“Vaksin dengue sudah ditemukan Sanofi. Kalau kami (Kemenkes) akan memakai, tentu harus hitung-hitungan biaya dulu yang sepertinya besar,” kata Nila, beberapa waktu lalu.

Vaksin Ekspertis, Diplomasi Indonesia Di Kancah Global

By biofarma

 

Dirut Bio Farma, Iskandar (kedua kiri) menyerahkan cinderamata kepada Sekjen OKI Razley Nordin (kanan) disaksikan oleh Sekretaris Kementerian Setneg Setya Utama (Kanan) dan Perwakilan WHO Wilayah Asia Tenggara (SEARO), Martin Eisenhower (Paling kiri). Penyerahan sebagai tanda berakhirnya kegiatan Workshop on Vaccine Management di Bandung 15 18 November 2016
Dirut Bio Farma, Iskandar (kedua kiri) menyerahkan cinderamata kepada Sekjen OKI Razley Nordin (kanan) disaksikan oleh Sekretaris Kementerian Setneg Setya Utama (Kanan) dan Perwakilan WHO Wilayah Asia Tenggara (SEARO), Martin Eisenhower (Paling kiri). Penyerahan sebagai tanda berakhirnya kegiatan Workshop on Vaccine Management di Bandung 15 18 November 2016

Bisnis.com, BANDUNG – Bio Farma merupakan salah satu perusahaan BUMN yang telah memproduksi dan mengekspor vaksin ke 133 negara. Menurut Direktur Utama Bio Farma Iskandar, hal tersebut merupakan salah satu bagian diplomasi Indonesia di bidang kesehatan.

Kerja sama Bio Farma sudah lama terjalin dengan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) salah satunya adalah Iran. Iran merupakan negara islam dengan teknologi stem cell yang sudah maju sehingga Bio Farma harus mempelajari keberhasilan tersebut.

Begitu pun sebaliknya, sebagai center of excellence di antara negara-negara OKI dalam bidang vaksin, Indonesia mempunyai kewajiban untuk melakukan transfer knowledge dengan negara-negara anggota.

Pada bulan Desember mendatang, negara-negara OKI akan melakukan beberapa agenda di Jeddah. Agenda ini diharapkan agar OKI memiliki pusat penelitian bersama karena yang paling dibutuhkan OKI adalah vaksin-vaksin berbahan baku 100% halal.

Iskandar menambahkan bahan baku vaksin yang diimpor dari luar merupakan salah satu ciri sikap tidak mandiri.

Selain diplomasi melalui bidang kesehatan, masih banyak hal lainnya yang harus dilakukan oleh Bio Farma terkait dengan Instruksi Presiden Indonesia Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan dan Program Nawa Cita.

Iskandar mengatakan untuk mewujudkan instruksi dan program presiden tersebut, Bio Farma telah melakukan berbagai upaya antara lain terus melakukan riset dengan DIKTI dan negara-negara anggota OKI serta dengan beberapa kementerian.

“Industri harus melakukan sesuatu sampai tahun 2030,” ujar Iskandar, Kamis (17/11).

Sementara itu, untuk mendorong kemandirian riset dalam negeri, Bio Farma telah melakukan transfer teknologi sehingga menjadi sebuah produk yang ril dalam lima tahun kedepan.

Kemandirian ini juga berkaitan dengan program Sustainable Development Goals (SDGs) dimana Bio Farma memiliki 17 target pengembangan yang berkelanjutan untuk 15 tahun ke depan.

SGDs terus diupayakan dalam beberapa cara antara lain melakukan efisiensi energi, inovasi, penerapan teknologi ramah lingkungan, serta menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk mencapai tujuan.

“Kalau terus menggunakan bahan baku dan teknologi impor, kita akan jadi pengguna selamanya,” tambahnya.

Untuk mencapai kemendirian tersebut, perusahaan vaksin tidak dapat bekerja sendiri. Hal ini dikarenakan riset vaksin memerlukan waktu bertahun-tahun sehingga kerja sama sangat dibutuhkan untuk memproduksi vaksin-vaksin baru.

Sementara itu, Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Satya Utama mengatakan keterlibatan BUMN Bio Farma dengan organisasi negara-negara islam adalah salah satu upaya untuk meningkatkan daya saing, kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia termasuk membuat industri vaksin Indonesia lebih dikenal di dunia internasional.

“Produksi vaksin Indonesia paling besar di antara negara-negara anggota tapi masih memiliki kendala karena mahalnya riset,” ujar Satya.

Satya menambahkan target kerja sama industri negara anggota OKI adalah sektor swasta. Namun, yang mereka temukan di lapangan adalah BUMN yaitu Bio Farma.

Terjalinnya kerja sama antara OKI dan Bio Farma membuka pengetahuan baru bagi mereka tentang produksi vaksin dari sisi manajemen.

Sudah menjadi tugas Kementerian Sekretariat Negara dan Kementerian lainnya untuk membantu dan mendampingi dalam memberikan fasilitas kerja sama tersebut.

Sumber : http://bandung.bisnis.com/read/20161118/34231/563697/vaksin-ekspertis-diplomasi-indonesia-di-kancah-global[:en]

 

Biodiversity Indonesia Lahirkan Ragam Produk Herbal

By biofarma

smk-farmasiBisnis.com, BANDUNG – Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Salah satu dari kekayaan alam tersebut adalah tumbuhan berkhasiat.

Sekitar 9.600 spesies tumbuhan di Indonesia diketahui berkhasiat sebagai obat. Namun, hanya sekitar 200 spesies yang telah dimanfaatkan sebagai bahan baku industri obat tradisional.

Jumlah angka spesies tersebut memberikan peluang bagi Indonesia sebagai penyedia bahan baku obat herbal dunia.

Bio Farma sebagai industri life science mendukung peningkatan kualitas bahan baku dan mutu produknya yang berbasis kekayaan alam Indonesia agar bisa menjadi industri yang mandiri.

Selain itu, Bio Farma juga mengedepankan tiga potensi keragaman alam antara lain keanekaragaman budaya (culture diversity), keanekaragaman geologi (geodiversity) dan keanekeragaman hayati (biodiversity).

Pada kegiatan Workshop on Vaccine Management, para delegasi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) berkunjung ke SMK Farmasi YPF Bandung. Kunjungan ini bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan keanekeragaman hayati dalam sebuah produk jadi.

Corporate Secretary Bio Farma M. Rahman Rustan mengatakan obat herbal yang paling berkembang ada di Jawa Tengah, namun, Jawa Barat juga memiliki potensi pengembangan obat-obat herbal.

“Kami memperkenalkan kekayaan biodiversity Indonesia hadir di dunia pendidikan,” ujar Rahman, Jumat (18/11).

SMK Farmasi YPF Bandung adalah sekolah yang mengharuskan para siswa untuk membuat olahan sederhana dari tumbuhan obat yang ada di lingkungan sekitar.

Selain itu, sekolah mengedepankan penyebarluasan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai sarana penghijauan, perbaikan gizi, pemerataan pendapatan, penyebar gerakan penghijauan serta sebagai sarana keindahan pekarangan.

Berbagai produk kreasi siswa yang sudah dihasilkan antara lain jamu instan jahe, jamu instan temulawak, minuman kunyit, keripik katuk, puding binahong, minuman nata de aloe, hand sanitizer berbahan baku lidah buaya, masker bengkuang dan lainnya.

Antusiasme terlihat saat para delegasi mencicipi produk-produk siswa SMK Farmasi YPF. Salah satunya Delegasi Turki Multu Topal yang menyukai jamu instan jahe.

“Rasanya enak. Saya ingin mencobanya lagi,” ujar Multu.

Ketua Yayasan YPF N.Caryana mengatakan rasa terima kasih karena sekolah ini bisa dipercaya untuk menerima delegasi tamu-tamu asing dari OKI. Dia menambahkan hubungan dunia usaha, pendidikan dan industri harus terus terjalin.

Ini Alasannya Indonesia Perlu Jadi Center of Excellence Vaksin untuk OKI

By biofarma
Para peserta berfoto bersama dihalaman Gedung Heritage Bio Farma pada pembukaan Workshop Manajemen Vaksin Negara Islam, di Bio Farma, Kota Bandung, Selasa (15/11).
Para peserta berfoto bersama dihalaman Gedung Heritage Bio Farma pada pembukaan Workshop Manajemen Vaksin Negara Islam, di Bio Farma, Kota Bandung, Selasa (15/11).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Indonesia merupakan salah satu dari dua negara Islam yang telah mengantongi prakualifikasi WHO untuk vaksin yang diproduksi. Oleh karena itu, dalam pertemuan di Jedah pada Desember mendatang, Indonesia akan diajukan sebagai center of excellence di bidang vaksin untuk negara-negara Islam (OKI).

“Ada agenda yang sangat strategis yang sedang kita perjuangkan, yaitu membuat center of exellence. Ini yang kami ajukan di pertemuan-pertemuan OIC dan IDB,” ujar Presiden Direktur Bio Farma Iskandar saat ditemui dalam penutupan Workshop Manajemen Vaksin Negara Islam di Exhibition Hall Bio Farma, Kamis (17/11).

Iskandar mengatakan pusat penelitian bersama penting untuk dimiliki negara-negara Islam jika berharap vaksin halal. Iskandar mengatakan sulit unuk berharap halal jika masih mengandalkan pusat penelitian lain.

Oleh karena itu, Iskandar mengatakan negara-negara Islam perlu memiliki pusat penelitian sendiri. Dengan begitu, negara-negara Islam dapat melakukan penelitian sendiri dan menghasilkan teknologi. “Kalau bersama-masa, masa tidak bisa?” lanjut Iskandar.

Di sisi lain, keberadaan center of excellence di bidang vaksin bagi negara-negara Islam juga dapat mendukung kemandirian dalam hal produksi vaksin. Di Indonesia, Iskandar mengatakan sebagian besar bahan baku yang digunakan berasal dari luar negeri. Hal ini, lanjut Iskandar, masih mengindikasikan ketidakmandirian.

“Kalau ingin mandiri, harus punya center of excellence. Kalau tidak ada riset, jangan harap ada bahan baku obat yang seperti kita inginkan,” jelas Iskandar.

Saat ini, Indonesia bisa dikatakan sebagai salah satu negara-negara OKI yang unggul dalam hal produksi vaksin. Dari 57 negara-negara Islam, hanya tujuh negara yang sudah memiliki pabrik vaksin sendiri. Di antara tujuh negara tersebut hanya Indonesia dan Senegal yang sudag mengantongi prakualifikasi World Health Organization (WHO) untuk vaksin-vaksin yang diproduksi.

Indonesia memiliki belasan vaksin produksi Bio Famra yang sudah mengantongi prakualifikasi WHO. Senegal memiliki satu vaksin yang sudah mengantongi prakualifikasi WHO untuk vaksin demam kuning.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum

Bio Farma Doronq Pusat Unggulan Rl

By biofarma

BANDUNG — PT Bio Farma (Persero) mendorong program peningkatan daya saing yang disiapkan pemerintah yaitu menjadikan Indonesia sebagai pusat unggulan industri vaksin negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam atau OKI.
Direktur Utama Bio Farma Iskandar mengatakan kerja sama Bio Farma dengan OKI sudah berjalan cukup lama. Kerja sama itu mengerucut pada program kemandirian vaksin negara-negara Islam. “Indonesia akan menyampaikan pembentukan center of excellence produksi vaksin negara-negara Islam pada pertemuan di Jeddah Arab Saudi, Desember tahun ini,” katanya, Kamis (17/11).
Iskandar mengatakan program kemandirian vaksin negara-negara Islam ini akan mampu meningkatkan dan memudahkan
industri vaksin untuk saling bersinergi, baik transfer teknologi maupun kolaborasi produksi. “Tentunya kami negara-negara
Islam akan fokus untuk riset produk halal sehingga harus mampu mandiri,” katanya.
Menurutnya, untuk mewujudkan pusat penelitian bersama itu tidak mungkin mengandalkan lembaga penelitian lain.
Bio Farma menjadi tuan rumah penyelenggaraan Workshop on Vaccine Management yang diikuti oleh 10 negara anggota OKI. Kegiatan tersebut akan berlangsung pada 15—18 November 2016 di Bandung, Jawa Barat.
Kegiatan yang bertujuan membangun kemandirian di antara negara-negara anggota OKI ini menghasilkan resolusi pembentukan center of excellence atau pusat penelitian dan pengembangan vaksin di negara-negara OKI.
Sekretaris Jenderal OKI Razley Nordin menilai perlu dilakukan kerja sama yang lebih erat dan berkesinambungan antar negara Islam.
Menurutnya, keberlangsungan kolaborasi antarNational Regulatory Authority atau Badan Pengawasan Obat dan Makanan negara OKI merupakan tindak lanjut untuk persiapan kemandirian.
Sekretaris Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia Satya Utama mengatakan keterlibatan BUMN Bio Farma dengan OKI merupakan upaya meningkatkan daya saing Indonesia di negara Islam dan internasional. “Kapasitas produksi vaksin Bio Farma paling besar dibandingkan dengan negara-negara kerja sama selatanselatan,” katanya. (Yanto Rachmat lskandar/k10)

Lima Negara Belajar dari Bio Farma

By biofarma
BANDUNG, KOMPAS ­ PT Bio Farma (Persero) memberi­kan pelatihan produksi vaksin bagi produsen vaksin serta badan pengawas obat dan makanan dari lima negara Para peserta pela­tihan itu dari lima negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam, yakni Iran, Banglades, Tnrki, Arab Saudi, dan Malaysia.
Pelatihan manajemen vaksin itu digelar pada 15-18 November 2016, di Kantor Bio Farma, Ban­dung, Jawa Barat. Menurut Di­rektur Utama Bio Farma Iskandar, Bio Farma didaulat berbagi ilmu dan pengalaman produksi serta manajemen vaksin, karena dinilai lebih maju dibanding pe­serta dari negara lain yang hadir. Sebab, Bio Farma telah meng­ekspor vaksin ke 130 negara.
Sekretaris Menteri Kemente­rian Sekretariat Negara RI Setia Utama memaparkan, program itu jadi bagian dari tergabungnya Indonesia dalam Organisasi Ker­jasama Islam (OKI). “Pelatihan ini untuk meningkatkan kemam­puan negara­negara Islam lain dalam OKI tentang vaksin,” ujar­nya, di Bandung, Kamis (17/11).
Dari 57 negara anggota OKI, ada 7 negara yang memproduksi vaksin, yang lalu tergabung da­lam Vaccine Manufacture Group (VMG), •yakni Indonesia, Arab Saudi, Tunisia, Maroko, Senegal, Mesir, dan Iran. Adapun 50 ne­gara lainnya lain belum bisa memproduksi vaksin.
Namun, menurut Iskandar, Bio Farma harus mengimpor ba­han baku vaksin. Untuk mewu­judkan kemandirian bahan baku produksi vaksin, pihaknya akan mengembangkan pusat studi vaksin. Kini, Bio Farma memiliki kapasitas produksi 2 miliar dosis per tahun, dan 60 persennya di­ekspor. Ada dua jenis produk Bio Farma yang diekspor, yakni vak­sin jadi dan vaksin setengah jadi atau bahan baku obat. (BKY)
Sumber : http://print.kompas.com/baca/sains/kesehatan/2016/11/19/Lima-Negara-Belajar-dari-Bio-Farma

Delegasi OKI Puji Jamu Indonesia

By biofarma

BANDUNG — Sebagai rangkaian dari Workshop Manajemen Vaksin Negara Islam yang diselenggarakan Bio Farma, para peserta yang berasal dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) melakukan kunjungan ke SMK Yayasan Pendidikan Farmasi (YPF) Bandung. Dalam kunjungan tersebut, para peserta mendapatkan kesempatan untuk mencicipi jamu yang diproduksi oleh para siswa SMK YPF Bandung.

Salah satu peserta workshop yang mencicipi jamu-jamu buatan siswa SMK YPF Bandung ialah Managing Director Keymen Ilac, O Mutlu Topal, asal Turki. Saya mencoba yang jahe. Rasanya enak,” ujar Topal saat ditemui di SMK YPF Bandung bersama Bio Farma, Jumat (19/11). Dalam kunjungan tersebut, YPF menyajikan beberapa jamu karya siswa. Selain jamu jahe instan, ada pula jamu temulawak instan, dan kunyit asam. Banyaknya pilihan tersebut membuat Topal tak sabar untuk mencicipi jamu lainnya.

Saya akan coba yang lain juga, ujar pria yang juga merupakan seorang dokter ini. Perwakilan industri farmasi Arabio, Mohammad Mosbah Khreibeh, juga menikmati kunjungan yang ia lakukan. Khreibeh mengapresiasi obat-obatan herbal yang menjadi salah satu fokus area yang diajarkan kepada siswa dan mahasiswa Indonesia.      Adysha Citra R, ed: Nina Chairani

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/koran/kesra/16/11/20/ogxno412-delegasi-oki-puji-jamu-indonesia

Bangladesh Siap Kolaborasi Untuk Kemandirian Vaksin Negara Islam

By biofarma

Bisnis.com, BANDUNG – Tingginya angka kelahiran memicu Bangladesh sebagai anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) untuk kolaborasi di bidang produksi vaksin.

Lebih dari 150 juta penduduk Bangladesh rentan terkena penyakit kolera, diare dan hepatitis. Karena itu, vaksin menjadi komponen yang penting untuk mencegah penyakit-penyakit tersebut sehingga risiko kematian penduduk Bangladesh berkurang.

Salah satu industri swasta Bangladesh yang bergerak di bidang vaksin dan obat-obatan adalah icddr,b. Awalnya, icddr,b berdiri di Pakistan dan terus berkembang hingga menjadi perusahaan vaksin central di Bangladesh.

Iccddr,b merupakan perusahaan industri vaksin yang sudah terpercaya dalam bidang uji klinis. Majunya icddr,b dalam bidang uji klinis membuka jalan kerjasama Bangladesh dengan India dalam penanganan beragam penyakit di wilayah Asia Selatan.

Namun, kerja sama ini belum cukup sehingga Bangladesh memutuskan untuk bergabung dengan 56 negara anggota OKI lainnya.

“Bangladesh adalah salah satu negara muslim yang memiliki banyak populasi, diharapka kesempatan ini dapat dijadikan sebuah kolaborasi,” ujar Wasif Ali Khan selaku Scientist Infectious Diseases Division dari iccddr,b.

Meskipun Bangladesh sudah memiliki industri vaksin, namun belum ada industri vaksin Bangladesh yang sudah memiliki pre-qualification atau PQ dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Wasif mengatakan besarnya kebutuhan produksi vaksin Bangladesh menjadi motivasi pemerintah setempat untuk terus bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan farmasi internasional.

Tak hanya itu, pemerintah Bangladesh pun melakukan riset secara bertahap untuk memenuhi kebutuhan lokal secara mandiri.

Sementara itu, bergabungnya Bangladesh dengan OKI melahirkan tujuan jangka pendek dan jangka panjang.

Tujuan jangka pendek Bangladesh antara lain dapat meningkatkan kapasitas sumber daya manusia untuk melakukan riset.

Selain itu, ada pun target yang harus dicapai di tahun 2017 mendatang adalah adanya percepatan fasilitas dan chemical trial.

Tujuan jangka panjang Bangladesh adalah adanya kemudahan akses, networking dan kerja sama dengan negara-negara anggota OKI lainnya, khususnya dengan Bio Farma selaku perusahaan vaksin kelas dunia.

Wasif berharap akan terciptanya riset-riset baru diantara para negara anggota. Hal ini dikarenakan riset vaksin membutuhkan waktu yang lama sehingga diperlukan kolaborasi untuk percepatan riset.

Bangladesh Tertarik Belajar Vaksin dari Indonesia

By biofarma
Wasif Ali Khan (kiri) dari Bangladesh berbincang dengan Corporate Secretary Bio Farma M Rahman Rustan (kanan) tentang industri vaksin di negaranya disela-sela konferensi pers
Wasif Ali Khan (kiri) dari Bangladesh berbincang dengan Corporate Secretary Bio Farma M Rahman Rustan (kanan) tentang industri vaksin di negaranya disela-sela konferensi pers

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — International Center for Diarrhoeal Disease Research (ICDDR) dari Bangladesh merupakan satu dari dua anggota baru dalam Kelompok Produsen Vaksin (Vaccine Manufacturers Group) Negara Islam. Dalam kesempatan ini, ICDDR mengungkapkan kekagumannya akan produksi vaksin yang dilakukan oleh Indonesia melalui Bio Farma.

“Kami sangat kagum dan berterimakasih karena sudah menyelenggarakan pertemuan ini,” ujar perwakilan sekaligus peneliti ICDDR Wasif Ali Khan dalam Workshop Manajemen Industri Vaksin Negara Islam yang diselenggarakan di Exhibition Hall Bio Farma, Rabu (16/11).

Sebagai salah satu peserta, Khan mengatakan ada banyak materi menarik seputar produksi dan penyediaan vaksin yang ia pelajari. Khan berharap materi-materi seputar produksi dan penyediaan vaksin yang disampaikan oleh Bio Farma, WHO hingga BPOM RI dalam workshop ini, dapat menunjang perkembangan industri vaksin di negaranya.

Selain mendapatkan banyak pelajaran, Wasif berharap bergabungnya Bangladesh dengan VMG Negara Islam juga dapat meningkatkan kemandirian produksi vaksin di Bangladesh yang memiliki populasi cukup banyak. Salah satunya dengan cara menjalin kerja sama dengan negara-negara anggota VMG Negara Islam lainnya. “Terlebih dengan Bio Farma yang sudah berkiprah sejak 1819, ini kesempatan kami untuk belajar dari mereka,” tambah Wasif.

Ketua Pertemuan Kelompok Produsen Vaksin Negara Islam atau Vaccine Manufacturers Group (VMG) sekaligus Corporate Secretary Bio Farma M. Rahman Rustan pun menyambut baik bergabungnya Bangladesh dalam VMG Negara Islam. Dalam rangka membantu negara-negara Islam menjadi lebih mandiri dalam produksi vaksin, Rahman mengatakan Bio Farma akan terbuka untuk menjalin kolaborasi.

Saat ini, sebagian besar industri vaksin di negara-negara anggota VMG Negara Islam memang belum mengantongi prakualifikasi WHO. Meski begitu, Rahman menilai tiap-tiap negara ini, termasuk Bangladesh, memiliki peneliti yang potensial. Sinergi yang dihasilkan dari kolaborasi juga diyakini Rahman dapat membantu Indonesia untuk melakukan percepatan dalam riset vaksin. “Kami terbuka untuk melakukan kolaborasi,” ujar Rahman,” jelas Rahman.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/11/17/ogrn8f359-bangladesh-tertarik-belajar-vaksin-dari-indonesia

Bio Farma Bantu Dunia Berantas Penyakit dengan Transfer Teknologi Pembuatan Vaksin

By biofarma
Direktur Utama Bio Farma, Iskandar pada acara Workshop on Vaccine Management yang diikuti 10 negara Organisasi Kerjasama Islam di Kantor Bio Farma Jalan Pasteur, Kamis (17/11/2016).
Direktur Utama Bio Farma, Iskandar pada acara Workshop on Vaccine Management yang diikuti 10 negara Organisasi Kerjasama Islam di Kantor Bio Farma Jalan Pasteur, Kamis (17/11/2016).

BANDUNG, TRIBUNJABAR.CO.ID- Indonesia mendapatkan kesempatan untuk menyelenggarakan Workshop on Vaccine Management, yang diikuti oleh 10 negara anggota Organisasi Kerjasama Islam, pada tanggal 15 – 18 November 2016 di Bandung.

Menurut Kepala Biro Kerjasam Teknik Luar Negeri Rika Kiswardani, Posisi Indonesia yang saat ini sudah masuk kedalam negara dengan status middle income country dan juga salah satu anggota negara G-20,  menciptakan dorongan untuk membantu negara lain khususnya negara berkembang.

Selain hal itu, adanya komitmen dan semangat solidaritas dari negara Asia –Afrika, menjadikan landasan lahirnya kerjasama teknik berupa transfer teknologi dalam segala bidang salah satunya dalam bidang kesehatan “Kerjasama dalam bidang kesehatan ini, ditandai dengan adanya transfer teknologi pembuatan vaksin dari Bio Farma, kepada negra – negara yang bearada di dalam naungan Organisasi Kerjasama Islam (OKI)” kata Rika.

Kementerian Kesehatan sebagai pengguna dari produk yang dihasilkan oleh Bio Farma, baik untuk Program Imunisasi Wajib (usia 0 – 5 tahun) maupun Program Imunisasi Non Wajib seperti vaksin menigitis dan vaksin influenza. Ketersedian vaksin menjadi perhatian khusus Kementerian Kesehatan karena sifat dari vaksin untuk pencegahan. Oleh karenanya Kemenkes meminta Bio Farma untuk dapat memenuhi dulu kebutuhan dalam negeri setelah itu dapat diekspor “Alhamdulilah untuk kebutuhan dalam negeri dapat terpenuhi dari Bio Farma terutama untuk program imunisasi wajib, oleh karenanya kami menginginkan Bio Farma untuk dijadikan centre of excellence untuk produk vaksin yang inovatif”, kata Direktur Pelayanan Farmasi Kementrian Kesehatan RI,  Detty Yulianti.

Sementara itu, Dr Martin Eisenhawer peneliti senior dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) regional Asia Tenggara (SEARO), mengatakan Bio Farma merupakan salah satu supllier utama untuk beberapa jenis vaksin yang sudah menerima PQ WHO untuk pasar dunia, khususnya untuk vaksin polio.

“Bio Farma turut membantu usaha dunia untuk memberantas penyakit polio, dan beberapa penyakit lainnya. Dan selain dengan Bio Farma, WHO pun bekerjasama dengan BPOM dalam hal melakukan uji klinis dan beberapa aktivitas lainnya”, kata Martin.

WHO juga bekerja keras untuk mewujudkan Sustainable Development Goals (SGDs) terutama dalam hal pencapaian kesehatan termasuk vaksin. Dan workshop ini membahas mengenai manajemen produksi vaksin yang merupakan alat yang paling cost efficient untuk pencegahan penyakit menulardan mengurangi angka kematian bayi dan balita  dan ibu melahirkan.

Dalam workshop ini Eisenhower akan memberikan materi presentasi mengenai persyaratan pembuatan vaksin yang sesuai dengan standar PQ-WHO, yang dimulai dari produk yang berkualitas aman dan ampuh. (tif)

Sumber : http://jabar.tribunnews.com/2016/11/17/bio-farma-bantu-dunia-berantas-penyakit-dengan-tranfer-teknologi-pembuatan-vaksin