Bio Farma dan Serikat Pekerja Sepakati Perjanjian Kerja Bersama Periode 2018 – 2020

By biofarma

Bio Farma dan Serikat Pekerja Bio Farma menyepakati Perjanjian Kerja Bersama (PKB) periode 2018 – 2020, pada tanggal     5 Januari 2018. PKB yang ditanda tangani oleh Plt Direktur Utama Bio Farma, Juliman, dan Ketua Himpunan Karyawan Bio Farma,  Moh Usman, disaksikan oleh Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Ketenagakerjaan Dinas Tenaga Kerja Kota Bandung, Suardi, jajaran Direksi Bio Farma, serta tim perumus PKB Bio Farma.

PKB merupakan kesepakatan bersama yang dibuat oleh perwakilan perusahaan dan perwakilan serikat pekerja, yang bertujuan untuk menciptakan hubungan industrial yang harmonis dalam perusahaan.

Juliman berharap dengan ditandatanganinya PKB periode 2018 – 2020, dapat segera diaplikaskan dengan sebaik – baiknya sehingga menjadi motivasi untuk melalukan kebaikan sehingga akan terwujud hubungan industrial yang lebih baik lagi, “PKB periode 2018 – 2020 ini kami harap dapat segera diaplikasikan dalam setiap kegiatan perusahaan sehingga bisa menjadi motivasi untuk melakukan kebaikan dan menjadi penyemangat untuk menciptakan hubungan industrial yang lebih harmonis lagi”, Ujar Juliman.

Sementara itu, perwakilan dari Serikat pekerja  Bio Farma Moh Usman mengatakan, PKB ini akan bermuara pada kesejahteraan karyawan, yang didapat dari kondisi perusahaan yang sehat, “Serikat pekerja memposisikan diri sebagai mitra dari perusahaan untuk mewujudkan kesejahteraan karyawan, melalui keberlangsungan keberadaan perusahaan, karena kita sadari, bahwa kesejahteraan karyawan tidak akan terwujud apabila perusahaanya tidak sehat”, Ungkap Usman.

—*—

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi:

N Nurlaela Arief

Head of  Corporate Communications Dept.

Bio Farma

(022) 2033755 ext 37412

Email : lala@biofarma.co.id

Bio Farma Sosialisasikan e-LHKPN sebagai Komitmen Penyelenggara Negara yang Bersih

By biofarma

Juliman, Plt Direktur Utama Bio Farma saat membuka acara sosialisasi e-LHKPN

Bandung 5 Desember 2017, Bio Farma selenggarakan sosialisasi penyampaian laporan harta kekayaan pejabat negara secara elektronik atau e-LHKPN sesuai peraturan KPK-07 Tahun 2016. e-LHKPN ini wajib dilakukan oleh Penyelenggara Negara kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dengan tujuan agar pelaporan harta kekayaan dapat menjadi lebih mudah, lebih transparan, dan lebih mudah diakses.

Hadir sebagai Narasumber David Tarihoran, dari Direktorat PP LHKPN dengan peserta dari Bio Farma yang berjumlah lebih dari 100 Orang, terdiri dari Komisaris, Direksi, Kepala Divisi, Kepala Bagian.

Menurut Juliman, Plt Direktur Utama Bio Farma dalam sambutannya “ Kami mengajak para pejabat di Bio Farma untuk menggunakan aplikasi e-LHKPN sebagai bukti transparansi, komitmen good corporate governance selama menjabat dan akhir menjabat di Bio Farma” sesuai dengan tujuan dan manfaat LHKPN yaitu untuk mewujudkan penyelenggara Negara yang bersih, sebagai instrument transparansi dan manajemen SDM pada awal menjabat, sebagai instrument pengawasan selama menjabat dan sebagai instrument akuntabilitas saat akhir menjabat”.

Acara diakhiri dengan simulasi pelaporan dengan menggunakan e-filing dan e-lhkpn, adapun pada masa transisi dari LHKPN yang lama ke metode e-LHKPN yang baru terdapat beberapa keringanan dalam penyampaian LHKPN diantaranya ada 7 langkah mudah untuk menyampaikan pelaporan e-LHKPN ini.

 

———-*****———-

Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi:

N.Nurlaela Arief

Head of Corporate Communications Dept.

Telp (022) 2033755 Fax (022) 2041306

Email : lala@biofarma.co.id

www.biofarma.co.id

Vaksin Dengue Bio Farma Dinanti

By biofarma

VAKSIN dengue untuk pencegahan penyakit demam berdarah dengue (DDB) berpeluang masuk program imunisasi wajib bila telah diproduksi massal.

Vaksin dengue yang tengah dikembangkan perusahaan BUMN Bio Farma itu sangat ditunggu karena dibutuhkan masyarakat. Hal itu dikatakan Direktur Pelayanan Farmasi Kementerian Kesehatan Detty Yulianti.

“Saat ini vaksin yang masuk program imunisasi wajib ada sembilan. Namun, ke depan tidak menutup kemungkinan bertambah sesuai dengan kebutuhan dan dinamika di lapangan. Salah satunya vaksin dengue yang saat ini masih dikembangkan PT Bio Farma,” kata Detty pada workshop vaksin negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Bandung, Jawa Barat, kemarin.

Ia menyebutkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) merupakan pengguna produk yang dihasilkan produsen vaksin dalam negeri baik untuk program imunisasi wajib (usia 0-5 tahun) maupun program imunisasi nonwajib seperti vaksin meningitis dan vaksin influenza.

“Ketersedian vaksin, termasuk vaksin dengue, menjadi perhatian khusus Kemenkes karena penggunaannya untuk pencegahan,” imbuh Detty.

Belum lama ini, perusahaan farmasi asal Prancis Sanofi Pasteur juga telah meluncurkan produk vaksin dengue di Indonesia.

Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) menyetujui vaksin dengue tersebut untuk digunakan pada individu berusia 9 tahun sampai 16 tahun guna pencegahan penyakit dengue yang disebabkan empat serotipe virus dengue.

Vaksin tersebut dapat diperoleh masyarakat secara mandiri di sejumlah rumah sakit swasta.

Atas peluncuran produk tersebut, Menteri Kesehatan Nila F Moeloek mengungkapkan pihaknya masih akan mengkaji vaksin dengue milik Sanofi Pasteur terkait dengan kemungkinan perluasan penggunaannya oleh pemerintah di daerah endemis DBD di Indonesia.

“Vaksin dengue sudah ditemukan Sanofi. Kalau kami (Kemenkes) akan memakai, tentu harus hitung-hitungan biaya dulu yang sepertinya besar,” kata Nila, beberapa waktu lalu.

Vaksin DBD Diproduksi 2020

By biofarma

BANDUNG — Pemerintah merencanakan dapat memproduksi vaksin dengue sendiri pada 2020. Rencana ini dimaksudkan untuk menyikapi kasus dengue yang mencapai 160 ribu, per September 2016.

“Kita sedang kembangkan vaksin dengue. Rencananya 2020 nanti sudah jadi vaksin untuk dengue,” ujar Direktur Produksi dan Distribusi Kefarmasian Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI R Dettie Yuliati dalam pembukaan workshop produksi vaksin negara Islam di Exhibition Hall Bio Farma, Bandung, Selasa (15/11).

Workshop ini diikuti oleh 10 negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI). Kegiatan ini diselenggarakan pada 15 hingga 18 November di Bandung.

Riset vaksin dengue di Indonesia dilakukan oleh konsorsium yang menyinergikan pemerintah, akademisi, komunitas peneliti, dan industri. Kemenkes juga sedang mengumpulkan data penurunan kasus dengue. Hal ini bersamaan dengan program pemberian vaksin impor melalui uji klinis di beberapa wilayah Indonesia kepada anak-anak berusia sembilan hingga 16 tahun pada 2017.

Vaksin dengue befungsi untuk pencegahan demam berdarah dengue (DBD). Vaksin ini berpeluang masuk program imunisasi wajib bila telah diproduksi massal.

“Saat ini vaksin yang masuk program imunisasi wajib ada sembilan, namun ke depan tidak menutup kemungkinan bertambah sesuai dengan kebutuhan dan dinamika di lapangan, salah satunya vaksin dengue yang saat ini masih dikembangkan PT Bio Farma,” kata Detty.

Ketersedian vaksin menjadi perhatian khusus Kemenkes. Sebab, vaksin berfungsi untuk pencegahan. Kemenkes meminta Bio Farma dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri. Setelah itu, vaksin yang diproduksi dapat diekspor.

Sejumlah produk vaksin yang dikembangkan di dalam negeri juga telah memberikan banyak manfaat, termasuk varian-varian produk vaksin yang dihasilkannya, seperti pentavalen, vaksin seasonal flu, dan lain-lain.

Direktur Penilaian Obat dan Produk Biologi Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Togi Junice Hutadjulu, mengatakan, Indonesia harus menjadi yang terdepan dalam mendorong transformasi vaksin di negara OKI. Indonesia memiliki pengalaman dalam hal membuat vaksin sebagai alat untuk pencegahan penyakit.

BPOM ingin berbagi pengalaman dalam memanfaatkan vaksin. Tukar pengalaman itu antara lain terkait keahlian inspeksi ke industri farmasi, uji klinis, tentang penyimpanan vaksin yang baik di instalasi farmasi. Togi menambahkan, WHO sudah mengakui kompetensi sumber daya manusia di BPOM, sehingga hal ini akan memberikan kepercayaan dunia terhadap Bio Farma, yang menghasilkan produk aman bagi negara lain. Hal ini diyakininya dapat meningkatkan ekspor vaksin Indonesia.

Direktur Riset dan Pengembangan Produk Bio Farma, Sugeng Raharso, mengatakan, konsorsium yang fokus kepada riset dan produksi vaksin dengue akan terus bekerja. Tujuannya, untuk mengejar kemandirian vaksin dengue nasional.

“Meskipun memerlukan proses yang cukup lama, Bio Farma bersinergi dan melakukan percepatan untuk konsorsium vaksin dengue tersebut,” kata Sugeng.

Peneliti senior Bio Farma, Neni Nurainy, mengatakan, pendanaan riset vaksin dengue dalam konsorsium bergantung kepada daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) pemerintah. Bantuan juga diberikan oleh Kemenristekdikti sebesar Rp 710 miliar untuk menunjang sarana dan prasarana perguruan tinggi.

Balitbangkes juga terus mengalokasikan dana riset vaksin dengue. Riset ini telah menjadi program prioritas bidang penyakit infeksi. Ini juga bersamaan dengan riset penyakit lain, seperti HIV, tuberkulosis, malaria, dan influenza.        rep: Adysha Citra Ramadani/antara, ed: Erdy Nasrul

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/koran/kesra/16/11/17/ogrvc645-vaksin-dbd-diproduksi-2020

Biodiversity Indonesia Lahirkan Ragam Produk Herbal

By biofarma

smk-farmasiBisnis.com, BANDUNG – Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Salah satu dari kekayaan alam tersebut adalah tumbuhan berkhasiat.

Sekitar 9.600 spesies tumbuhan di Indonesia diketahui berkhasiat sebagai obat. Namun, hanya sekitar 200 spesies yang telah dimanfaatkan sebagai bahan baku industri obat tradisional.

Jumlah angka spesies tersebut memberikan peluang bagi Indonesia sebagai penyedia bahan baku obat herbal dunia.

Bio Farma sebagai industri life science mendukung peningkatan kualitas bahan baku dan mutu produknya yang berbasis kekayaan alam Indonesia agar bisa menjadi industri yang mandiri.

Selain itu, Bio Farma juga mengedepankan tiga potensi keragaman alam antara lain keanekaragaman budaya (culture diversity), keanekaragaman geologi (geodiversity) dan keanekeragaman hayati (biodiversity).

Pada kegiatan Workshop on Vaccine Management, para delegasi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) berkunjung ke SMK Farmasi YPF Bandung. Kunjungan ini bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan keanekeragaman hayati dalam sebuah produk jadi.

Corporate Secretary Bio Farma M. Rahman Rustan mengatakan obat herbal yang paling berkembang ada di Jawa Tengah, namun, Jawa Barat juga memiliki potensi pengembangan obat-obat herbal.

“Kami memperkenalkan kekayaan biodiversity Indonesia hadir di dunia pendidikan,” ujar Rahman, Jumat (18/11).

SMK Farmasi YPF Bandung adalah sekolah yang mengharuskan para siswa untuk membuat olahan sederhana dari tumbuhan obat yang ada di lingkungan sekitar.

Selain itu, sekolah mengedepankan penyebarluasan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai sarana penghijauan, perbaikan gizi, pemerataan pendapatan, penyebar gerakan penghijauan serta sebagai sarana keindahan pekarangan.

Berbagai produk kreasi siswa yang sudah dihasilkan antara lain jamu instan jahe, jamu instan temulawak, minuman kunyit, keripik katuk, puding binahong, minuman nata de aloe, hand sanitizer berbahan baku lidah buaya, masker bengkuang dan lainnya.

Antusiasme terlihat saat para delegasi mencicipi produk-produk siswa SMK Farmasi YPF. Salah satunya Delegasi Turki Multu Topal yang menyukai jamu instan jahe.

“Rasanya enak. Saya ingin mencobanya lagi,” ujar Multu.

Ketua Yayasan YPF N.Caryana mengatakan rasa terima kasih karena sekolah ini bisa dipercaya untuk menerima delegasi tamu-tamu asing dari OKI. Dia menambahkan hubungan dunia usaha, pendidikan dan industri harus terus terjalin.

Ini Alasannya Indonesia Perlu Jadi Center of Excellence Vaksin untuk OKI

By biofarma
Para peserta berfoto bersama dihalaman Gedung Heritage Bio Farma pada pembukaan Workshop Manajemen Vaksin Negara Islam, di Bio Farma, Kota Bandung, Selasa (15/11).
Para peserta berfoto bersama dihalaman Gedung Heritage Bio Farma pada pembukaan Workshop Manajemen Vaksin Negara Islam, di Bio Farma, Kota Bandung, Selasa (15/11).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG — Indonesia merupakan salah satu dari dua negara Islam yang telah mengantongi prakualifikasi WHO untuk vaksin yang diproduksi. Oleh karena itu, dalam pertemuan di Jedah pada Desember mendatang, Indonesia akan diajukan sebagai center of excellence di bidang vaksin untuk negara-negara Islam (OKI).

“Ada agenda yang sangat strategis yang sedang kita perjuangkan, yaitu membuat center of exellence. Ini yang kami ajukan di pertemuan-pertemuan OIC dan IDB,” ujar Presiden Direktur Bio Farma Iskandar saat ditemui dalam penutupan Workshop Manajemen Vaksin Negara Islam di Exhibition Hall Bio Farma, Kamis (17/11).

Iskandar mengatakan pusat penelitian bersama penting untuk dimiliki negara-negara Islam jika berharap vaksin halal. Iskandar mengatakan sulit unuk berharap halal jika masih mengandalkan pusat penelitian lain.

Oleh karena itu, Iskandar mengatakan negara-negara Islam perlu memiliki pusat penelitian sendiri. Dengan begitu, negara-negara Islam dapat melakukan penelitian sendiri dan menghasilkan teknologi. “Kalau bersama-masa, masa tidak bisa?” lanjut Iskandar.

Di sisi lain, keberadaan center of excellence di bidang vaksin bagi negara-negara Islam juga dapat mendukung kemandirian dalam hal produksi vaksin. Di Indonesia, Iskandar mengatakan sebagian besar bahan baku yang digunakan berasal dari luar negeri. Hal ini, lanjut Iskandar, masih mengindikasikan ketidakmandirian.

“Kalau ingin mandiri, harus punya center of excellence. Kalau tidak ada riset, jangan harap ada bahan baku obat yang seperti kita inginkan,” jelas Iskandar.

Saat ini, Indonesia bisa dikatakan sebagai salah satu negara-negara OKI yang unggul dalam hal produksi vaksin. Dari 57 negara-negara Islam, hanya tujuh negara yang sudah memiliki pabrik vaksin sendiri. Di antara tujuh negara tersebut hanya Indonesia dan Senegal yang sudag mengantongi prakualifikasi World Health Organization (WHO) untuk vaksin-vaksin yang diproduksi.

Indonesia memiliki belasan vaksin produksi Bio Famra yang sudah mengantongi prakualifikasi WHO. Senegal memiliki satu vaksin yang sudah mengantongi prakualifikasi WHO untuk vaksin demam kuning.

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum

Lima Negara Belajar dari Bio Farma

By biofarma
BANDUNG, KOMPAS ­ PT Bio Farma (Persero) memberi­kan pelatihan produksi vaksin bagi produsen vaksin serta badan pengawas obat dan makanan dari lima negara Para peserta pela­tihan itu dari lima negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam, yakni Iran, Banglades, Tnrki, Arab Saudi, dan Malaysia.
Pelatihan manajemen vaksin itu digelar pada 15-18 November 2016, di Kantor Bio Farma, Ban­dung, Jawa Barat. Menurut Di­rektur Utama Bio Farma Iskandar, Bio Farma didaulat berbagi ilmu dan pengalaman produksi serta manajemen vaksin, karena dinilai lebih maju dibanding pe­serta dari negara lain yang hadir. Sebab, Bio Farma telah meng­ekspor vaksin ke 130 negara.
Sekretaris Menteri Kemente­rian Sekretariat Negara RI Setia Utama memaparkan, program itu jadi bagian dari tergabungnya Indonesia dalam Organisasi Ker­jasama Islam (OKI). “Pelatihan ini untuk meningkatkan kemam­puan negara­negara Islam lain dalam OKI tentang vaksin,” ujar­nya, di Bandung, Kamis (17/11).
Dari 57 negara anggota OKI, ada 7 negara yang memproduksi vaksin, yang lalu tergabung da­lam Vaccine Manufacture Group (VMG), •yakni Indonesia, Arab Saudi, Tunisia, Maroko, Senegal, Mesir, dan Iran. Adapun 50 ne­gara lainnya lain belum bisa memproduksi vaksin.
Namun, menurut Iskandar, Bio Farma harus mengimpor ba­han baku vaksin. Untuk mewu­judkan kemandirian bahan baku produksi vaksin, pihaknya akan mengembangkan pusat studi vaksin. Kini, Bio Farma memiliki kapasitas produksi 2 miliar dosis per tahun, dan 60 persennya di­ekspor. Ada dua jenis produk Bio Farma yang diekspor, yakni vak­sin jadi dan vaksin setengah jadi atau bahan baku obat. (BKY)
Sumber : http://print.kompas.com/baca/sains/kesehatan/2016/11/19/Lima-Negara-Belajar-dari-Bio-Farma

Delegasi OKI Puji Jamu Indonesia

By biofarma

BANDUNG — Sebagai rangkaian dari Workshop Manajemen Vaksin Negara Islam yang diselenggarakan Bio Farma, para peserta yang berasal dari negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) melakukan kunjungan ke SMK Yayasan Pendidikan Farmasi (YPF) Bandung. Dalam kunjungan tersebut, para peserta mendapatkan kesempatan untuk mencicipi jamu yang diproduksi oleh para siswa SMK YPF Bandung.

Salah satu peserta workshop yang mencicipi jamu-jamu buatan siswa SMK YPF Bandung ialah Managing Director Keymen Ilac, O Mutlu Topal, asal Turki. Saya mencoba yang jahe. Rasanya enak,” ujar Topal saat ditemui di SMK YPF Bandung bersama Bio Farma, Jumat (19/11). Dalam kunjungan tersebut, YPF menyajikan beberapa jamu karya siswa. Selain jamu jahe instan, ada pula jamu temulawak instan, dan kunyit asam. Banyaknya pilihan tersebut membuat Topal tak sabar untuk mencicipi jamu lainnya.

Saya akan coba yang lain juga, ujar pria yang juga merupakan seorang dokter ini. Perwakilan industri farmasi Arabio, Mohammad Mosbah Khreibeh, juga menikmati kunjungan yang ia lakukan. Khreibeh mengapresiasi obat-obatan herbal yang menjadi salah satu fokus area yang diajarkan kepada siswa dan mahasiswa Indonesia.      Adysha Citra R, ed: Nina Chairani

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/koran/kesra/16/11/20/ogxno412-delegasi-oki-puji-jamu-indonesia

KEK CILETUH: Pemprov Jabar Siapkan Pengajuan ke Pusat

By biofarma

Bisnis.com, BANDUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Barat segera mengajukan kawasan geopark Ciletuh, Sukabumi, sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan rencana pihaknya mengajukan KEK Ciletuh ke pemerintah pusat akan segera disusun seiring dengan proses pihaknya mengajukan Ciletuh masuk dalam UNESCO Global Geopark.

“Rencananya Ciletuh kami ajukan sebagai KEK khusus kepariwisataan,” katanya di Bandung, Senin (28/11/2016).

Menurutnya dari kondisi geografis Ciletuh, kawasan tersebut layak diusulkan menjadi KEK karena bisa mendongkrak bangkitan ekonomi di wilayah Selatan.

Pemprov Jabar sendiri sudah menyusun sejumlah rencana agar kawasan seluas 126.000 hektar tersebut jadi magnet baru investasi. “Kita inginnya industri pariwisata, dari mulai resort, perhotelan hingga perdagangan,” ujarnya.

Heryawan menunjuk KEK Ciletuh bisa dirancang mirip dengan Tanjung Lesung atau Morotai dan Labuan Bajo. Potensi Ciletuh sebagai kawasan pariwisata terbuka lebar karena terbentang panjang sampai Ujung Genteng dan Pelabuhan Ratu.

“Ini kawasan yang meliputi 8 kecamatan 74 desa. Nanti izinnya akan diajukan khusus ke Kementerian Pariwisata dan Kementerian Koordinator Perekonomian,” paparnya.

Pemprov Jabar juga dikatakan Aher telah menyiapkan anggaran Rp 200-an miliar untuk pembangunan jalan di Ciletuh pada anggaran 2017.

Nantinya, sepanjang pinggir pantai akan dibangun akses sehingga memudahkan wisatawan dan pelaku usaha mengeksplorasi. “Sekarang aksesnya masih ada yang jelek. Pada 2017 kita perbaiki,” tuturnya.

Heryawan mengatakan pihaknya juga telah resmi menandatangi kerja sama dengan berbagai pihak. Antara lain dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi, PTPN VIII, Universitas Padjadjaran, PD Jawi, Forum Komunikasi Penggerak Pariwisata, dan Paguyuban Alam Pakidulan Sukabumi setelah menggandeng Bio Farma.

“Bentuk kerja sama kita bersama untuk terus mengembangkan Geopark Nasional Ciletuh menjadi UNESCO Global Geopark,” katanya.

Heryawan memastikan pengembangan kawasan Geopark Ciletuh terlebih dahulu diutamakan pada pembangunan akses ke lokasi mengingat jalan yang harus dilalui menuju Ciletuh masih sulit dilalui.

“Jalannya setapak ada juga jalan batu-batu, ada juga yang belum ada jalannya. Nanti jalan kita akan diperbesar. Dengan Perhutani, atau PTPN kita kerjasama. Masyarakat juga kerja sama,” ujarnya

Pemprov Jabar Siapkan Rp 200 Miliar untuk Infrastruktur Geopark Ciletuh

By biofarma

 

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan. Foto: Masnurdiansyah
Gubernur Jabar Ahmad Heryawan. Foto: Masnurdiansyah

Bandung – Pemprov Jabar menyiapkan dana sebesar Rp 200 miliar untuk pembangunan sektor infrastruktur di kawasan Geopark Nasional Ciletuh Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Alokasi anggaran tersebut mulai digulirkan pada 2017 mendatang.

Infrastruktur itu meliputi jalan dan jembatan. Sejauh ini Pemprov Jabar sudah melakukan pengembangan di lokasi tersebut.

“Sejak tahun lalu kita bangun jalan di sana senilai 90 miliar rupiah. Untuk 2017, kita anggarakan 200 miliar rupiah untuk jalan dan jembatan menuju Ciletuh,” ucap Gubernur Jabar Ahmad Heryawan atau Aher usai penandatanganan kesepakatan bersama pengembangan kawasan Geopark Nasional Ciletuh Palabuhanratu di Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Bandung, Senin (28/11/2016).

Menurut Aher, alokasi dana tersebut untuk ukuran tingkat Pemprov Jabar sangat besar. Jalan yang akan dibangun sepanjang pantai, mulai Pantai Loji Palabuhanratu hingga ke Puncak Darma.

“Dari Puncak Darma nanti akan turun ke bawah ke kawasan intinya Geopark Ciletuh,” kata Aher.

Menurut Aher, kondisi jalan saat ini di kawasan tersebut berupa setapak dan bebatuan. Jadi awal 2018 mendatang, masyarakat sudah bisa menikmati akses baru menuju kawasan Geopark Ciletuh.

Pemprov Jabar juga menandatangani kesepakatan bersama dengan pengembang di kawasan tersebut. Seperti dari Pemkab Sukabumi, PTPN VIII, PT Bio Farma, Bank BJB, Unpad, dan Forum Pariwisata. Targetnya, Geopark Ciletuh Palabuhanratu yang memiliki luas sekitar 126 hektare ini bisa mendunia. (bbn/bbn).

 

Sumber : https://news.detik.com/berita-jawa-barat/d-3356341/pemprov-jabar-siapkan-rp-200-miliar-untuk-infrastruktur-geopark-ciletuh[:en]