• Follow us
  • EN
    Flag Indonesia ID
    Flag English EN
Untitled design (6)
  • About Us
    • Company Profile
      • PT Bio Farma (Persero)
      • Kimia Farma Tbk (KAEF)
      • Indofarma Tbk (INAF)
      • PT INUKI (Persero)
    • History
    • Management
      • Commisioners
      • Directors
    • Research & Development
    • Our Achievement
      • Awards
      • Certification
    • Report
      • Annual Report
      • Sustainability
  • Product & Services
    • Our Distribution
    • Product & Services
      • Life Sciences
      • Providers of Health Services & Products
      • Trade, Distribution of Medicines & Medical Devices
    • Immunization Services
    • Cervical Cancer Screening Service
    • FAQ
  • Media & Information
    • News
      • All News
      • Global Roles
      • Products & Services
      • CSR
    • Health Articles
    • Health FAQ
    • Our Procurement
  • Corporation
    • Good Corporate Governance
    • Our Commitment
    • CSR
    • LHKPN
      • Lapor
  • Career
    • Recruitment
  • PPID
  • Contact Us
search

BANGUN KEKEBALAN SPESIFIK DENGAN VAKSIN

Wednesday, 25 November 2015

SETIAP Orang Tua selalu menginginkan anak-anaknya lahir normal dan tumbuh sehat dan optimal. Namun setelah lahir,bayi berpotensi tertular berbagai penyakit.                                                                                                                                                  Ada beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua agar kesehatan anak tetap terjaga. Diantaranya,dengan makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang. Selain itu, tidak lupa untuk menjaga kebersihan tangan,badan,pakaian,mainan,rumah,lingkungan,serta penyediaan air bersih untuk makanan dan minuman. Meskipun begitu,anak tidak serta merta bisa lepas dari risiko  tertularnya berbagai penyakit.Menurut dr.Soedjatmiko,.SpA(K)Msi,tubuh manusia memang mampu memproduksi antibody dengan sendirinya.Namun, waktu yang diperlukan tubuh  dalam membentuk kekebalan tubh terhadap suatu penyakit relative lamadan tidak spesifik.”Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan pemberian imunisasi lengkap dan teratur pada anak sejak dini,” ujar dr.Soedjatmiko SpA(K), anggota Satgas Imunisasi,Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). dr. Soedjatmiko menuturkan,dalam waktu 4-6 minggu setelah imunisasi akan timbul kekebalan spesifik yang mampu mencegah penularan penyakit.Dengan begitu,anak tidak mudah tertular penyakit berbahaya. Bila tertular pun tidak akan menjadi sakit berat, tidak menularkan pada bayi dan anak lain,sehingga tidak terjadi wabah serta tidak banyak kematian. Namun,di Indonesia pemberian vaksin atau imunisasi pada bayi masih mengalami beberapa kendala akibat kesalahan persepsi masyarakat. Wacana yang beredar menyebutkan, imunisasi berbahaya yang dapat menyebabkan autism dan dapat merusak otak.Anngapan  tersebut dibantah  oleh dr. Soedjatmiko . “Kadar antibody (Zat kekebalan) bayi dan anak yang telah diimunisasi bila diukur terbukti jauh lebih tinggi  daripada bayi anak yang tidak diimunisasi. Berarti,Imunisasi justru merangsang dan meningkatkan system kekebalan tubuh  agar system tersebut kelak mampu melawan  kuman yang masuk  ke dalam tubuh.” Kata Soedjatmiko yang dijumpai dalam workshop  bertajuk “School of Vaccine for Journalist” yang diadakan PT Bio Farma di Jogjakarta,beberapa waktu lalu. Semua vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Bio Farma Bandung,pabrik vaksin yang telah berpengalaman selama lebih 120 tahun.Proses penelitian  dan pembuatannya mendapat pengawasan ketat dari ahli-ahli vaksin  dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). “Vaksin yang diproduksi  oleh Bio Farma telah dijamin oleh WHO. Di samping itu justru produksi vaksin dalam negeri ini telah memenuhi pasar Indonesia dan telah memenuhi kebutuhan  lebih dari 123 negara di dunia termasuk 36 negara islam.” Ungkap M Rahman Roestan,Selaku Corporate Secretary Bio Farma. Para Ahli di 194 negara yang mengawasi program imunisasi di Negara masing-masing menyatakan, imunisasi terbukti bermanfaat mencegah wabah,sakit berat,cacat, atau kematian akibat penyakit menular tertentu. Oleh karena itu, sampai saat ini imunisasi masih tetap dilakukan secara rutin di seluruh dunia, bahkan di Negara-negara yang kaya yang bersih dengan gizi baik serta di Negara-negara miskin  dengan lingkungan yang kurang bersih. Semua Negara berusaha keras untuk mengimunisasi lebih dari 90% bayi dan balita,untuk mencegah wabah,sakit berat,cacat dan kematian. Di Indonesia ,Pemerintah menyediakan vaksin gratis melalui posyandu. Vaksin tersebut antara lain hepatitis B,Polio,BCG,DPT,dan Campak. Imunisasi yang belum disediakan gratis oleh pemerintah,antara lain rotavirus,pneumokokus,influenza, MMR,demam tifoid,cacar air,hepatitis A, kanker leher Rahim (HPV), vaksin anti rabies, meningokokus,dan demam kuning (Yellow fever). Kalau penyakit sudah jarang dan tidak mewabah,imunisasi masih tetap perlu diberikan  agar cakupan tetap tinggi.Penyakit yang dapat dicegah  dengan imunisasi menjadi sangat berkurang karena keberhasilan cakupan imunisasi yang tinggi (lebih dari 80% - 90% bayi balita diimunisasi) sehingga penularan terhenti, tidak dapt berkembang biak, tidak terjadi wabah. Kalau kemudian banyak bayi balita tidak diimunisasi, maka penyakit tersebut akan mewabah lagi dengan cepat menimbulkan cacat atau kematian. Contohnya saja penyakit polio, lebih dari 90% bayi balita diimunisasi sejak 2002 hingga 2005 sehingga angka penderita polio hampir tidak ditemukan lagi di Indonesia.

  • Larissa Huda
  • Media : Koran Sindo 15 May 2015

  Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi: N Nurlaela Head of Corporate Communications Department. PT Bio Farma (Persero) Jl. Pasteur No. 28 Bandung – 40161 Indonesia Phone : +62 22 2033755 ext. 37431 Fax : +62 22 2041306 Email : mail@biofarma.co.id Web : www.biofarma.co.id Twitter | Instagram | Youtube : @biofarmaID  

SETIAP Orang Tua selalu menginginkan anak-anaknya lahir normal dan tumbuh sehat dan optimal. Namun setelah lahir,bayi berpotensi tertular berbagai penyakit.                                                                                                                                                  Ada beberapa cara yang bisa dilakukan orang tua agar kesehatan anak tetap terjaga. Diantaranya,dengan makanan pendamping ASI dengan gizi lengkap dan seimbang. Selain itu, tidak lupa untuk menjaga kebersihan tangan,badan,pakaian,mainan,rumah,lingkungan,serta penyediaan air bersih untuk makanan dan minuman. Meskipun begitu,anak tidak serta merta bisa lepas dari risiko  tertularnya berbagai penyakit.Menurut dr.Soedjatmiko,.SpA(K)Msi,tubuh manusia memang mampu memproduksi antibody dengan sendirinya.Namun, waktu yang diperlukan tubuh  dalam membentuk kekebalan tubh terhadap suatu penyakit relative lamadan tidak spesifik.”Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan pemberian imunisasi lengkap dan teratur pada anak sejak dini,” ujar dr.Soedjatmiko SpA(K), anggota Satgas Imunisasi,Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). dr. Soedjatmiko menuturkan,dalam waktu 4-6 minggu setelah imunisasi akan timbul kekebalan spesifik yang mampu mencegah penularan penyakit.Dengan begitu,anak tidak mudah tertular penyakit berbahaya. Bila tertular pun tidak akan menjadi sakit berat, tidak menularkan pada bayi dan anak lain,sehingga tidak terjadi wabah serta tidak banyak kematian. Namun,di Indonesia pemberian vaksin atau imunisasi pada bayi masih mengalami beberapa kendala akibat kesalahan persepsi masyarakat. Wacana yang beredar menyebutkan, imunisasi berbahaya yang dapat menyebabkan autism dan dapat merusak otak.Anngapan  tersebut dibantah  oleh dr. Soedjatmiko . “Kadar antibody (Zat kekebalan) bayi dan anak yang telah diimunisasi bila diukur terbukti jauh lebih tinggi  daripada bayi anak yang tidak diimunisasi. Berarti,Imunisasi justru merangsang dan meningkatkan system kekebalan tubuh  agar system tersebut kelak mampu melawan  kuman yang masuk  ke dalam tubuh.” Kata Soedjatmiko yang dijumpai dalam workshop  bertajuk “School of Vaccine for Journalist” yang diadakan PT Bio Farma di Jogjakarta,beberapa waktu lalu. Semua vaksin yang digunakan oleh program imunisasi di Indonesia adalah buatan PT Bio Farma Bandung,pabrik vaksin yang telah berpengalaman selama lebih 120 tahun.Proses penelitian  dan pembuatannya mendapat pengawasan ketat dari ahli-ahli vaksin  dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). “Vaksin yang diproduksi  oleh Bio Farma telah dijamin oleh WHO. Di samping itu justru produksi vaksin dalam negeri ini telah memenuhi pasar Indonesia dan telah memenuhi kebutuhan  lebih dari 123 negara di dunia termasuk 36 negara islam.” Ungkap M Rahman Roestan,Selaku Corporate Secretary Bio Farma. Para Ahli di 194 negara yang mengawasi program imunisasi di Negara masing-masing menyatakan, imunisasi terbukti bermanfaat mencegah wabah,sakit berat,cacat, atau kematian akibat penyakit menular tertentu. Oleh karena itu, sampai saat ini imunisasi masih tetap dilakukan secara rutin di seluruh dunia, bahkan di Negara-negara yang kaya yang bersih dengan gizi baik serta di Negara-negara miskin  dengan lingkungan yang kurang bersih. Semua Negara berusaha keras untuk mengimunisasi lebih dari 90% bayi dan balita,untuk mencegah wabah,sakit berat,cacat dan kematian. Di Indonesia ,Pemerintah menyediakan vaksin gratis melalui posyandu. Vaksin tersebut antara lain hepatitis B,Polio,BCG,DPT,dan Campak. Imunisasi yang belum disediakan gratis oleh pemerintah,antara lain rotavirus,pneumokokus,influenza, MMR,demam tifoid,cacar air,hepatitis A, kanker leher Rahim (HPV), vaksin anti rabies, meningokokus,dan demam kuning (Yellow fever). Kalau penyakit sudah jarang dan tidak mewabah,imunisasi masih tetap perlu diberikan  agar cakupan tetap tinggi.Penyakit yang dapat dicegah  dengan imunisasi menjadi sangat berkurang karena keberhasilan cakupan imunisasi yang tinggi (lebih dari 80% - 90% bayi balita diimunisasi) sehingga penularan terhenti, tidak dapt berkembang biak, tidak terjadi wabah. Kalau kemudian banyak bayi balita tidak diimunisasi, maka penyakit tersebut akan mewabah lagi dengan cepat menimbulkan cacat atau kematian. Contohnya saja penyakit polio, lebih dari 90% bayi balita diimunisasi sejak 2002 hingga 2005 sehingga angka penderita polio hampir tidak ditemukan lagi di Indonesia.

  • Larissa Huda
  • Media : Koran Sindo 15 May 2015

  Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menghubungi: N Nurlaela Head of Corporate Communications Department. PT Bio Farma (Persero) Jl. Pasteur No. 28 Bandung – 40161 Indonesia Phone : +62 22 2033755 ext. 37431 Fax : +62 22 2041306 Email : mail@biofarma.co.id Web : www.biofarma.co.id Twitter | Instagram | Youtube : @biofarmaID  

  • Share to:
Download

Latest News

DSC09771
Tuesday, 9 December 2025
Bio Farma Receives Official Visit from the Governor of Victoria to Strengthen Strategic Cooperation in Health and Biotechnology
DCVMN
Wednesday, 5 November 2025
26th DCVMN AGM Successfully Held: Bio Farma and DCVMN Strengthen Global Collaboration to Build a Resilient and Inclusive Vaccine Ecosystem
WhatsApp Image 2025-10-30 at 13.39.28
Thursday, 30 October 2025
Strengthening Global Collaboration to Build a Resilient and Sustainable Vaccine Ecosystem
View more

Logo biofarma

Call Center 1500810

Head Office

Jl. Pasteur No. 28, Bandung 40161,
Jawa Barat Indonesia
+62 22-2033755
+62 22 - 2041306
mail@biofarma.co.id

Breeding Facility Bio Farma

Jl. Kolonel Masturi Kav 10. Desa Kertawangi kec. Cisarua
Jawa Barat

Bio Farma Representative Office

Gd. Pakarti centre Lantai 7
Jln. Tanah Abang 3 no.23-27
Jakarta Pusat

Information

  • Good Corporate Governance
  • Our Procurement
  • FAQ
  • Vaccine Production
  • Your Career

 

  • Contact Us
  • E-PPID
  • Announcement
  • Media Release

Quick Links

  • Portal BUMN-Bio
  • Kemenkes RI
Copyright © 2026. All Rights Reserved by Bio Farma

Change Language

EN
  • About Us
    • Company Profile
      • Company Profile
      • PT Bio Farma (Persero)
      • Kimia Farma Tbk (KAEF)
      • Indofarma Tbk (INAF)
      • PT INUKI (Persero)
    • History
    • Management
      • Commisioners
      • Directors
    • Research & Development
    • Our Achievement
      • Awards
      • Certification
    • Report
      • Annual Report
      • Sustainability
  • Product & Services
    • Our Distribution
    • Product & Services
      • Life Sciences
      • Providers of Health Services & Products
      • Trade, Distribution of Medicines & Medical Devices
    • Immunization Services
    • Cervical Cancer Screening Service
    • FAQ
  • Media & Information
    • News
      • All News
      • Global Roles
      • Products & Services
      • CSR
    • Health Articles
    • Health FAQ
    • Our Procurement
  • Corporation
    • Good Corporate Governance
    • Our Commitment
    • CSR
    • LHKPN
      • Lapor
  • Career
    • Career
    • Recruitment
  • PPID
  • Contact Us
  • Follow us
Change Language
  • Flag Indonesia ID
  • Flag English EN