Bio Farma Perkuat Kolaborasi Indonesia Ghana untuk Membangun Ketahanan Kesehatan melalui Transfer Teknologi Vaksin

Bandung, 29 September 2026 – PT Bio Farma (Persero) terus memperkuat kolaborasi internasional dalam membangunketahanan kesehatan global sekaligus memperluas kontribusiIndonesia di tingkat internasional. Melalui kemitraan strategisdengan Atlantic Lifesciences (ALS), Ghana, Bio Farma menjalankan program transfer teknologi vaksin tetanus dan difteri (Td) untuk mendukung pengembangan kapasitasmanufaktur vaksin lokal di Ghana.
Kolaborasi tersebut menjadi salah satu bentuk kontribusiIndonesia dalam memperkuat kemampuan negara berkembang untuk membangun kapasitas produksi vaksinyang lebih mandiri dan berkelanjutan, khususnya di kawasanAfrika Barat.
Kerja sama Bio Farma dan ALS telah memasuki tahapimplementasi teknis setelah melalui rangkaian tahapanstrategis sejak penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pada Desember 2023, dilanjutkandengan penandatanganan Master Agreement Transfer Teknologi Vaksin Td pada September 2024, serta perjanjianimplementasi berupa Tech Transfer Agreement dan Sales Agreement pada Agustus 2025.
Melalui program ini, Bio Farma tidak hanya berperan sebagaipemasok vaksin, tetapi juga sebagai mitra teknologi dan pengembangan kapasitas manufaktur lokal. Bio Farma mendukung penyediaan teknologi, bantuan teknis, serta suplaiTd Final Bulk Ready to Fill (RTF), sementara ALS akanmengembangkan kapabilitas lokal untuk proses fill-finish, pengendalian mutu (Quality Control), pengemasan, registrasi, hingga manufaktur komersial di Ghana.
Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, menyampaikanbahwa penguatan ketahanan kesehatan membutuhkankolaborasi lintas negara yang tidak berhenti pada penyediaanproduk, tetapi juga membangun kemampuan produksi, sumberdaya manusia, dan ekosistem industri kesehatan yang berkelanjutan.
“Kemitraan Bio Farma dan Atlantic Lifesciences merupakanbentuk nyata kontribusi Indonesia dalam membangunketahanan kesehatan global. Melalui transfer teknologi, kami ingin tumbuh bersama mitra dengan membangun kemampuanmanufaktur dan sumber daya manusia, sehingga negara mitrasemakin memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhankesehatan masyarakatnya,” ujar Shadiq.
Menurut Shadiq, saat ini proyek tengah menuju salah satutahapan penting, yaitu Process Performance Qualification (PPQ) atau validasi proses, yang direncanakan berlangsungpada Oktober 2026 hingga Januari 2027. Tahapan tersebutselanjutnya akan diikuti oleh proses registrasi dan inspeksioleh Ghana Food and Drugs Authority (Ghana FDA) pada Januari hingga Mei 2027.
Apabila rangkaian validasi berhasil diselesaikan, data stabilitas memenuhi persyaratan, persetujuan regulator diperoleh, serta kesiapan pengadaan terpenuhi, pasokankomersial vaksin Td melalui fasilitas lokal di Ghana ditargetkan dapat dimulai pada tahun 2027.
Dalam jangka panjang, kolaborasi ini juga membuka peluangbagi Ghana untuk berkembang menjadi salah satu platform manufaktur dan pasokan vaksin bagi kawasan Afrika Barat. Pengembangan tersebut akan dilakukan secara bertahapdengan tetap mempertimbangkan ketentuan registrasi, regulasi, serta mekanisme di masing-masing negara.
Program transfer teknologi vaksin Td ini sekaligus menjadibagian dari pengembangan model bisnis Bio Farma berbasislicense-out dan technology transfer. Dengan pendekatantersebut, kontribusi Indonesia di pasar internasional tidakhanya diwujudkan melalui ekspor produk jadi, tetapi juga melalui transfer pengetahuan, teknologi, pengembangansumber daya manusia, serta penguatan kemampuan industrikesehatan negara mitra.
Kolaborasi Bio Farma dan ALS juga merupakan contohkonkret South-South Cooperation antara Indonesia dan Ghana di bidang ketahanan kesehatan, manufaktur lokal, sertapeningkatan kapasitas sumber daya manusia. Briefing Note sendiri menempatkan proyek ini sebagai salah satuimplementasi nyata kerja sama Indonesia-Ghana di bidanghealth security, local manufacturing, dan capacity building.
Sebagai bagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma juga terus mendorong agar kolaborasi internasional perusahaanmenghasilkan nilai yang lebih luas bagi masyarakat dan Indonesia. Pengembangan kapasitas manufaktur vaksindiharapkan dapat berkontribusi pada peningkatan aksesterhadap produk kesehatan, sekaligus memperkuat kapasitassumber daya manusia dan ekosistem kesehatan di negara mitra.
Kolaborasi ini menunjukkan kemampuan industri strategisIndonesia untuk membawa teknologi, pengetahuan, dan kapabilitas manufaktur ke pasar internasional. Model technology transfer dan license-out juga membuka ruang bagiBio Farma untuk memperluas model bisnis dan memperkuatdaya saing industri kesehatan Indonesia di tingkat global. Transfer teknologi dan pembangunan kapasitas lokaldiarahkan untuk menciptakan manfaat jangka panjang. Kolaborasi tidak berhenti pada penjualan produk, tetapi juga membangun kemampuan produksi dan pengetahuan yang dapat terus berkembang serta memberikan manfaat bagigenerasi mendatang.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia dapatberkontribusi lebih jauh dalam ekosistem kesehatan global. Bukan hanya melalui produk yang kami hasilkan, tetapi juga melalui teknologi, pengetahuan, dan kolaborasi. Sebagaibagian dari ekosistem Danantara, Bio Farma akan terusmendorong kinerja dan ekspansi internasional yang memberikan manfaat bagi kualitas hidup masyarakat, memperkuat daya saing Indonesia, serta menciptakan nilaiberkelanjutan,” tambah Shadiq.
Melalui kolaborasi dengan Atlantic Lifesciences, Bio Farma menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kolaborasidalam membangun ketahanan kesehatan sekaligusmemperkuat kontribusi Indonesia di tingkat internasional, dengan membawa kemampuan industri kesehatan nasionalsebagai bagian dari solusi atas kebutuhan kesehatan global.
--o0o--
Untuk Informasi Media, Hubungi:
Komunikasi Perusahaan
PT Bio Farma (Persero)
Corcom@biofarma.co.id
ID
EN