• Follow us
  • EN
    Flag Indonesia ID
    Flag English EN
Untitled design (6)
  • About Us
    • Company Profile
      • PT Bio Farma (Persero)
      • Kimia Farma Tbk (KAEF)
      • Indofarma Tbk (INAF)
      • PT INUKI (Persero)
    • History
    • Management
      • Commisioners
      • Directors
    • Research & Development
    • Our Achievement
      • Awards
      • Certification
    • Report
      • Annual Report
      • Sustainability
  • Product & Services
    • Our Distribution
    • Product & Services
      • Life Sciences
      • Providers of Health Services & Products
      • Trade, Distribution of Medicines & Medical Devices
    • Immunization Services
    • Cervical Cancer Screening Service
    • FAQ
  • Media & Information
    • News
      • All News
      • Global Roles
      • Products & Services
      • CSR
    • Health Articles
    • Health FAQ
    • Our Procurement
  • Corporation
    • Good Corporate Governance
    • Our Commitment
    • CSR
    • LHKPN
      • Lapor
  • Career
    • Recruitment
  • PPID
  • Contact Us
search

Kasus Terus Naik, Konsorsium Kejar Kemandirian Vaksin Dengue

Monday, 14 November 2016

[:id]Pemberian vaksin demam berdarah (dengue) berpeluang menjadi program nasional seiring dengan percepatan riset yang dilakukan konsorsium sinergi pemerintah, akademisi, komunitas peneliti dan industri.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan juga sedang mengumpulkan data penurunan kasus dengue sejalan dengan program pemberian vaksin impor melalui uji klinik (clinical trial) di beberapa wilayah di Indonesia kepada anak-anak usia 9-16 tahun pada tahun 2017.

Hasil akhir program itu akan menjadi pertimbangan  bagi pemerintah untuk menjadikan pemberian vaksin dengue sebagai program nasional.

Proses riset di konsorsium terus berjalan melalui kegiatan rutin tahunan Forum Riset Vaksin Nasional (FRVN) yang berjalan sejak 2011 yang kemudian berubah nama menjadi Forum Riset Life Science Nasional (FRLN), 24-25 Agustus 2016 di Jakarta.

“Forum riset vaksin salah satunya menghasilkan konsorsium riset vaksin dengue, yang digarap perwakilan pemerintah, akademisi, dan industri. Meskipun memerlukan proses yang cukup lama, Bio Farma bersinergi dan melakukan percepatan untuk konsorsium vaksin dengue tersebut,”  kata Sugeng Raharso, Direktur Riset dan Pengembangan Produk Bio Farma.

Sugeng mengatakan konsorsium ini akan terus bekerja untuk mengembangkan vaksin dengue produk sendiri demi mengejar kemandirian vaksin dengue nasional.

Peneliti senior Bio Farma Neni Nurainy menambahkan sistem pendanaan riset vaksin dengue pada konsorsium bergantung pada daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) pemerintah yang diharapkan pencairan dananya bisa tepat waktu.

“Sistem administrasi tiap lembaga yang tergabung dalam konsorsium terkadang berbeda, sehingga menyulitkan. Selain itu, karena terbatasnya keahlian bidang ekspresi protein dengue serta lamanya waktu  impor bahan baku dan  habis pakai riset,” ucapnya.

Pemerintah menjamin beragam riset jangka panjang yang menjadi prioritas akan tetap berlanjut meski akan memakan waktu bertahun-tahun. Meskipun nantinya terjadi perlambatan ekonomi, pemerintah juga menyatakan riset berpeluang besar untuk tetap berjalan.

Neni mengatakan Industri dilibatkan sejak awal riset agar bisa menarik manfaat dan berbagi pembiayaan yang tercermin pada sistem konsorsium seperti konsorsium vaksin dengue yang melibatkan Bio Farma.

Dirjen Sumber Daya ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi Kemristek dan Dikti Ali Ghufron Mukti mengatakan pihaknya menganggarkan Rp 710 miliar untuk  sarana dan prasarana perguruan tinggi, turun dari anggaran 2015 sebesar Rp 1 triliun lebih.

Sementara itu, Balitbangkes juga dilaporkan akan terus mengalokasikan dana riset vaksin dengue karena telah menjadi program riset prioritas bidang penyakit infeksi bersamaan dengan riset penyakit lain antara lain HIV, tuberkulosis, malaria, dan influenza.

Seperti diketahui, statistik deman berdarah di Indonesia memang terus menunjukkan grafik naik.

Data kasus demam berdarah dalam lima tahun terakhir. Mencapai 65.725 kasus (2011), 90.245 kasus (2012), 112.511 (2013), 100.347 kasus (2014), dan 129.650 kasus (2015). Hingga 12 Oktober 2016, kasusnya mencapai 155.927.

***-***

Tentang Bio Farma

Bio Farma merupakan BUMN produsen Vaksin dan Antisera, saat ini berkembang menjadi  perusahaan Life Science, didirikan 6 Agustus 1890. Selama 126 tahun pendiriannya Bio Farma telah berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa, baik yang berada di Indonesia maupun mancanegara. Lebih dari 130 negara telah menggunakan produk Bio Farma terutama negara – negara berkembang, dan 47 diantaranya adalah negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Dengan kapasitas produksi sekitar 2 miliar dosis pertahun, Bio Farma telah memenuhi kebutuhan vaksin Nasional dan kebutuhan vaksin dunia melalui WHO dan UNICEF. Dengan filosofi Dedicated to Improve Quality of Life, Bio Farma berperan aktif dalam meningkatkan ketersediaan dan kemandirian produksi Vaksin di negara-negara berkembang dan negara-negara Islam untuk menjaga keamanan kesehatan global (Global Health Security). Informasi lebih lanjut www.biofarma.co.id

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:
N. Nurlaela Arief
Head of  Corporate Communications Dept.
Email : lala@biofarma.co.id
Bio Farma
Jl. Pasteur No. 28 Bandung
Telp : 62 22 2033755
Fax : 62 22 2041306[:en]Pemberian vaksin demam berdarah (dengue) berpeluang menjadi program nasional seiring dengan percepatan riset yang dilakukan konsorsium sinergi pemerintah, akademisi, komunitas peneliti dan industri.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan juga sedang mengumpulkan data penurunan kasus dengue sejalan dengan program pemberian vaksin impor melalui uji klinik (clinical trial) di beberapa wilayah di Indonesia kepada anak-anak usia 9-16 tahun pada tahun 2017.

Hasil akhir program itu akan menjadi pertimbangan  bagi pemerintah untuk menjadikan pemberian vaksin dengue sebagai program nasional.

Proses riset di konsorsium terus berjalan melalui kegiatan rutin tahunan Forum Riset Vaksin Nasional (FRVN) yang berjalan sejak 2011 yang kemudian berubah nama menjadi Forum Riset Life Science Nasional (FRLN), 24-25 Agustus 2016 di Jakarta.

“Forum riset vaksin salah satunya menghasilkan konsorsium riset vaksin dengue, yang digarap perwakilan pemerintah, akademisi, dan industri. Meskipun memerlukan proses yang cukup lama, Bio Farma bersinergi dan melakukan percepatan untuk konsorsium vaksin dengue tersebut,”  kata Sugeng Raharso, Direktur Riset dan Pengembangan Produk Bio Farma.

Sugeng mengatakan konsorsium ini akan terus bekerja untuk mengembangkan vaksin dengue produk sendiri demi mengejar kemandirian vaksin dengue nasional.

Peneliti senior Bio Farma Neni Nurainy menambahkan sistem pendanaan riset vaksin dengue pada konsorsium bergantung pada daftar isian pelaksanaan anggaran (DIPA) pemerintah yang diharapkan pencairan dananya bisa tepat waktu.

“Sistem administrasi tiap lembaga yang tergabung dalam konsorsium terkadang berbeda, sehingga menyulitkan. Selain itu, karena terbatasnya keahlian bidang ekspresi protein dengue serta lamanya waktu  impor bahan baku dan  habis pakai riset,” ucapnya.

Pemerintah menjamin beragam riset jangka panjang yang menjadi prioritas akan tetap berlanjut meski akan memakan waktu bertahun-tahun. Meskipun nantinya terjadi perlambatan ekonomi, pemerintah juga menyatakan riset berpeluang besar untuk tetap berjalan.

Neni mengatakan Industri dilibatkan sejak awal riset agar bisa menarik manfaat dan berbagi pembiayaan yang tercermin pada sistem konsorsium seperti konsorsium vaksin dengue yang melibatkan Bio Farma.

Dirjen Sumber Daya ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi Kemristek dan Dikti Ali Ghufron Mukti mengatakan pihaknya menganggarkan Rp 710 miliar untuk  sarana dan prasarana perguruan tinggi, turun dari anggaran 2015 sebesar Rp 1 triliun lebih.

Sementara itu, Balitbangkes juga dilaporkan akan terus mengalokasikan dana riset vaksin dengue karena telah menjadi program riset prioritas bidang penyakit infeksi bersamaan dengan riset penyakit lain antara lain HIV, tuberkulosis, malaria, dan influenza.

Seperti diketahui, statistik deman berdarah di Indonesia memang terus menunjukkan grafik naik.

Data kasus demam berdarah dalam lima tahun terakhir. Mencapai 65.725 kasus (2011), 90.245 kasus (2012), 112.511 (2013), 100.347 kasus (2014), dan 129.650 kasus (2015). Hingga 12 Oktober 2016, kasusnya mencapai 155.927.

***-***

Tentang Bio Farma

Bio Farma merupakan BUMN produsen Vaksin dan Antisera, saat ini berkembang menjadi  perusahaan Life Science, didirikan 6 Agustus 1890. Selama 126 tahun pendiriannya Bio Farma telah berkontribusi untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa, baik yang berada di Indonesia maupun mancanegara. Lebih dari 130 negara telah menggunakan produk Bio Farma terutama negara – negara berkembang, dan 47 diantaranya adalah negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Dengan kapasitas produksi sekitar 2 miliar dosis pertahun, Bio Farma telah memenuhi kebutuhan vaksin Nasional dan kebutuhan vaksin dunia melalui WHO dan UNICEF. Dengan filosofi Dedicated to Improve Quality of Life, Bio Farma berperan aktif dalam meningkatkan ketersediaan dan kemandirian produksi Vaksin di negara-negara berkembang dan negara-negara Islam untuk menjaga keamanan kesehatan global (Global Health Security). Informasi lebih lanjut www.biofarma.co.id

 

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi:
N. Nurlaela Arief
Head of  Corporate Communications Dept.
Email : lala@biofarma.co.id
Bio Farma
Jl. Pasteur No. 28 Bandung
Telp : 62 22 2033755
Fax : 62 22 2041306[:]

  • Share to:
Download

Latest News

DSC09771
Tuesday, 9 December 2025
Bio Farma Receives Official Visit from the Governor of Victoria to Strengthen Strategic Cooperation in Health and Biotechnology
DCVMN
Wednesday, 5 November 2025
26th DCVMN AGM Successfully Held: Bio Farma and DCVMN Strengthen Global Collaboration to Build a Resilient and Inclusive Vaccine Ecosystem
WhatsApp Image 2025-10-30 at 13.39.28
Thursday, 30 October 2025
Strengthening Global Collaboration to Build a Resilient and Sustainable Vaccine Ecosystem
View more

Logo biofarma

Call Center 1500810

Head Office

Jl. Pasteur No. 28, Bandung 40161,
Jawa Barat Indonesia
+62 22-2033755
+62 22 - 2041306
mail@biofarma.co.id

Breeding Facility Bio Farma

Jl. Kolonel Masturi Kav 10. Desa Kertawangi kec. Cisarua
Jawa Barat

Bio Farma Representative Office

Gd. Pakarti centre Lantai 7
Jln. Tanah Abang 3 no.23-27
Jakarta Pusat

Information

  • Good Corporate Governance
  • Our Procurement
  • FAQ
  • Vaccine Production
  • Your Career

 

  • Contact Us
  • E-PPID
  • Announcement
  • Media Release

Quick Links

  • Portal BUMN-Bio
  • Kemenkes RI
Copyright © 2026. All Rights Reserved by Bio Farma

Change Language

EN
  • About Us
    • Company Profile
      • Company Profile
      • PT Bio Farma (Persero)
      • Kimia Farma Tbk (KAEF)
      • Indofarma Tbk (INAF)
      • PT INUKI (Persero)
    • History
    • Management
      • Commisioners
      • Directors
    • Research & Development
    • Our Achievement
      • Awards
      • Certification
    • Report
      • Annual Report
      • Sustainability
  • Product & Services
    • Our Distribution
    • Product & Services
      • Life Sciences
      • Providers of Health Services & Products
      • Trade, Distribution of Medicines & Medical Devices
    • Immunization Services
    • Cervical Cancer Screening Service
    • FAQ
  • Media & Information
    • News
      • All News
      • Global Roles
      • Products & Services
      • CSR
    • Health Articles
    • Health FAQ
    • Our Procurement
  • Corporation
    • Good Corporate Governance
    • Our Commitment
    • CSR
    • LHKPN
      • Lapor
  • Career
    • Career
    • Recruitment
  • PPID
  • Contact Us
  • Follow us
Change Language
  • Flag Indonesia ID
  • Flag English EN